Saya Tak Mau Terperangkap Hanya Sebagai Cucu Pendiri Astra
Keluarga Soeryadjaya adalah nama besar di pentas bisnis nasional. Kesuksesan almarhum William Soerjadjaja dalam merintis dan membesarkan Grup Astra menjadikan dirinya sebagai sosok konglomerat yang disegani di Indonesia. Kala ia dan keluarganya terpaksa harus melepas kepemilikan Grup Astra pun, pamornya tak meredup. Keberhasilan anak-anaknya mengembangkan bisnis masing-masing membuat keluarga Soeryadjaya tetap diperhitungkan. Kini kejayaan bisnis keluarga Soeryadjaya diteruskan oleh generasi ketiga, yakni David Soeryadjaya, yang mengembangkan bisnis migas dan logistik. Seperti apakah kiprah bisnis pria kelahiran tahun 1978 ini? Berikut wawancara Fadjar Adrianto, Jajang Yanuar Habib, dan fotografer Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi dengan pria yang sudah berkeluarga dengan satu anak ini di kantornya, Jumat sore (1/7). Petikannya:
Apa latar belakang Anda tertarik di bisnis minyak?
Saya sejak awal tertarik bisnis resources secara umum. Waktu saya kembali dari Amerika Serikat ke sini, saya tertarik dua bisnis, yaitu asuransi karena background saya di AS adalah di bidang itu dan resources karena di Indonesia ini yang banyak adalah bahan alam. Setelah itu, saya pelajari aneka pertambangan seperti besi, emas, batu bara, migas, dan kemudian saya merasa bahwa kesempatan yang paling bagus untuk saya itu di migas. Karena di bidang resources lain, saya merasa bahwa barrier to entry-nya itu kurang.
Di batu bara, misalnya. Hampir setiap orang yang punya truk dan cangkul bisa mengambil batu bara dengan mudah, seperti di Kalimantan. Dari segi science dan peralatannya, semua orang bisa. Makanya, perusahaan lokal batu bara banyak. Kalau tidak salah, yang produksinya di atas 1 juta ton, ada 34 perusahaan. Saya melihat mineral lainnya juga sama.
Yang saya suka sekali itu adalah minyak karena pada waktu saya masih di sekolah, saya belajar geologi cukup banyak dan di situ banyak yang bisa saya pelajari. Walaupun saya bukan geologist, karena saya sebenarnya berdiploma akuntan, tetapi bagi saya, dari segi science atau teknik, migas itu yang paling menarik. Karena kalau kita tanya kepada 10 orang tentang gambar seismik, maka opini dari 10 orang itu boleh jadi berbeda semua. Karena itulah bisnis minyak tidak gampang, berbeda halnya dengan mineral yang sangat dekat dengan permukaan bumi. Bahkan, temuan minyak, kalau sudah kita drill, skalanya pun masih harus kita estimasi semua.
Selain itu?
Jadi, pertama, selain dari segi teknik menarik, kedua, saya merasa masih ada kesempatan bagi perusahaan yang dijalankan oleh warga negara Indonesia untuk bisa sukses di bidang migas. Kalau pendanaannya kuat, dijalankan secara disiplin, fokus, dan mungkin ditambah sedikit keberuntungan, kita bisa sukses di bisnis ini.
Kalau dilihat dari segi kesempatan, peluang di migas ini masih besar. Perusahaan minyak besar memang tidak lebih dari 10 perusahaan, tetapi kalau perusahaan start up seperti kami, jumlahnya banyak. Tinggal kita lihat, 5 tahun dari sekarang, seperti apa perkembangannya.
Bisnis migas makin menantang karena dari legal, bisnis migas juga paling kompleks. Navigasi dari segi sosial dan kepemerintahannya pun tidak gampang, apalagi bagi orang asing. Kita tahu sendiri setiap daerah kita punya kultur berbeda-beda. Kalau mulainya tidak beres, selanjutnya juga tidak akan beres. Jadi, tantangannya banyak, tetapi ini justru sungguh menantang bagi saya.
Misalnya, kalau kita memenangkan blok minyak, itu sebenarnya bukan menang aset, kita baru menang kewajiban, karena kita menang berdasarkan janji. Misal yang terakhir blok West Jambi, kita janji ke pemerintah bahwa dalam 3 tahun ke depan kami akan melakukan seismik, drilling, dan studi lanjutannya. Itu kalau dihitung-hitung total spending kami 3 tahun ke depan sekitar US$20 juta. Setelah itu, mungkin baru kelihatan apakah ada minyak atau gas di bawahnya. Bisa saja setelah spending banyak, tidak ditemukan apa-apa. Ya sudah tutup. Makanya, tidak banyak yang berani dan umumnya para pemainnya tidak memakai uang sendiri, melainkan raising fund menggunakan uang market. Untuk raising fund pun jelas tidak gampang.
Jadi, boleh dibilang Anda ini tergolong investor dengan resiko tinggi?
Boleh.
Anda punya bisnis lain?
Kami 100% di Ramba Energy. Tapi, tidak hanya migas, karena perusahaan ini ada bisnis logistiknya. Bisnis inilah yang mengurangi resiko kami. Di bisnis migas, kami investasi besar dan belum tentu terima apa-apa. Sebaliknya, di bisnis logistik investasinya tidak besar, tetapi kliennya banyak dan resikonya jauh lebih rendah. Memang marginnya rendah juga, tapi untuk sementara dari bisnis itu ongkos kami ditutupi. Jadi, kami punya safety net kalau terjadi apa-apa. Bisnis logistik kami di Singapura secara pasar adalah salah satu yang terbesar.
Bagaimana kinerja perusahaan Anda ini?
Dari tahun 2008 ke 2009 itu flat karena waktu itu ada krisis global. Akan tetapi, dari 2009 ke 2010 revenue kami tumbuh hampir 50%. Tahun 2011 kami naik paling tidak 10-20%. Kalau dari segi profit and loss, untuk sementara kami lagi loss, karena perusahaan sedang growing. Banyak profit yang kami jadikan investasi. Kami sedang hiring banyak profesional. Investasi ke sumber daya manusia dan yang lain-lain ini yang tidak semuanya bisa dengan mudah dikapitalisasikan.
Anda punya guru, mentor atau idol untuk migas ini?
Saya banyak belajar dari sejumlah orang yang saya anggap guru, termasuk ayah saya sendiri. Karena keluarga kami sebenarnya pernah masuk bisnis migas. Dari zaman Astra juga sudah ada, tapi tidak pernah dikembangkan dengan intensif. Ada beberapa blok yang dikelola pada waktu itu.
Pada waktu zaman ayah saya masih aktif, ia juga menjalankan beberapa perusahaan pertambangan di Kanada dan menemukan minyak di Mongolia. Itu sudah produksi. Tapi, masalahnya, pada akhir 90-an, waktu mereka masuk ke bisnis minyak, harga minyak hanya US$25 per barel. Bahkan, waktu mereka mulai produksi, harga minyak dibawah US$10 per barel, padahal untuk break even saja harga minyak harus US$12 per barel.
Jadi, di bisnis resources, market factor sangat berpengaruh. Sekarang di bisnis komoditas lagi untung. Akan tetapi, ingat pada tahun 2008 dan 2009 harga minyak bergerak dari US$140 per barel ke bawah US$41 per barel, sehingga banyak perusahaan di seluruh dunia tidak bisa survive. Karena mereka waktu membuat financial planning, harga minyak yang ditetapkan paling rendah US$50 per barel. Mereka terlanjur melakukan budgeting ke depan, terutama untuk cost, dalam harga tersebut, sehingga kalau turun di bawah itu, tentu ada dampaknya dan mereka mesti banyak melakukan revisi proyek.
Berapa harga minyak dunia ke depan menurut Anda?
Terus terang saya bukan economist, sehingga tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Tapi, kalau kita lihat dari kebutuhan, kebutuhan dari Cina naik terus. Gara-gara kebutuhan ini, kemungkinan harga minyak akan bertahan di atas US$80 per barel.
Karena ternyata keluarga Anda pernah masuk di bidang migas sebelumnya, apakah ini artinya ada kompetensi keluarga yang Anda coba bangkitkan kembali?
Hahaha.. untuk hal ini ada yang lucu karena di sini ada beberapa orang yang sejak lama pernah bekerja bersama dengan pendiri Astra di Grup Astra dahulu dan kini mereka kembali bekerja dengan cucunya pendiri Astra.
Berat tidak menyandang status sebagai cucu Om Willem?
Ya, pasti. Kalau dipikir-pikir, bisnis saya jadi seolah-olah hampir di-set untuk gagal. Coverage opa saya luas sekali, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga global. Banyak orang yang mengenalnya mulai dari London sampai New York. Jadi, kalau perbandingannya atau ekspektasinya sudah seperti itu, jelas berat. Akan tetapi, saya juga tidak mau terperangkap ke situ. Saya tidaklah hidup untuk menuju ke arah sana, saya mencoba menjalankan bisnis dan kehidupan sendiri semampu yang saya bisa.
Namun apakah Anda juga memiliki keuntungan sebagai cucu Om Willem?
Ya, itu adalah sesuatu yang tidak bisa denied. Itu saya ada head start di sini. Saya dikenalkan dan kenal banyak orang. Sehingga, saya ada akses. Itu salah satu competitive edge saya. Tapi, kalau akses saja, tetapi tidak bisa dikelola dan kita sendiri tidak bisa membangun usaha sendiri, ya orang lain juga tidak mau berurusan. Jadi, kita juga mesti kerja keras untuk membangun image sendiri.
Family values seperti apa yang diwariskan kakek Anda?
Give back to community. Itu setiap anggota keluarga tahu. Kami diamanatkan untuk give back di tempat dimana kami beroperasi karena di situ kami mencetak uang. Kalau tempat atau daerah itu kumuh atau berantakan, pasti akan ada efeknya ke kami. Saya katakan daerah itu termasuk negara. Kalau negaranya semakin stabil, kami juga dapat efek sampingnya yang positif. Kalau kita hanya memikirkan diri sendiri, siapa yang memikirkan orang lain? Itu salah satu nasehatnya.
Pernah diberi nasehat langsung oleh kakek Anda?
Pernah. Dibanding sepupu-sepupu saya, saya cucu paling tua. Jadi, saya yang spending time paling lama. Berdua dengan salah satu sepupu saya yang usianya hanya 8 bulan lebih muda dari saya. Kami berdua sama-sama belajar banyak hal dari Opa dan waktu itu saya sering tidur di kamarnya. Bahkan, sampai beberapa tahun yang lalu, kalau saya ada di Jakarta, karena waktu itu saya tinggal di luar negeri sampai sebelum 2007, saya selalu menginap di kamarnya Opa. Nasehatnya itu tadi, give back to community. Makanya ia juga dikenal dermawan. Namun, secara bisnis memang harus seperti itu. Sering orang melihatnya hanya sebagai cost saja, padahal itu sebenarnya investasi.
Di Ramba, bergabung juga beberapa pengusaha muda Indonesia. Apakah ini disengaja?
Bukan by design, memang ada yang seusia saya, tetapi ada juga yang sudah punya cucu. Kami hanya attract orang-orang yang profesional dan kami bekerja secara tim. Seperti Banyu Biru, selain sudah kenal sejak lama, Banyu itu sejak dulu di drilling, jadi secara natural dia mengerti soal bagian drilling dan dia juga bisa membantu saya memonitor.
Apa kunci sukses Anda sehingga bisa meraih kepercayaan dari investor dan para profesional itu?
Saya simplified saja tujuan kami itu apa, yaitu bahwa kami akan membangun perusahaan minyak. Kami sudah pegang di tangan ada tiga aset, West Jambi, Jati, dan Lemang. Jadi, sekarang tinggal mereka menilai aset kami itu bagus atau tidak. Kalau dinilai tidak bagus, jual saja sahamnya. Namun, kalau melihat aset kami bagus, silakan beli saham kami. Yang jelas, saya berusaha membuktikan bahwa saya itu displin dan tahu apa yang harus dikerjakan dalam mengembangkan ini untuk meyakinkan bahwa ini aset yang bagus.
Bagaimana Anda melihat Astra?
Ya itu perusahaan yang bagus dan sudah establish. Karena makin besar, akhirnya mereka memiliki personality sendiri. Hidupnya juga sudah hidup sendiri, sudah kayak mesin dan meraksasa. Karena memang Astra didesain seperti itu dan labanya juga sudah besar sekali. Setelah Opa tidak ada hubungannya lagi dengan Astra, perusahaan itu jalan terus, selain makin efisien, makin besar juga.
Ramba akan dibuat seperti itu?
Yang pasti Ramba akan dibesarkan. Kalau step-step kami betul, mestinya akan seperti itu. Yang saya tidak tahu itu arahnya komoditas minyak yang sekarang lagi oke.
Anda tertarik dunia politik?
Menonton politik suka. Saya harus aware soal politik karena bisnis minyak dunia tidak jauh dari itu. Kita mesti pintar-pintar membawa diri dan mesti memonitor terus. Misalnya saja policy di bidang migas. Terus terang saja, buat investor di bidang ini, policy yang ada kurang menarik. Soalnya, bujet mereka umumnya terbatas, sementara rezim fiskal yang ada di sini membuat keuntungan mereka setelah dikurangi biaya, mungkin hanya mendapat sekitar 15%, sehingga mereka memilih lebih baik berinvestasi ke negara-negara lain yang bisa memberikan keuntungan lebih besar.
Anda tertarik masuk ke sektor downstream?
Itu susah buat saya.
Terakhir, bagaimana prediksi Anda terhadap perekonomian ke depan?
Indonesia sih saya lihat positif. Yang saya khawatirkan itu ekonomi global. Cina saya kira juga positif, tapi tetap harus hati-hati karena bagaimanapun tingkat konsumsi mereka terus tinggi, suatu saat pasti turun. Kalau Cina tetap stabil, maka Indonesia akan oke. Saya juga memonitor Eropa dan AS. Kalau pergerakan di Eropa dan AS menjalar ke Cina, maka akan menular juga ke Indonesia. Jika mereka bisa lebih stabil, Indonesia akan aman.
(Artikel ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi Nomer 16 tahun 2011)