Outlet Binaan Pertamina di Cibubur Square


26 Agustus 2011 - 10:00:00 WIB
Rubric :  csr
Diposting oleh : Arief Hatta (hatta@wartaekonomi.com)




PT PERTAMINA (Persero) sebagai salah satu BUMN yang mengemban amanah untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah, kini membuka dua outlet yang diberi nama SME Gallery Fashion, Acessoris & Handicraft dan SME Gallery Food & Beverage di wilayah Rest Area Cibubur Square (22/6).

Acara peresmian outlet ini dibuka oleh Hari Subagya selaku Vice President SMR & SR Partnership Program, Manager SME & SR Region I Yoke Syamsidar, dan Manager SME & SR Region II Gatot. Outlet ini diharapkan menjadi ajang promosi bagi para mitra binaan Pertamina untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

Untuk SME Gallery Fashion, Acessoris & Handicraft, Pertamina bekerjasama dengan para mitra binaan diantaranya Dara Baro, Batik Haura, Batik Naura, Batik Prabu, Kimi, dan Jemia. Di Gallery ini disediakan beragam produk fashion berupa baju batik, kemeja batik, kain batik, mukena dengan corak menarik dan model terbaru. Tak ketinggalan, produk home appliances juga disediakan di galeri ini, seperti tempat tisu, taplak meja, dan lain-lain.

Sedangkan di Gallery Food & Beverage disediakan beragam panganan seperti Belut goreng, kue-kue kering, coklat dan minuman Jahe herbal merah dan Jahe putih. Produk-produk ini didapat dari  JNC Cookies, Smile Cookies, dan Waroeng Coklat, yang juga merupakan mitra binaan Pertamina Region Jawa Bagian

Sampai saat ini, Pertamina telah membina sekitar 95.000 mitra binaan, melalui program SME & SR (Small & Medium Enterprise Scale & Social Responsibility) Program. Kegiatan yang difasilitasi oleh Pertamina terhadap mitra binaannya diantaranya berupa mengadakan pelatihan dan pameran baik di dalam dan luar negeri.


Review Warta Ekonomi:
Pembukaan outlet UKM binaan Pertamina di Rest Area Cibubur Square merupakan kelanjutan dari Program Kegiatan Bina Lingkungan dan UMKM. Meskipun PKBL dan UMKM adalah kewajiban bagi setiap BUMN, nyatanya kegiatan itu juga memberikan keuntungan ekonomis bagi perusahaan. Karena pada akhirnya program PKBL dilakukan dalam perspektif jangka panjang perusahaan atau menjadi bagian integral dari strategi korporat dalam melanggengkan bisnisnya.


Komentar Jalal, Direktur Lingkar Studi CSR / A+ CSR Indonesia:

Penilaian kepada HSBC tampaknya belum bisa disematkan kepada Pertamina. Sudah sangat jelas bahwa dalam uji materialitas isu untuk perusahaan-perusahaan migas ditunjukkan adanya tuntutan untuk bergeser menjadi perusahaan penyedia energi. Untuk bergeser menjadi demikian, sebuah perusahaan migas harusnya menunjukkan komitmen tertinggi atas tiga hal: efisiensi energi, efikasi energi (pergeseran yang cepat ke arah energi baru dan terbarukan), serta offset atas emisi karbon yang dihasilkan oleh proses produksi maupun produknya. Nah, dalam ketiga hal tersebut belum tampak upaya Pertamina yang signifikan. Kampanye efisiensi energi belum tampak serius dilakukan. Bentuk-bentuk energi baru dan terbarukan belum juga cukup cepat diupayakan oleh Pertamina. Proporsi energi baru dan terbarukan masih kelewat sedikit dibandingkan produksi berbasis bahan bakar fosil.

Akibatnya, ketika kita menyaksikan Pertamina melakukan kegiatan-kegiatan promosi UMKM, banyak di antara kita kemudian juga mempertanyakan, apakah Pertamina sedang melakukan kegiatan-kegiatan itu untuk mengalihkan perhatian kita, agar Pertamina tak dituntut untuk mengurusi dampak bisnis intinya yang membahayakan masa depan umat manusia? Apakah mereka sesungguhnya sebagai BUMN hanya sedang menghabiskan dana PKBL-nya saja? Tentu pertanyaan-pertanyaan itu belum tentu dijawab dengan konfirmasi. Namun, seandainya Pertamina sudah sangat serius mengurusi efisiensi energi, efikasi energi, serta offset dari dampak karbon-nya, pasti pertanyaan berlandaskan kecurigaan itu tak akan muncul. Jadi, pemangku kepentingan yang paham betul mengenai CSR sesungguhnya sedang menunggu-nunggu Pertamina untuk membuktikan dirinya bervisi jauh ke depan, dan mengubah dirinya sebagai perusahaan energi.

Singkat kata, para pengamat mungkin berkesimpulan bahwa CSR HSBC sudah sampai pada tahap responsible business. Sementara, Pertamina tampaknya masih ada di tahapan responsibility project.

DINA KARINA SEPTYANI

(Tulisan ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi Nomer 14 tahun 2011)

 

 


Berita Rubric Terkait
.



counter widget


 

 

 

 




Event WE