Listrik : Siap-Siap Tertekan (III)
08 Januari 2012 - 15:00:00 WIB Rubric : Infrastruktur
Diposting oleh : Foenya Dransyalia (foenya@wartaekonomi.com) 
Pemerintah mengklaim kenaikan harga listrik dibutuhkan agar subsidi listrik tidak naik menjadi Rp49 triliun dan akan menurunkan ketergantungan PLN terhadap APBN. PLN perlu lebih mengintensifkan pembauran energi untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik yang mahal akibat ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Saat ini produksi minyak dan gas nasional hanya mencapai 970.000 barel per hari (bph), sementara kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,3 juta bph. Dengan kondisi seperti ini, sudah sewajarnya PLN tidak lagi menggunakan BBM sebagai bahan baku pembangkit listrik.
Secara geografis, Indonesia sesungguhnya memiliki banyak potensi energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak seperti tenaga surya, air, dan panas bumi. Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia memiliki 276 titik potensi panas bumi yang mampu menghasilkan 29.038 gigawatt listrik. Namun, kapasitas pembangkit listrik panas bumi yang terpasang saat ini hanya menghasilkan 1.189 megawatt, dengan lebih dari separonya terpusat di Pulau Jawa, sementara di luar Jawa hanya memiliki kapasitas 72 megawatt.
Skema investasi panas bumi dikerjakan pemerintah bekerja sama dengan swasta (public private partnership). Namun, perkembangan eksplorasi sumber panas bumi saat ini sedikit mandek. Menurut investor, eksplorasi sumber panas bumi memiliki risiko kegagalan yang tinggi karena pada suatu titik yang telah diidentifikasi memiliki sumber panas bumi belum tentu menghasilkan panas bumi. Selain itu, hambatan juga datang dari kelompok masyarakat yang menolak kegiatan eksplorasi panas bumi di daerahnya karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan.
Selain panas bumi, juga ada air yang berpotensi menghasilkan 75.000 megawatt listrik jika bisa dimanfaatkan secara maksimal. Namun, sama halnya dengan panas bumi, kapasitas terpasangnya masih jauh dari potensi listrik yang bisa dihasilkan. Dari potensi sebesar 75.000 megawatt, pembangkit listrik tenaga air yang ada hanya bisa memproduksi 5.711 megawatt listrik.
Investasi awal yang dibutuhkan untuk mencari sumber energi terbarukan memang mahal. Contohnya, investasi PT Viron Energy untuk mendirikan pembangkit listrik tenaga bayu/angin. Menurut Rina Fahmi Idris, komisaris dan pemegang saham PT Viron Energy, investasi awal pembangunan pembangkit listrik tenaga angin ini sebesar US$2 juta, yang akan digunakan untuk membangun satu turbin yang mampu mengaliri minimal 500 rumah dengan daya 1.000 watt per rumah.
Dengan potensi energi yang melimpah, tentunya masih banyak opsi yang dapat dilakukan pemerintah untuk bisa lepas dari subsidi listrik yang membebani APBN tanpa harus memberatkan masyarakat dan sektor industri dengan menaikkan tarif listrik. Pasalnya, jika tarif listrik dinaikkan, akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar ekspor. Imbasnya tentu akan sangat luas ke perekonomian.
Happy Fajrian
Sumber Gambar : Google