Ekonomi Bayangan Sang Naga (III)
14 Januari 2012 - 15:00:00 WIB Rubric : liputan
Diposting oleh : Foenya Dransyalia (foenya@wartaekonomi.com) 
Perekonomian Cina bukan tidak sedang menghadapi masalah. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,3 miliar jiwa, para operator anggaran harus terus berakrobat dengan tata buku. Mereka harus memastikan bahwa penduduknya cukup pangan dan sandang, tetapi, di sisi lain, pertumbuhan ekonomi secara portofolio juga tetap harus terkejar.
Banyak pelaku ekonomi global menilai pertumbuhan ideal Cina berada pada kisaran 8%-9%. Jika akhirnya pertumbuhan ekonomi negeri itu harus merosot lambat hingga kisaran 5%, maka konsekuensi yang harus diterimanya akan sangat berat. Kekacauan diperkirakan akan cepat menyebar menggerogoti ekonomi Cina. Jika sudah demikian, maka hampir dipastikan Cina akan berada pada titik kritis. PHK akan menyebar dengan cepat dan massal, dan bank-bank gurem akan tersapu badai kebangkrutan.
Keberanian otoritas moneter Cina menaikkan suku bunga beberapa waktu yang lalu, hanya akan mendorong inflasi dan membuat mereka limbung. Efek domino yang kemudian dikhawatirkan adalah berimbasnya kelimbungan ekonomi Cina ke seluruh mitra dagang dan entitas ekonomi mereka. Pada saat inilah masa depan perekonomian global diuji.
Perkiraan keguncangan itu bukanlah berdasarkan asumsi semata, tetapi mengacu kepada kajian kritis berbasis data. Salah satu yang kami cermati adalah aksi spekulasi yang begitu akut di pasar properti Cina. Tidak sedikit pelaku perekonomian global yang menyuarakan peringatan pada kemungkinan pecahnya gelembung kredit properti di Cina.
Rangga Lesmana
Sumber Gambar : Google