Dilema Subsidi BBM (Part II)
.jpg)
Subsidi BBM, Ditarikkah?
Asumsi harga minyak mentah yang digunakan pemerintah saat ini adalah US$80 per barel. Harga minyak dunia saat ini memang sedang turun, namun tetap masih lebih tinggi dari asumsi harga yang ditetapkan di APBN. Sementara itu, sebentar lagi sudah masuk bulan Ramadhan, konsumsi BBM akan melonjak. Inflasi juga sedang dalam puncaknya, sehingga jika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi saat ini, bukanlah ide yang baik.
Itu jika dilihat dari sisi pengeluaran pemerintah. Dari sisi pendapatan, sebenarnya pemerintah juga menikmati lonjakan penerimaan dari hasil ekspor minyak mentah. Namun, pengeluaran pemerintah masih lebih besar yang digunakan untuk subsidi BBM dan impor BBM untuk konsumsi masyarakat karena kapasitas produksi BBM Pertamina masih belum bisa mencukupi permintaan.
BBM merupakan sumber daya strategis yang saat ini belum tergantikan oleh sumber energi alternatif lainnya. Walaupun beberapa upaya sedang dilakukan untuk mensubstitusi BBM dengan sumber energi alternatif, seperti gas dan bio fuel. Pembahasan mengenai masalah subsidi BBM menjadi masalah yang sangat sensitif karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Pengurangan subsidi BBM menjadi kebijakan yang sangat tidak populer.
Disinilah dilema yang dihadapi pemerintah. Di satu sisi, rakyat masih sangat membutuhkan subsidi BBM, walaupun subsidi tersebut tidak mengena ke orang miskin. Selain itu, dampak kenaikan harga BBM, dalam jangka pendek akan langsung dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Inflasi dipastikan akan meroket karena kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga barang lain. Di sisi lain, pemerintah sangat terbebani dengan pengeluaran subsidi BBM yang kian membengkak.
Jika pemerintah menaikkan harga BBM, harus ada kompensasi bagi penduduk miskin dalam bentuk lain agar penduduk miskin tidak semakin miskin. Pemerintah dapat memanfaatkan dana yang dihemat dari subsidi BBM untuk investasi di sektor lain, misalnya pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia (sdm) melalui pendidikan murah dan layanan kesehatan gratis.
Memang, benefit pengeluaran di sektor ini tidak akan langsung dirasakan, efeknya cenderung bersifat jangka panjang. Namun, manfaatnya akan sangat besar untuk mensejahterakan rakyat. Pembangunan infrastruktur akan mengeliminasi ekonomi biaya tinggi (high cost economy) karena orang akan menghabiskan waktu yang lebih sedikit di jalan karena kondisi infrastruktur yang buruk, yang juga berarti penghematan konsumsi BBM. Sedangkan pembangunan SDM akan menciptakan generasi yang berkualitas.
Tetap Optimis
Terlepas dari ancaman defisit anggaran yang menunggu di depan, perekonomian Indonesia sebenarnya sedang dalam kondisi yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir, inflasi yang relatif rendah, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus terapresiasi.
Ketua PSEKP UGM Tony Prasetyantono berpendapat, dengan segala dinamika yang berkembang saat ini, perekonomian Indonesia diprediksi akan membaik pada semester I.
Perekonomian dunia diperkirakan mulai tenang seiring dengan penyelamatan Yunani. Stabilitas dan tumbuhnya kepercayaan perekonomian dunia akan mendorong penurunan harga minyak meski tidak bisa kembali ke level US$80 per barel, dan perekonomian Indonesia memasuki siklus belanja tinggi, yang antara lain dipicu oleh pencairan dana APBN. Mengutip komisaris Indomobil Group Gunadi Sindhuwinata, lonjakan pemakaian BBM bersubsidi lebih banyak disebabkan oleh kesemrawutan yang tidak pernah dibenahi pemerintah secara konsisten.
Happy Fajrian
(Tulisan ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi Nomer 14 tahun 2011)
Foto:i-berita.com