Saatnya TPT Berhias Diri di Muka Perbankan (Part II)


11 Oktober 2011 - 12:00:00 WIB
Rubric :  indikator
Diposting oleh : Arief Hatta (hatta@wartaekonomi.com)




Mata Rantai yang Retak

Ketergantungan pada bahan baku dari luar negeri merupakan fakta TPT Indonesia saat ini. Harga internasional yang menjadi patokan tidak bisa “diutak-atik”. Oleh karena itu, hilirisasi industri TPT menjadi kunci pertumbuhan industri tersebut. Sejauh ini, rata-rata tingkat utilisasi industri TPT mencapai di atas 70% dalam setiap tahunnya. Artinya, TPT pada dasarnya terus melakukan ekspansi usaha bila melihat penggunaan kapasitas terpasang yang terus digenjot naik. Begitu pula target penggunaan kapasitas terpasang yang dicanangkan juga terus mengalami peningkatan.

Perbankan atau lembaga keuangan pada umumnya memiliki peran potensial untuk mendorong akselerasi industri ini. Perbankan memiliki peran mediasi menjadi penyangga pendanaan yang dibutuhkan untuk perluasan usaha industri ini. Dan, tidak sedikit pula harapan “bunga murah” mengucur untuk industri ini. Namun, sepertinya untuk mendapatkannya bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dapat dilihat dari proporsi penggunaan dana perbankan yang semakin menipis. Namun demikian, hal ini bukan menandakan terjadinya penguatan pendanaan dari industri atau terjadinya zero debt.

Porsi penggunaan dana perbankan oleh sektor TPT mencapai 47,60%, sedangkan dana sendiri sebanyak 51,43% pada tahun 2007, demikian data yang dilansir oleh Bisnis Indonesia (12/5/2011). Namun, seiring waktu berjalan, pada tahun 2010 yang terjadi justru perubahan komposisi pendanaan yang signifikan. Porsi pendanaan dari perbankan semakin mengecil menjadi 13,39%, sementara pendanaan sendiri menjadi 55,52%. Adapun, porsi pendanaan lainnya berasal dari kredit pemasok yang menunjukkan tren meningkat.

Fenomena demikian mengarahkan pandangan bahwa perbankan belum memberikan kelonggaran bagi industri ini. Beratnya tingkat suku bunga dua digit seringkali masih menjadi pertimbangan awal untuk mengunduh kredit dari perbankan. Ini pilihan berat tentunya bagi pelaku industri TPT untuk melabuhkan kebutuhan dananya ke perbankan. Untuk saat sekarang diungkapkan oleh asosiasi yang menaungi industri TPT bahwa tidak ada masalah dengan kredit perbankan setelah dahulu sempat dipersulit.  TPT kini tidak lagi menjadi daftar “industri hitam” setelah sebelumnya tidak menjadi prioritas kredit perbankan, bahkan dihindari oleh perbankan. Namun demikian, siapa berani bertaruh dengan bunga bank hingga dua digit.
 

Rekomendasi Kebijakan:

Dalam upaya memperkecil perlambatan usaha yang mengarah pada situasi yang lebih buruk, jelas masalah dukungan modal/pendanaan menjadi hal yang sangat penting agar pelaku usaha tegar menghadapi risiko yang dipicu dari faktor internal maupun faktor eksternal. Hubungan perbankan dan industri bersifat simbiosis mutualisme. Keduanya dapat berjalan beriringan bila keduanya memiliki kepentingan yang sama. Dalam kondisi sekarang, tuntutan suku bunga kredit single digit memang layak bergulir, terutama bagi industri strategis. Selain itu, di sisi lain, industri TPT juga tidak ada pilihan harus memperbaiki perencanaan anggarannya guna mempermudah assesment kredit dari perbankan.

ARIF HATTA DAN SUCIPTO
(Artikel ini bersumber dari majalah Warta Ekonomi Nomer 16 tahun 2011)

Foto: zhie.student.umm.ac.id


.



counter widget


 

 

 

 




Event WE