Portal Berita Ekonomi Senin, 16 Desember 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:08 WIB. Peringkat Kemudahan Berbisnis - Singapura (2), Malaysia (12), Thailand (21), China (31), India (63), Vietnam (70), Indonesia (73), Filipina (95)
  • 08:55 WIB. Peringkat Anti Korupsi - Singapura (3), Malaysia (61), India (78), China (87), Indonesia (89), Filipina (99), Thailand (99), Vietnam (117)

Indonesia Harus Fokus dan Berkelanjutan untuk Bangun Poros Maritim

Indonesia Harus Fokus dan Berkelanjutan untuk Bangun Poros Maritim - Warta Ekonomi
WE Online, Bogor -

Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB (HA-FPIK IPB) apresiasi  pada visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia dan memajukan dunia Perikanan dan Kelautan.  Namun demikian, HA-FPIK IPB mendesak pemerintah harus lebih fokus dan berkelanjutan mewujudkan visi tersebut.

“Selama lebih dari dua tahun pemeritahan, kami  belum melihat fokus utama dan kerangka fundamental untuk mewujudkan visi menjadi poros maritim dunia yang berkelanjutan” Kata Ketua Himpunan Alumni Fakultas Perikanan IPB Abdul Aziz, pada acara RUAYA C-Day atau hari pulang Kampus Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, di Bogor, Sabtu (3/9/2016).

Menurutnya, seharusnya pemerintah mampu mewujudkan visi poros maritim, perikanan dan kelautan menjadi konsensus nasional yang kita fahami arah dan tujuannya.  “Saat ini kita (Indonesia) belum punya peta jalan, kerangka kerja, siapa melakukan apa, padahal hal ini sangat fundamental. Juga belum ada jaminan apakah program ini berkelanjutan dimasa mendatang,” tambah Aziz.

Bersyukur  Presiden Jokowi mengeluarkan Inpres No. 7 Tahun 2016 yang pada dasarnya melakukan percepatan pembangunan Industri perikanan nasional guna meningkatkan kesejahteraa masyarakat baik nelayan, pembudidaya, pengolah mau pun pemasar hasil perikanan.

Kemudian juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan devisa negara. Inpres 7 Tahun 2016 ini diharapkan menjadi landasan kepada 25 (K/L, Gubernur dan Bupati) dan diistruksikan kepadanya utk mangambil langkah-langkah yg dperlukan secara terkoordinasi.

“Terhadap situasi ini, bagi Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, kami komitmen untuk membantu mewujudkan visi pemerintah, dan saat inilah menjadi  kesempatan yang sangat baik untuk mengambil peran yang lebih nyata dengan visi besar pemerintahan saat ini,” ungkap Aziz.

Lebih lanjut dikatakan, alumni perikanan IPB juga komitmen untuk bersama-sama memajukan perikanan dan maritim Indonesia melalui kerjasama sinergis antara akademisi, dunia usaha dan pemerintah dalam membangun perikanan dan maritim Indonesia dengan membuka lapangan pekerjaan baru, menemukan inovasi-inovasi baru dalam pembangunan perikanan dan maritim pada masa kini dan yang akan datang.

“Semua bisa diselesaikan jika para alumni bisa turun langsung membangun perikanan dan maritim Indonesia. Jangan sampai bicara perikanan dan maritim bukan dilakukan oleh para alumni perikanan karena kitalah yang paling mengerti tentang hal ini. Alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB memiliki kompetensi yang tinggi  untuk membantu bersama-sama menyelesaikan persoalan ini” tegasnya.

Abdul Aziz  menghimbau kepada para alumni agar memanfaatkan laut untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Jangan biarkan laut kita yang begitu luas terbentang luas tidak dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia khususnya bagi para nelayan. Oleh karena itu Kami mengharapkan semua alumni mengambil peran dalam menjadikan Indonsia sebagai poros maritim dunia,” harap Aziz.

Baca Juga

Tag: poros maritim dunia, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Penulis/Editor: Fajar Sulaiman

Foto: Dedy Suwadha

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,747.08 3,709.59
British Pound GBP 1.00 18,951.81 18,757.67
China Yuan CNY 1.00 2,014.21 1,993.88
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,051.91 13,912.09
Dolar Australia AUD 1.00 9,726.73 9,622.99
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,800.56 1,782.46
Dolar Singapura SGD 1.00 10,394.96 10,285.44
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,708.63 15,550.93
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,395.00 3,357.16
Yen Jepang JPY 100.00 12,830.45 12,701.63

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6197.318 57.921 668
2 Agriculture 1424.860 10.203 20
3 Mining 1528.809 26.762 50
4 Basic Industry and Chemicals 976.378 16.198 77
5 Miscellanous Industry 1215.025 42.951 50
6 Consumer Goods 2023.673 9.223 56
7 Cons., Property & Real Estate 506.323 -1.997 83
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1122.442 14.680 76
9 Finance 1313.749 10.641 90
10 Trade & Service 768.113 0.709 166
No Code Prev Close Change %
1 ZBRA 72 97 25 34.72
2 IFII 300 374 74 24.67
3 TAMU 260 324 64 24.62
4 DWGL 180 218 38 21.11
5 UNIT 153 182 29 18.95
6 TIRA 214 252 38 17.76
7 MEGA 5,750 6,750 1,000 17.39
8 BIRD 2,470 2,890 420 17.00
9 NICK 260 300 40 15.38
10 SINI 1,200 1,350 150 12.50
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 79 52 -27 -34.18
2 IBFN 318 246 -72 -22.64
3 YULE 199 154 -45 -22.61
4 AMAG 302 234 -68 -22.52
5 LMSH 398 310 -88 -22.11
6 BIKA 197 160 -37 -18.78
7 BVIC 119 98 -21 -17.65
8 BKSW 172 142 -30 -17.44
9 PEGE 230 190 -40 -17.39
10 HERO 875 725 -150 -17.14
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,485 1,590 105 7.07
2 IPTV 505 510 5 0.99
3 TLKM 3,950 3,990 40 1.01
4 BNLI 1,310 1,275 -35 -2.67
5 TCPI 6,175 6,200 25 0.40
6 REAL 266 298 32 12.03
7 ADRO 1,475 1,590 115 7.80
8 BBRI 4,250 4,280 30 0.71
9 ASII 6,550 6,850 300 4.58
10 ACES 1,590 1,550 -40 -2.52