Empat Kiat Sukses Memulai Usaha Rumahan

Empat Kiat Sukses Memulai Usaha Rumahan Kredit Foto: Tri Yari Kurniawan

Nuraeni (49) merupakan potret wirausahawati yang gigih mengembangkan usaha rumahan di bidang pengolahan ikan. Tidak butuh modal besar, Nuraeni sukses membesarkan bisnis pengolahan ikan Fatimah Az-Zahra dengan jangkauan seluruh Indonesia. Dari modal patungan bersama dua rekannya sebesar Rp1,5 juta, kini omzetnya bisa melampaui Rp100 juta per bulan, tergantung pesanan.

Olahan ikan Fatimah Az-Zahra pun tidak lagi sebatas abon ikan, tapi dikembangkan ke produk lain, di antaranya yakni bakso ikan, nugget ikan, otak-otak, bandeng tanpa tulang, fillet udang, dan lainnya. Produksinya juga meningkat dari awalnya hanya 35 kilogram per bulan menjadi satu ton per bulan, bergantung pesanan yang masuk. Aneka produk pengolahan ikan tersebut dibanderol dengan harga mulai Rp20 ribu hingga Rp140 ribu.

Tentunya bukan pekerjaan mudah memulai dan mengembangkan usaha rumahan bagi Nuraeni yang hanya berstatus ibu rumah tangga. Selain tidak mempunyai modal besar, jaringan pemasaran pun tidak dimiliki. Kendati demikian, ibu tiga anak ini tidak pernah patah semangat hingga akhirnya sukses seperti sekarang. Nuraeni memiliki empat kiat sukses dalam memulai dan mengembangkan bisnis rumahan agar mampu terus bertahan.

Jurus pertama Nuraeni yakni sabar dan menjauhkan diri dari ketakutan. Memulai usaha pasti memiliki risiko, baik itu untung maupun buntung. Tinggal bagaimana mengelola risiko tersebut agar tidak menimbulkan kerugian.

"Selalu ada risiko dalam berusaha makanya kita harus sabar, yakin, dan percaya diri. Itu sangatlah penting melebih modal materi," kata Nuraeni saat ditemui Warta Ekonomi di rumah sekaligus lokasi usahanya di Jalan Barukang III, Makassar, Sabtu (4/2/2017).

Dalam prinsip Nuraeni, pengusaha sejati tidak mengenal kata "takut gagal". Toh, ketakutan sebenarnya merupakan momok yang menjauhkan keberhasilan. Ia menceritakan usaha bisnis pengolahan ikan yang dirintisnya hanyalah bermodal keyakinan.

"Jatuh bangun dalam usaha itu biasa. Saya sudah rasakan ditolak bank, diusir di toko, dan ditipu pelanggan. Semuanya harus menjadi pembelajaran," ucap perempuan yang memulai usaha rumahan sepeninggal suaminya, Ambo Rusdi, akibat serangan jantung pada 2004 lalu.

Jurus kedua Nuraeni, belajar administrasi dan sistem manajerial. Dalam berwirausaha, administrasi dan sistem manajerial sangat penting dan utama. Terlebih, untuk usaha yang dikerjakan bersama. Contohnya, usaha pengolahan ikan Fatimah Az-Zahra miliknya di mana pihaknya sudah mengatur pengelolaan keuangannya agar dilakukan terperinci.

"Harus pula dibedakan kebutuhan keluarga, usaha, dan kelompok," tutur dia.

Tidak melulu pengelolaan keuangan, administrasi dan sistem manajerial juga diperlukan untuk aspek lainnya, termasuk produksi dan pemasaran. Nuraeni senantiasa memberikan pembagian tugas yang jelas kepada para pekerjanya agar bisa lebih fokus dan terarah. Mulai dari yang mengurus pemasaran online, produksi, penagihan terhadap pelanggan yang berutang hingga pelaksanaan kegiatan sosial.

Nuraeni mengimbuhkan jurus ketiganya yakni menjemput bola atau peluang. Dalam berwirausaha, berdiam diri tidak akan membuat bisnis berkembang. Membangun jaringan dan relasi merupakan kunci sukses. Metode itulah yang diterapkannya sejak awal hingga usaha rumahannya dilirik pemerintah daerah dan BUMN. Saat ini, olahan ikan Fatimah Az-Zahra disokong langsung oleh PT Pertamina dan beberapa kantor dinas di Sulsel.

Guna memperluas jaringan, Nuraeni tidak pernah takut dan ragu untuk mencari peluang, khususnya program-program pemerintahan yang berkaitan pengembangan usaha. "Intinya selalu bersikap terbuka dan menjemput bola. Alhamdullilah, tiap pameran dari dinas maupun instansi lain, kami selalu diundang. Bantuan juga diberikan, baik itu pelatihan maupun bentuk lainnya," tutur alumnus Fisipol Unhas ini.

Bisnis olahan ikan Fatimah Az-Zahra, Nuraeni menuturkan memperoleh bantuan dana CSR dari PT Pertamina. Bentuknya berupa bantuan sarana dan prasarana, mulai dari freezer dan spinner pengolahan ikan. Bahkan, PT Pertamina menghibahkan bangunan untuk usahanya dan membantu proses pemasaran. Adapun dengan pemerintah daerah, pihaknya melayani berbagai pesanan produk dari pemerintah untuk kegiatan.

Jurus terakhir alias keempat Nuraeni yakni memperhatikan dan menjaga kualitas produk. Ia yakin kualitas produk yang baik akan memuaskan pelanggan. Muaranya, produk menjadi kian diminati. "Contohnya, olahan ikan yang saya buat, tidak pernah menggunakan minyak curah, tapi kemasan demi menjaga kualitas rasa. Pemilihan bahan baku juga penting," ujar peraih lebih dari 100 penghargan di bidang wirausaha dan pemberdayaan masyarakat itu.

Evaluasi produk untuk menjamin kualitas, menurut Nuraeni, harus rutin dilakukan. Tiap bulan, pihaknya melakukan rapat evaluasi dan gugus kendali mutu terkait produknya yang dipasarkan, baik itu ke pelanggan rumahan, toko oleh-oleh, dan pemesan besar dari sejumlah daerah di Indonesia.

"Kalau di suatu titik permintaan menurun, kami evaluasi dan cari tahu, apakah ada yang salah atau tidak," pungkasnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini