Agar Petani Tak Tertipu Tengkulak Part II
13 Oktober 2011 - 13:00:00 WIB Rubric : interview
Diposting oleh : Foenya Dransyalia (foenya@wartaekonomi.com) 
Paling tidak, kriterianya yang bagaimana?
Itu sudah jelas, non profit oriented.
Tapi, RSG ini berbeda. Misalkan Askrindo, dia belum tentu memahami betul SRG ini. Bagaimana?
Mereka harus bentuk divisi baru. Sama KBI juga harus bentuk divisi baru.
Aset yang dimiliki lembaga penjamin minimal berapa?
Kalau yang kami minta Rp1,5 triliun. Tapi, nanti kami akan minta kriteria yang lebih mendalam, kira-kira berapa. Rp1,5 triliun itu sebenarnya berdasarkan perhitungan kami terhadap 8 komoditas dengan kapasitas gudang saat ini, jika semuanya terjadi default. Nah, itu gantinya.
Dengan keterbatasan yang ada, petani saat ini sudah menerima untung berapa?
Saat ini rata-rata petani sudah bisa menerima keuntungan Rp615 per kg gabah. Sayang, karena mesin rice milling saat ini masih belum ada, petani belum bisa menerima nilai tambah ketika sudah menjadi beras. Bisa jadi keuntungannya menjadi Rp2.000.
Jadi, untuk komoditas beras pun baru sampai gabahnya saja?
Oleh DPR kami tidak diberi uang. Jadi, mau bangun bagaimana?
Memangnya butuh uang berapa?
Kalau satu rice miling itu harganya Rp1 miliar, berarti untuk 67 gudang itu kami butuh Rp67 miliar.
Terjegalnya itu dimana, Kemendag atau Kemenkeu atau DPR?
Oh tidak, ini karena belum prioritas ke sana saja. Masih banyak yang lebih penting daripada rice milling. Program Aku Cinta Produk Indonesia lebih penting. Bangun pasar lebih penting.
Tapi, bukankah untuk ketahanan pangan juga penting?
Ya kita berjuanglah tahun 2012.
Anda diangkat sejak Januari tahun ini, kira-kira target Anda apa tahun ini?
Saya diberi dua beban amandemen undang-undang. Itu belum sama sama sekali disentuh oleh DPR. Saya mesti masuk ke kancah itu untuk membuat amandemen itu.
Pertama, tentang perdagangan berjangka komoditi. Kedua, mengenai PP resi gudang. PP resi gudang mengenai dana penjaminan dan lembaga penjaminan. Dua PP perdagangan berjangka komoditi itu tentang komoditi primer dan alternatif. Baru produk turunannya nanti oleh SK Bappebti.
Apa yang diharapkan pemerintah terhadap Bappebti ini kedepannya?
Kalau kita lihat dari peran Bappebti terkait resi gudang, sebenarnya petani selama ini termarjinalkan, hanya dicekoki subsidi saja, tapi belum pernah bisa melakukan penjualan barang yang fair. Nah, ini berfungsi mengubah mindset mereka. Katakanlah dia masuk gudang, barangnya harus punya standar, sehingga dia harus meningkatkan mutu. Berarti dengan meningkatkan mutu, harga barangnya yang dinilai oleh gudang itu sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Yang selama ini terjadi, mereka panen, jemur, tapi mutu atau kadar airnya tidak sama. Jadi, pertama pembelajaran peningkatan mutu, kemudian nanti kita hargai yang layak.
Kedua, pada saat nanti dia tunda jual selesai panen, harga gabah pasti naik, maka dia menikmati kenaikan harga gabah itu. Ketiga, pada saat dia menerima 70% dari resi gudang, dia bisa menyiapkan kembali sarana produksi untuk beli bibit. Minimalnya dapat uang untuk kehidupan dia. Jadi kemampuan daya beli dan kemampuan mempersiapkan produksi lagi terukur. Kemudian marginnya dia peroleh. Di sini mengubah mindset si petani jadi si pedagangnya. Jadi, dia tidak tertipu tengkulak.
Relevansi lembaga jaminan ini dengan target bagaimana?
Jaminan ini meningkatkan trust bank terhadap resi gudang. Buktinya sekarang pemerintah beri Rp75 miliar. Yang mau bank-bank daerah, misalnya Bank Jabar, Bank Jateng, Bank Jatim, Bank Kalsel, Bank Sulsel, Bank Sumsel. Yang besar hanya BRI saja. Jadi, kalau dana jaminannya ada, BCA pun mau.
Jajang Yanuar Habib
Sumber Gambar : Google