Saatnya TPT Berhias Diri di Muka Perbankan (Part I)
.jpg)
Gempuran TPT dari Cina menjadi masalah besar bagi TPT domestik. Masalah kedua adalah kebutuhan bunga murah perbankan untuk menghadapi risiko bisnis ke depan.
Tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan sektor usaha yang memiliki keragaman (varian) yang banyak, mulai dari hulu hingga hilirnya. TPT sebenarnya juga industri yang strategis dan potensial. Bagaimana tidak, selain pasar yang sangat luas (artinya, banyak industri lain memiliki kaitan dengan industri TPT sebagai mata rantai bisnis), TPT juga mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Paling tidak, industri tersebut menyerap tenaga kerja sekitar 1,4 juta orang pada tahun 2010 yang tersebar di industri serat (fiber), benang (yarn), kain (fabrics) dan garmen. Kurang lebih industri tersebut menyerap 10% tenaga kerja pada sektor manufaktur yang berjumlah 13,8 juta orang.
Konsumsi domestik, khususnya konsumen rumah tangga, juga menjadi acuan yang cukup berarti untuk menunjukkan bahwa TPT memang industri potensial. Berdasarkan informasi yang dilansir Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pengeluaran rumah tangga tercatat Rp3.642 triliun pada tahun 2010. Sekitar 3,33% dari pengeluaran rumah tangga atau senilai Rp120,1 triliun dibelanjakan untuk produk pakaian, alas kaki dan tutup kepala. Dari total pengeluaran untuk tiga jenis produk tersebut, diperkirakan sekitar 65% atau senilai Rp83,2 triliun dibelanjakan untuk produk tekstil.
Selain potensi-potensi dalam negeri yang dapat menyerap produksi TPT, menakar kemampuan industri dalam negeri menjadi hal yang penting, yakni menyorot bagaimana kesiapan industri TPT sejauh ini dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan domestik. Mayoritas bahan baku industri TPT bergantung dari luar negeri, sekitar 90% kebutuhan bahan baku dipasok dari luar negeri. Secara umum, pergerakan impor relatif lebih cepat dan besar bila dibandingkan dengan kinerja ekspor industri ini, termasuk di dalamnya bahan baku serat, benang maupun kain.
Berdasarkan data terakhir, pada kuartal pertama tahun 2011 nilai ekspor mengalami perubahan kenaikan hanya sebesar 28,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, nilai impor bergerak dengan perubahan kenaikan 75,1% dibandingkan periode yang sama. Kesimpulan serupa bisa diperoleh pada perubahan jumlah TPT yang diekspor maupun impor. Jumlah ekspor justru merosot sekitar 1,8%, sementara jumlah impor mengalami kenaikan sekitar 26,9% pada tahun 2011.
Cina (Masih) Biangnya
Cina masih menjadi negara penyokong besar impor TPT Indonesia. Negeri Tirai Bambu ini melahap porsi hingga 27% dari total impor pada tahun 2010. Paling tidak, kontribusi impor asal Cina hingga US$1,7 miliar mengingat total impor pada tahun tersebut mencapai US$6,1 miliar.
Rata-rata pertumbuhan impor TPT di Indonesia sekitar 10% setiap tahunnya. Besarnya porsi sokongan dari Cina pada impor tahun lalu jelas menjadi penanda besarnya aliran produk-produk TPT Cina masuk ke Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan, bahkan kemungkinan besar, produk TPT dari Cina bakal meraup porsi yang lebih besar ke depan.
TPT dari Cina yang berharga murah memang menjadi tantangan besar bagi TPT domestik. TPT domestik ditantang untuk lebih efisien di tengah pusaran kompetisi terbuka. Alhasil, tantangannya menjadi ganda, yakni memperbaiki internal untuk peningkatan efisiensi dan menawarkan harga yang kompetitif dengan mengalirnya produk TPT asal Cina. Titik jenuh produk-produk tekstil asal negeri Tirai Bambu ini sepertinya belum tercapai di Indonesia.
Menyikapi ini, di dalam negeri terlontar sejumlah pandangan yang menilai bahwa banjirnya produk-produk Cina ke Indonesia terutama disebabkan oleh perdagangan yang tidak fair yang mengakibatkan TPT domestik sulit menjadi “tuan di rumah sendiri”. Namun, fakta bahwa produk-produk Cina yang murah mau tak mau menjadi tantangan besar bagi industri domestik untuk mengejar daya saing produk-produk asal Cina itu. Artinya, mereka harus segera mengantisipasinya, jangan menunggu impor TPT asal Cina menyokong pasar dalam negeri hingga dominan di atas 50%.
Arif Hatta dan Sucipto
(Artikel ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi Nomer 16 tahun 2011)
Foto: id.88db.com