Profile




A Humble Person of Chevron
Sesudah 28 tahun meniti karir di Chevron, memulai karir dari bawah, Abdul Hamid Batubara menjejakkan prestasi tertinggi di Chevron dengan disiplin, kerja keras, pantang menyerah, penuh inovasi, mengedepankan etika bisnis, bervisi masa depan melihat horizon, dan rendah hati


Pagi mulai beranjak siang ketika Warta Ekonomi tiba di bilangan Senayan, Jakarta, Kamis (17/2) lalu. Terik hangat matahari yang menemani perjalanan, seketika berubah menjadi hembusan sejuk, setelah kami menginjakkan kaki di salah gedung pencakar langit kawasan elit ibukota ini. Adalah pemuncak korporasi minyak dan gas dunia asal negeri Paman Sam, PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang berkenan menerima kami dalam kunjungan istimewa pagi itu. Sesampainya di lantai delapan belas Sentral Senayan I Office Tower, secercah senyuman pun langsung menyambut, “Selamat datang di Chevron Pasific Indonesia,” ujar tuan rumah yang tak lain adalah Abdul Hamid Batubara, CEO CPI begitu ramahnya.

 

Sosok murah senyum yang biasa disapa Pak Hamid oleh kolega bisnisnya ini adalah Presiden Direktur CPI yang relatif baru. Bulan Maret tahun 2010 lalu, ia didaulat duduk sebagai CEO menggantikan sang pendahulu, Suwito Anggoro, yang telah pensiun dari perusahaan. Hamid adalah sosok yang tidak asing lagi bagi perusahaan minyak dan gas ini. Maklum saja, kurang lebih dua puluh sembilan tahun ia habiskan untuk meniti karier di CPI. Posisi terakhirnya sebelum duduk sebagai CPI-1 adalah Senior Vice President Sumatera Operation Support yang berkedudukan di Rumbai, Pekanbaru, Provinsi Riau.

 

Nama Hamid mencuat ke permukaan seiring langkah Chevron mematikan beberapa sumur dan steam boiler akibat bocornya pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo) pada akhir September 2010 silam. Akibatnya produksi minyak Chevron pun menurun cukup berarti kala itu. Padahal selama ini, Chevron merupakan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang memberikan kontribusi terbesar bagi produksi minyak nasional. Disinilah kepiawaian Hamid Batubara diuji.

 

Suka Tantangan Baru

Bergabung dengan CPI tidak lama pasca menyelesaikan studi teknik elektro di Institut Teknologi Bandung. Hamid sejatinya telah menjejakkan ide-ide yang brilian sejak awal masuknya sebagai computer analyst programmer. Pada posisinya itu, ia bertugas untuk memberikan laporan produksi masing-masing sumur ke seluruh bagian operasional menggunakan program Well Production Online System. Peliknya, proses penelusuran data yang ada jelas Hamid masih memerlukan waktu yang lama, dan masih menggunakan perangkat sistim komputer mainframe. Bersama beberapa teman lainnya, ia pun berinisiatif mengembangkan sistim client server berbasis PC yang kala itu merupakan teknologi baru sehingga data yang dibutuhkan insinyur perminyakan di lapangan saat itu dapat terpenuhi jauh lebih cepat, efektif dan efisien.

 

Dari terobosannya itu, karirnya terus berkembang. Bukan hanya berkutat dengan program-program komputer lagi, melainkan ke divisi perencanaan (planning & budget). Pada pos barunya ini, Hamid muda yang selalu haus ilmu dan pengalaman tidak menyia-nyiakannya. Ia secara jeli memanfaatkan fasilitas training yang diberikan CPI dengan mengambil pelatihan strategic planning dengan guru besar dari Jepang. Bukan hanya dalam ruangan kelas, tetapi juga di luar kelas. Hasilnya, tugas pos  planning & budget pun berhasil dikerjakannya dengan baik.

 

Demikian selanjutnya, ia pun berpindah-pindah dari posisi perencanaan, VP General Affair, VP Finance hingga Senior Vice President Sumatra Operation Support CPI. Selang dua puluh sembilan tahun kemudian, penikmat buku The 7 Habit ini pun duduk sebagai CEO, “Perubahan itu selalu menantang. Motivasi itu muncul karena adanya proses inovasi, proses belajar, merencanakan solusi terbaik, lalu diimplementasikan, berhasil dan berpindah,” ujarnya memaknai spiral karirnya di CPI.

 

Tantangan dan Strategi

Sebagai representasi perusahaan yang telah makan asam garam bisnis migas lebih dari enam dekade di tanah air, CPI dalam perjalanannya ke depan, bukan hanya sekedar dituntut untuk dapat menjaga stabilitas produksi minyak. Tetapi juga dihadapkan problema pasokan gas yang digunakan perusahaan untuk teknik enhanced oil recovery steamflood.

 

Tantangan CPI yang harus dijawab saat ini jelas Hamid adalah bagaimana mengoptimalkan recovery dari blok-blok yang sudah ada, baik untuk pemerintah maupun pemegang saham. Oleh karena itu, perusahaan didorong untuk menjaga produksi agar tidak sampai menurun drastis.

 

Pengejawantahannya adalah dengan penerapan base business yang terdiri dari Reliability (life cycle pompa yang lama, konsistensi pasokan listrik, operasi yang aman dan memenuhi aturan lingkungan). Kedua, CPI melakukan infill well drilling. Selain base business, CPI juga selalu mencari peluang untuk mengembangkan major capital project seperti pengembangan Duri Area 12 yang sangat berhasil belakangan ini serta proyek injeksi surfaktan di Minas yang saat ini tengah dilakukan pilot project. Hal ini dimaksudkan untuk menambah produksi dari sumur-sumur baru sejalan dengan penurunan produksi secara alamiah dari sumur-sumur lama.

 

Pekerjaan rumah terbesar bagi CPI saat ini sambung dia adalah bagaimana menyinambungkan target pemerintah dengan kemampuan perusahaan. Problem sumur-sumur tua yang dimiliki CPI seperti di Duri salah satunya yang sudah melalui tahapan secondary recovery menggunakan teknologi injeksi uap. Produksinya akan baik apabila suhu di reservoir itu dimenej dengan baik. Namun, apabila suhunya tidak stabil karena penyaluran uapnya turun naik maka produksinya juga akan mengikuti. Pemerintah lanjut Hamid sekitar 10 tahun yang lalu mendorong penggunaan gas dari Jambi untuk menggantikan sebagian minyak yang diproduksi di Duri yang digunakan untuk menghasilkan uap dengan kesepakatan “No gain, no loss” untuk CPI. Masalahnya, apakah pasokan gas tersebut dapat tersalurkan ke Duri tanpa gangguan?

 

Kesinambungan gas pada sumur-sumur tua itulah yang menjadi kunci. Apa yang terjadi September tahun lalu akibat bocornya pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia adalah hilangnya keteraturan aliran uap di reservoir bawah tanah untuk mendorong produksi minyak. Akibatnya, pada saat uap kembali diinjeksikan, pasir dari reservoir pun ikut terproduksi sehingga merusak pompa. Ke depan, apabila ada maintenance pada distribusi gas oleh pihak yang terkait harap Hamid, waktunya tidak boleh lebih dari satu hari sehingga uap di pipa injeksi maupun di reservoir masih tetap panas. Selain masalah kesinambungan pasokan gas tersebut, pembebasan lahan, tumpang tindih penggunaan lahan, dan cepatnya proses persetujuan proyek baru juga menjadi tantangan lain yang harus mampu diakomodasi pemerintah.

 

Strategi yang disiapkan oleh Hamid mengantispasi problematika itu adalah dengan mengkomunikasikan sejelas mungkin dampak yang mungkin terjadi apabila salah satu penunjang produksi minyak mengalami kendala. Kedua, CPI selaku pelaku bisnis melalui IPA (Indonesian Petroleum Association) berharap untuk bekerja-sama dengan Ditjen Migas maupun BP Migas untuk selalu melakukan review mendalam terhadap peraturan-peraturan baru sebelum peraturan tersebut berlaku, terutama yang menyangkut contract sanctity. Jangan sampai ujar dia terjadi kekisruhan di kemudian hari karena perbedaan pendapat pihak-pihak yang terkait.

 

Terbiasa mampu menjawab tantangan di setiap periode jenjang karir sebelumnya. Pria yang hobi membuat clip video keluarga ini berusaha memberikan warna terkait posisinya sebagai CEO. Ia sadar betul bahwa pada posisinya kini, ia tidak hanya berkutat dengan lingkungan internal CPI, BPMigas dan Ditjen Migas saja. Namun, lebih dari itu, juga harus berhubungan dengan komunitas yang lebih luas, misalnya saja DPR, kementerian, dan pihak-pihak lain yang terkait seperti UKP4, BPK dan BPKP. Ia percaya bahwa di setiap level perubahan maka harus ada management of change (MOC). Semakin besar change-nya maka harus lebih lengkap mitigasinya, “Saya ingin sekali menolong memfasilitasi di antara mereka ini,” kata dia berestimasi.

 

Belajar Leadership dari Sang Idola

Milestone nya yang cemerlang sejauh ini bagi Hamid, tidak lepas dari peran dua sosok yang begitu berpengaruh bagi dirinya, yaitu: Ibundanya dan Julius Tahija (mantan CEO Chevron Indonesia). Lahir sebagai anak bungsu dari dua belas bersaudara, Hamid tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan yang bersahaja. Belum genap berusia lima tahun, ayahnya telah berpulang meninggalkan Hamid beserta saudara-saudaranya yang lain. Alhasil, ibulah yang menjadi tumpuan harapan keluarganya dengan berjualan pecel, “Ibu meminta saya untuk selalu jujur, selalu berbagi, jangan sampai tangan dibawah. Sesusah apapun posisi saya maka saya harus berbagi,” ujar dia.

 

Selain ibu sebagai orang yang berpengaruh bagi kehidupannya, Julius Tahija (mantan CEO CPI) juga menjadi sosok idola bagi seorang Hamid Batubara. Ia bersyukur ketika menginjak awal karir di CPI pada dekade 80-an, langsung dapat bertemu dengan orang pertama di Chevron kala itu. Berawal dari “sayembara tantangan” untuk meng-install komputer pribadi (PC) putra dari Julius Tahija yang diajukan oleh atasannya, Hamid mampu menjawabnya dengan baik. Dari titik itulah pria yang dikaruniai 4 anak ini kemudian meniti babak baru yang tidak terlupakan bagi Hamid di CPI kelak.

 

Baginya Tahija bukan sekedar pemimpin biasa, melainkan juga seorang inovator bervisi masa depan. Etika bisnis yaitu keteladanan menjadi salah satu kekuatan dari Tahija yang diserapnya hingga kini. Jika ingin anak buah berlaku “A” maka menurutnya seorang pemimpin harus berlaku “A” terlebih dahulu, ”Beliau (Julius Tahija.red) memiliki future horizon yang begitu luas. Beliau selalu tahu mau kemana perusahaan ini berjalan dan piawai mencari bagaimana cara menjalankannya,” kata dia.

 

Filosofi Air dalam Kesuksesan


Tutur bicaranya yang lembut, mengalir dan lugas semakin menunjukkan matangnya sosok kebapakan satu ini. Hampir tiga dasawarsa ia berkarir di perusahaan minyak bumi dan gas multinasional. Ujian tak henti-hentinya selalu mengiringi perjalanan seorang Hamid Batubara. Gemblengan masa kecil dan sosok pemimpin berkarakter dari seorang Julius Tahija tidak terelakkan membantu membentuk kepribadiannya.

 

Kombinasi itulah yang kemudian mendorongnya dalam kepemimpinannya sejauh ini. Semangat kerja keras dan pantang menyerah yang diturunkan sang ibu. Plus, semangat inovasi, etika bisnis, disiplin dan bervisi masa depan melihat horizon dari Julius Tahija menjadi elemen-elemen penting bagi Hamid sehari-hari. Namun, ia juga sadar bahwa dalam hidup ada kalanya keterbatasan dan kegagalan juga menghampiri. Oleh karena itu, filosofi air yang mengalir menurutnya menarik untuk diterapkan. Hidup apa adanya dari kacamata Hamid akan memberikan ketenangan jiwa. Ketika dihadapkan suatu permasalahan dan sulit untuk mencari jalan keluar, maka dengan penuh ketekunan kita hendaknya mau untuk mencoba dan mencoba lagi mencari jawabannya. Demikian selanjutnya hingga akhirnya bermuara pada jalan keluar.

 

Dibalik kesibukannya, alumnus Carnegie Mellon University, Pittsburgh ini mengaku menikmati hidup dengan berbagi dari sesuatu yang dipelajarinya. Apakah itu dari buku ataupun pengalaman hidup yang berisikan best practices. Tak heran, jika tidak duduk sebagai CEO, ia pun berseloroh bahwa posisi sebagai ustadz, guru, ataupun konsultan mungkin akan menjadi pilihannya kelak. Merosotnya karakter generasi muda saat ini menjadi pemantik alasannya. Namun, sekali lagi, hal itu bukan kendala. Tidak ada kata terlambat untuk  membangun karakter bangsa yang kuat “Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan. Jangan pernah berhenti belajar dan selalu mencoba untuk menelorkan ide baru karena opportunity akan datang kapan saja tanpa kita duga,” pungkasnya berbagi kunci kesuksesan###

 

Histografi

Nama          : Abdul Hamid Batubara
TTL             : Bandung, 1958
Pendidikan  : Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (1982),Master of Business Administration (MBA) dari Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania, USA (1999)
Status         : Menikah, 1 istri, 4 anak

Ekspektasi 2011
  1. Mencapai kinerja keselamatan lebih baik dari tahun lalu melalui program Incident free start with me. Apabila ada pekerjaan yang tidak aman maka harus dihentikan.
  2. Mematuhi environment compliance sesuai dengan peraturan lingkungan yang ada dengan menjalankan program MP3 yang telah disetujui bersama.
  3. Mengejar target produksi CPI secara rasional dan terukur, sesuai dengan usulan Work Program & Budget CPI 2011. 

Milestone karir
  • Maret 2010-sekarang : Presiden Direktur PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI)
  • 2009-Februari 2010   : Senior Vice President Sumatra Operation Support CPI 
  • 2007-2009 : Senior Vice President Business Services Chevron IBU
  • 2005-2007 : Vice President Planning & Technology IBU
  • 2002-2005 : Vice President Corporate Finance & Treasury CPI
  • 1999-2002 :  Vice President General Affairs CPI
  • 1997-1999 :  Asst. Vice President Finance
  • 1994-1996 :  Manager Planning and Budget CPI
  • 1982-1994 :  Computer Analyst Programmer hingga Superintendent Computer Applications Dept. PT. Caltex Pacific Indonesia (CPI)

Fekum Ariesbowo W.

 

 


.



counter widget


 

 

 

 




Event WE