Portal Berita Ekonomi Minggu, 26 Mei 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 04:38 WIB. Scottish Cup Final: Hearts 1 vs 2 Celtic
  • 04:36 WIB. German DFB Cup: RB Leipzig 0 vs 3 Bayern Munchen
  • 04:33 WIB. Copa Del Rey: Barcelona 1 vs 2 Valencia¬†
  • 23:23 WIB. Asuransi - Traveloka meluncurkan produk asuransi perlindungan rumah selama momen Lebaran 2019.
  • 23:20 WIB. Hoax - Kemenkominfo mencatat ada sebanyak 30 berita hoax selama momen ricuh 22 Mei.

Regulasi Pemerintah Turut Picu Biaya Tinggi Logistik

Regulasi Pemerintah Turut Picu Biaya Tinggi Logistik - Warta Ekonomi
WE Online, Sampit -

Pemerintah pusat dan daerah diharapkan mengevaluasi kebijakan yang dijalankan karena pelaku usaha merasakan ada regulasi yang justru turut memicu tingginya biaya logistik di negara ini.

"Biaya tinggi logistik juga ada diregulasi. Ini bisa dibicarakan bersama untuk mencari mana saja yang bisa dipangkas. Kita sama-sama menginginkan biaya logistik murah sehingga berdampak pada harga jual kepada masyarakat selaku konsumen," kata Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dan Indonesian Logistics and Forwarders Association (ILFA), Yukki Nugrahawan Hanafi di Sampit, Senin malam (8/8/2016).

Dia mengakui banyak faktor yang masih memengaruhi tingginya harga distribusi logistik dan harga jual logistik. Namun pemerintah juga harus mau terbuka mengevaluasi regulasi yang dibuat karena tidak sedikit yang terbukti menyebabkan pengusaha harus menambah pengeluaran.

ALFI mendorong pemerintah melakukan evaluasi regulasi, yang kemudian dilanjutkan dengan harmonisasi regulasi dan deregulasi. ALFI yang hingga tahun lalu sudah beranggotakan 3.612 pengusaha logistik, siap duduk bersama memberikan masukan mana saja di tingkat pusat dan daerah yang dirasakan ikut memicu biaya tinggi.

Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah kondisi infrastruktur, seperti peralatan pelabuhan, jalan dan lainnya. Begitu pula kebijakan fiskal moneter terkait suku bunga bank, seperti bea masuk, juga berpengaruh. Tidak kalah penting adalah sumber daya manusia di sektor logistik yang juga dapat mempengaruhi bisnis di bidang ini.

"Rasionalisasi anggaran juga pasti akan berpengaruh. Transfer dana ke daerah juga bisa tertunda tahun depan sehingga tentu berdampak pada kegiatan pembangunan di daerah," katanya.

Yukki juga menyoroti ketidakseimbangan pembangunan di kawasan Timur dibanding kawasan lain di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah agar masyarakat di kawasan Timur tidak terus menerus dihadapkan pada ketertinggalan pembangunan maupun ekonomi biaya tinggi karena sebagian besar barang masih harus didatangkan dari luar daerah.

Saat melantik dan mengukuhkan Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dan Indonesian Logistics and Forwarders Association (ILFA) Provinsi Kalimantan Tengah masa bakti 2016-2021 yang diketuai Dolasta Pohan, Yukki mendorong agar seluruh pengusaha logistik terus bersemangat. Kondisi perekonomian global dan nasional yang sedang lesu, tidak boleh membuat pesimistis.

Sementara itu Dolasta Pohan mengakui, biaya logistik di Kalimantan Tengah dianggap cukup tinggi. Pihaknya menyadari hal itu dan berupaya mencari jalan keluarnya, khususnya melalui wadah organisasi ALFI.

"Kami akan mencari cara dan terobosan untuk mencari atau memangkas biaya supaya dapat mengurangi biaya tinggi. Langkah ini tentu juga harus didukung oleh pemerintah," katanya.

Untuk mengefektifkan upaya di lapangan, ALFI akan bekerjasama dengan semua pihak dan asosiasi. Sinergi juga akan ditingkatkan antarsesama anggota ALFI Kalimantan Tengah, maupun dengan anggota ALFI di daerah lain. (Ant)

Tag: logistik

Penulis: Redaksi WE Online/Ant

Editor: Sucipto

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,873.11 3,833.79
British Pound GBP 1.00 18,390.47 18,203.81
China Yuan CNY 1.00 2,105.00 2,084.12
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,523.00 14,379.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,001.99 9,895.63
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,850.58 1,832.12
Dolar Singapura SGD 1.00 10,523.91 10,415.79
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,239.62 16,077.16
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,466.11 3,429.29
Yen Jepang JPY 100.00 13,250.91 13,115.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6057.353 24.657 633
2 Agriculture 1373.110 2.580 21
3 Mining 1637.715 -11.489 47
4 Basic Industry and Chemicals 722.150 -0.477 71
5 Miscellanous Industry 1249.820 10.190 46
6 Consumer Goods 2391.895 9.088 52
7 Cons., Property & Real Estate 446.447 1.873 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1120.346 19.080 74
9 Finance 1223.772 6.088 90
10 Trade & Service 792.573 -3.999 156
No Code Prev Close Change %
1 BMSR 86 116 30 34.88
2 PTSN 835 1,040 205 24.55
3 KONI 214 264 50 23.36
4 KOIN 204 242 38 18.63
5 AKPI 450 530 80 17.78
6 HDFA 112 131 19 16.96
7 TRIM 147 170 23 15.65
8 KOBX 161 180 19 11.80
9 POLY 89 98 9 10.11
10 ANDI 1,670 1,820 150 8.98
No Code Prev Close Change %
1 TAXI 90 59 -31 -34.44
2 CNTX 590 458 -132 -22.37
3 GOLD 530 420 -110 -20.75
4 BRAM 8,225 6,600 -1,625 -19.76
5 DUTI 4,600 3,750 -850 -18.48
6 CANI 193 160 -33 -17.10
7 SKBM 450 376 -74 -16.44
8 MKNT 116 97 -19 -16.38
9 FIRE 10,375 8,925 -1,450 -13.98
10 MBTO 139 122 -17 -12.23
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,030 1,055 25 2.43
2 BBRI 3,850 3,850 0 0.00
3 TLKM 3,660 3,750 90 2.46
4 SOCI 196 210 14 7.14
5 BMRI 7,575 7,700 125 1.65
6 JPFA 1,400 1,425 25 1.79
7 FREN 266 284 18 6.77
8 TARA 765 785 20 2.61
9 BBCA 28,025 28,050 25 0.09
10 ERAA 1,105 1,145 40 3.62