Ralph Lauren Tutup 50 Gerai dan Pangkas Delapan Persen Pekerja Global

WE Online, Jakarta - Perusahaan fashion asal AS Ralph Lauren berencana memangkas jumlah pekerjanya, menutup sejumlah toko dan berfokus pada merek intinya. Hal tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi bisnisnya.

Ralph Lauren akan memangkas 8 persen pekerjanya pada tahun ini. Pada bulan April, perusahaan tersebut tercatat mempekerjakan 26.000 orang di seluruh dunia, di mana 11.000 orang di antaranya adalah pekerja paruh waktu. PHK yang direncanakan merupakan kelanjutan dari pemangkasan tenaga kerja sebesar 5 persen yang sudah dilakukan pada tahun lalu.

Pendiri perusahaan Ralph Lauren mengatakan bahwa ia mendukung rencana CEO baru Stefan Larsson tersebut. "Saya percayakan ini kepadanya, dan perusahaan ini harus tumbuh," kata Lauren, seperti dikutip dari laman CNNMoney di Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Selain mengurangi karyawan, perusahaan berencana menutup sekitar 50 gerai yang tidak memperkuat merek utama. Saat ini, perusahaan memiliki 493 gerai, termasuk 216 gerai di Amerika Serikat.

Menurut Lauren, restrukturisasi tersebut akan menelan biaya hingga US$ 400 juta, termasuk US$ 95 juta pesangon dan US$ 205 juta biaya penghentian sewa dan penutupan toko. Dia berharap, upaya restrukturisasi dapat menghemat biaya operasional sekitar US$ 180 juta hingga US$ 220 juta per tahun.

Saham Ralph Lauren turun hampir 40 persen pada tahun lalu. Meski pencapaian laba pada kuartal pertama tahun ini masih melebihi ekspektasi pasar, namun nilai penjualan menyusut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ralph Lauren telah berjuang, karena pasar telah bergeser ke merek seperti H&M, Forever 21 dan Zara. Seperti peritel pakaian tradisional lainnya, Gap, Ralph Lauren butuh waktu lebih lama dibandingkan merek fast fashion untuk beradaptasi dengan gaya baru.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini