Tiga Kekhawatiran Masyarakat: Cabai, Beras, dan BBM


05 Januari 2011 - 12:00:00 WIB
Rubric :  EkonomiBisnis
Diposting oleh : Dinda Purnamasari (dinda@wartaekonomi.com)




 

Tahun 2011, baru saja berjalan lima hari, namun sayangnya masyarakat sudah harus berhadapan dengan realita bahwa harga-harga beberapa bahan makanan, dan juga bahan bakar minyak mulai merangkak naik.

 

Salah satu bahan makanan yang mengalami kenaikkan harga adalah cabe merah. Seperti dikutip dari situs inilah.com (4/1), Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati, menyatakan bahwa harga cabai memang kerap mengalami kenaikan apabila cuaca tidak menentu, ataupun perayaan Hari Besar. Dari pernyataan tersebut dapat dilihat betapa harga cabe merah sangat berpengaruh dengan cuaca. Di beberapa kota di Indonesia harga cabe merah sudah mengalami kenaikan hingga 100%. Seperti di Bandung, harga cabe merah telah sampai kepada Rp.60 ribu per kilogram. Di  kota-kota lain harga cabe merah ada yang menembus hingga angka Rp.80 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabe merah ini masih terus berlangsung dalam dua bulan terakhir, dan berdampak kepada naiknya inflasi mejadi 0,6%.

 

Sedangkang sulitnya mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand menyebabkan berkurangnya pasokan beras dalam negeri. Vietnam dan Thailand sebagai negara pengekspor beras terbesar pada 2010, mulai mengetatkan kuota beras yang diekspornya, hal itu dikarenakan adanya kekawatiran bahwa mereka akan kekurangan stok beras bagi negaranya sendiri. Untuk tahun 2011 ini Thailand maupun Vietnam akan menahan ekspor beras, guna memperkuat cadangan beras lokal mereka.

 

Adanya pengurangan jumlah stok beras yang diimpor oleh dua negara tersebut akan berdampak kepada meningkatnya harga beras di dunia. Akan tetapi, harusnya sebagai negara yang pernah beberapa kali melakukan swasembada beras, seperti di tahun 1985, 2007 dan 2008, harga beras Indonesia tidak terlalu terpengaruh terhadap fenomena tersebut. Sudah seharusnya untuk tahun 2011 ini, pemerintah harus menggenjot produksi beras dalam negeri, hal ini berkaitan dengan adanya potensi sulitnya impor beras. Selain itu diharapkan juga pemerintah dapat mengendalikan harga beras dalam negeri, serta mulai memanjakan petani dengan memberikan fasilitas yang memadai untuk mendukung meningkat produksi beras dalam negeri. Keadaan iklim yang tidak menentu, juga harus diperhatikan oleh banyak pihak, karena hal ini sudah pasti dapat berpengaruh terhadap produksi pangan dalam negeri

 

Terkahir, selain harga cabe merah, dan beras, masyarakat juga khawatir oleh adanya kenaikan harga BBM di tahun 2011 ini. Harga BBM nonsubsidi di tanah air, seperti Pertamax melonjak hingga Rp. 7.500 per liter. Seperti dikutip dari VIVAnews (4/1), meningkatnya harga Pertamax tersebut dikarenakan adanya kenaikkan harga minyak dunia dalam 26 bulan terakhir, . Hal ini diprediksi akan terus naik dan dapat menembus 100 dolar AS. Tentu saja hal ini akan berdampak pada meningkatnya harga Pertamax terus menerus.

 

Seperti dikutip dari poskota.com (4/1), adanya kenaikan harga BBM saat ini disebabkan, “juga” karena adanya perubahan cuaca yang ekstrim di Eropa. Hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhannya minyak mentah di Negara-negara di benua Eropa.

 

Adanya peningkatan harga BBM di pasar internasional secara terus menerus, disertai dengan akan adanya penerapan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi, akhirnya akan membuat pengguna mobil, akan beralih kepada subtitusinya yaitu motor. Karena lama kelamaan masyarakat kelas menengah akan mengalami kesulitan untuk membeli BBM dengan Pertamax atau Pertamax Plus. Selain itu, yang harus diperhatikan lagi adalah, ketika harga BBM naik maka, harga transportasi untuk proses distribusi juga akan naik, dan hal ini pada akhirnya akan berimbas kepada meningkatnya juga harga-harga produk lainnya. Terjadi atau tidak masyarakat harus sudah mulai waspada terhadap peningkatan harga ini.

 

Gilang Widya

(gilang@wartaekonomi.com)

 


.



counter widget


 

 

 

 




Event WE