Ekonomi Bayangan Sang Naga (I)
14 Januari 2012 - 11:00:00 WIB Rubric : liputan
Diposting oleh : Foenya Dransyalia (foenya@wartaekonomi.com) 
Kedigdayaan ekonomi Cina bersiap menghadapi episode baru. Dengan populasi 1,3 miliar jiwa, para operator anggaran harus lihai dan cerdik mengantisipasi dinamika ekonomi global. Bukan sekadar mampu mencukupi kebutuhan pangan dan sandang, tetapi juga piawai mengejar pertumbuhan ekonomi secara portofolio.
Siapa pun tahu, Cina kini adalah salah satu negara di dunia yang ekonominya sangat bergantung pada aktivitas ekspor. Kontribusi pos perdagangan transnasional mereka menyumbang lebih dari 60% dari total produk domestik bruto (PDB)-nya. Begitu besarnya, hampir tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak dimasuki barang impor dari Negeri Tirai Bambu ini.
Salah satu entitas ekonomi yang selama ini menyerap produk Cina adalah Eropa. Nilai ekspor Cina ke Benua Biru menembus angka US$250 miliar pada semester I-2011. Maka, tidaklah mengherankan, ketika ekonomi Benua Biru oleng dihantam krisis, koreksi pun hadir menimpa laju ekspor Cina. Kontraksi sebesar 20% dari nilai total ekspor periodik akhirnya terpaksa mengotori rapor biru buku perdagangan negeri itu.
Pemerintah Cina tidak tinggal diam menghadapi situasi yang berkembang. Dengan intensitas tinggi, mereka menjalin kerja sama ekonomi dengan pemerintah Yunani. Bentuk riil dari kerja sama itu adalah bantuan berupa ketersediaan operator anggaran Negeri Tirai Bambu untuk membeli obligasi yang diterbitkan pemerintah Yunani. Tentu saja dengan tingkat imbal hasil sedikit di atas suku bunga pasar.
Rangga Lesmana
Sumber Gambar : Google