Ekonomi Bayangan Sang Naga (IV)
14 Januari 2012 - 17:00:00 WIB Rubric : liputan
Diposting oleh : Foenya Dransyalia (foenya@wartaekonomi.com) 
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, populasi rumah dan gedung kosong di Cina tumbuh signifikan. Belum lagi jika melihat tingginya harga apartemen kelas menengah ke atas di kota-kota besar Cina. Harga apartemen mewah termurah saat ini mampu menembus hingga di atas US$3.000 per meter persegi. Sementara untuk griya paling elite, di masa jayanya, pebisnis properti Cina bisa mematok harga US$8.000-10.000 per meter persegi.
Pada 2010 lalu, pemerintah Cina sejatinya telah mengeluarkan larangan pembelian properti lanjutan. Hasilnya terbilang mujarab. Aksi spekulasi mereda, pertumbuhan pembangunan properti pun mengalami pengereman tiba-tiba. Namun, kebijakan itu ternyata kemudian meninggalkan konsekuensi baru. Banyak properti yang berubah menjadi liabilitas mangkrak yang memberatkan. Akibatnya, bank-bank Cina pun “menikmati” lonjakan kredit macet dengan nilai yang amat signifikan.
Guncangan dari gelombang kredit macet properti Cina tidak hanya akan berasal dari seretnya pembayaran KPR konsumen. Para pengembang yang kebanyakan beroperasi dengan kredit perbankan juga akan ikut terkena imbasnya. Belum lagi para pemasok bahan bangunan dan aksesori properti, yang kebanyakan juga menggunakan jasa bank. Tiga gelombang kredit macet ini diperkirakan akan menghadirkan silang sengkarut di sistem perbankan Cina.
Akuisisi, merger, dan likuidasi bank-bank bermasalah diperkirakan akan serentak melanda. Program bailout pemerintah akan jadi mantra suci. Hawa panas dari aliran likuiditas baru pun akan meninggalkan jejak muramnya. Efek lanjutan berupa hantu depresiasi mata uang, akan memiskinkan sebagian besar penduduk Cina. Harga bahan-bahan pokok dipastikan melonjak dan melahirkan inflasi baru.
Rangga Lesmana
Sumber Gambar : Google