Portal Berita Ekonomi Selasa, 23 April 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:38 WIB. Impor - Tahan izin impor 100 ribu ton bawang putih lewat Perum Bulog dinilai sejahterakan petani bawang.
  • 16:37 WIB. Douw Nabire - Penerbangan di Bandara Douw Nabire kembali normal pascakebakaran.
  • 16:36 WIB. Pemilu - Sri Mulyani akan memberikan santunan kepada 91 petugas penyelenggara pemilu yang meninggal.
  • 16:35 WIB. Wisman - Menko Luhut menyoroti masalah sampah bisa mengurangi kunjungan wisman.
  • 16:35 WIB. Nelayan - Menteri KKP menyayangkan nelayan masih suka pakai bom untuk tangkap ikan.
  • 16:34 WIB. Impor - Kebijakan Mendag tahan impor harus diperkuat produksi bawang putih.
  • 16:20 WIB. BTN - Pendapatan komisi Bank BTN tumbuh 45% di kuartal pertama tahun 2019. 
  • 16:18 WIB. Dividen - PT Timah akan bagikan dividen senilai Rp185,97 miliar. 

Mengobati Birocrazy

Mengobati Birocrazy - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Birokrasi sudah lama menjadi sasaran kritik karena dinilai kurang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bukannya melayani, birokrasi justru ingin dilayani bahkan beberapa ada yang terjebak dalam kubangan korupsi. Perayaan HUT Korpri 29 November lalu harusnya bisa menjadi ajang refleksi, mau kemana dan harus bagaimana birokrasi Indonesia ke depan.

 

Menurut Dwiyanto, birokrasi sedang terjangkit penyakit parah yaitu kecenderungannya yang kuat pada status quo. Maksudnya, birokrasi sulit untuk diajak berubah. Tak peduli orde baru atau reformasi, birokrasi selalu begitu. Mau undang-undang lama atau baru, birokrasi tetap begitu. Presidennya sudah berganti-ganti, birokrasi masih saja begitu. Ciri yang selalu melekat pada birokrasi  dari dulu hingga sekarang adalah orientasinya pada kekuasaan, korupsi, pengejar rente, malas, menunggu perintah, paternalistik dan feodal.

 

Ada dua penyebab mengapa wajah birokrasi indonesia bisa seperti ini, yaitu faktor sejarah dan salah teori. Dilihat dari sejarahnya, gen birokrasi indonesia berasal dari pelayan raja di masa kerajaan terdahulu. Namanya juga pelayan raja, yang dilayani adalah para raja, bukan masyarakatnya. Masyarakat bukan sumber kekuasaan melainkan entitas yang berpotensi mengancam “tatanan” sehingga harus diamankan atau ditertibkan oleh kepanjangan tangan raja alias para pelayan raja. Kolonialisme eropa ternyata tidak menghapus karakter itu. Lagian untuk apa melayani masyarakat kalau niatnya menjajah. Orientasi melayani penguasa ini semakin diperkuat lagi pada masa orde baru dengan cara yang lebih sophisticated yaitu dengan membangun sistem karier birokrasi yang berpedoman pada selera atasan. tanpa patuh pada atasan, seorang pegawai rendahan tak akan bisa naik pangkat.

 

Budaya organisasi yang serba atasan ini kian mengakar ketika teori birokrasi resmi republik ini adalah birokrasi a la weberian plus manajemen pegawai taylorism. Dalam model ini, birokrasi diandaikan sebagai organisasi yang tersusun secara hirarkis, terspesialisasi, berdasarkan sop yang kaku nan baku. Lantaran kaku dan baku, perubahan kreatif atau inovasi menjadi sulit dilakukan. Dalam struktur organisasi yang hirarki itu, semakin ke atas struktur, tugasnya semakin manajerial atau think. Sebaliknya semakin rendah struktur, tugasnya semakin teknis. Hal ini mempersulit peluang adanya inovasi. Sebab sebuah inovasi kecil sekalipun harus meminta persetujuan dari atasan.

 

Teori yang bercampur dengan budaya organisasi yang feodal-kolonial inilah yang disebut dengan penyakit Weberian Plus. Penyakit Weberian Plus ini memiliki ciri utama: penguasa minded, hirarkis formalistik, rendah inovasi. Maka jangan heran jika hirarki organisasi tidak hanya urusan kedinasan melainkan selalu diikuti dengan embel-embel lainnya. Misalnya ketika mengisi daftar hadir acara. Urutan nomor kecil hanyalah milik atasan. Jadi sekalipun atasan telat, tandatangannya ya tetap di nomor satu; atasan mendapat parkiran tersendiri; berbicara dengan atasan jangan lupa mengucapkan mohon izin atau mohon arahan. Tentu saja webber tidak berpikir sejauh itu. Itu hanya modifikasi teori webber yang bercampur dengan budaya birokrasi feodal-kolonial.

 

Mengobati penyakit birokrasi yang sudah mendasawarsa ini butuh kerja keras. Pertama, dibutuhkan agen perubahan. Kedua, dibutuhkan pemimpin perubahan. Lalu apa instrumen atau alat yang dapat mengusahakan itu?

 

Dwiyanto melihat bahwa pendidikan adalah instrumen manipulasi karakter yang paling efektif. Posisinya sebagai Kepala LAN benar-benar dimanfaatkan untuk mereformasi kurikulum diklat PIM dan diklat Prajabatan. Jika sebelumnya diklat PIM menekankan kemampuan kognisi peserta yang dibuktikan dengan paper ilmiah, kini diklat PIM menuntut kemampuan peserta (umumnya pejabat) untuk membuat inovasi. Demikian juga pada diklat Prajabatan. Yang tadinya peserta hanya mendapat materi hak dan kewajiban pegawai, kini peserta dituntut untuk merancang dan melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi.

 

Dibandingkan buku bertema birokrasi yang lain, buku ini memiliki keunikan tersendiri. Buku ini terletak pada pemaparan pengalaman pribadi penulis, yang berlatar belakang akademisi, dalam memimpin salah satu lembaga pemerintahan, yaitu Lembaga Administrasi Negara (LAN). Sehingga buku ini tidak hanya bercerita tentang teori administrasi atau seni kepemimpinan belaka. 

 

Agus Dwiyanto berada di tengah tegangan kutub dilematik itu. Sebab yang jamak terjadi pemimpin terlalu textbook mengikuti teori. Lalai bahwa teori selalu merucut ketika hendak menggenggam realitas dunia yang bergerak sangat cepat dan dinamis, yang oleh Giddens disebut sebagai runaway world. Di sisi lain banyak juga pemimpin yang mengabaikan teori sebagaimana terangkum dalam ungkapan “tak peduli kucing hitam atau putih asal tujuan tercapai. Ini bahaya karena kucing ada juga yang penyakitan sehingga menyengsarakan pemilik dan lingkungannya. Agus Dwiyanto berhasil mengatasi dilema ini dengan tidak terlalu teori atau praktek minded. Dalam buku itu, teori menjadi aplikatif, praktik menjadi ideologis. 

 

 

Zamzam Muhammad Fuad. S.IP, M.Si 

Penulis adalah PNS di Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD), tengah menyiapkan buku biografi dan pemikiran politik Eko Cahyo Prihantono

Tag: Buku

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Ferry Hidayat

Foto: UGM Press

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,773.33 3,735.70
British Pound GBP 1.00 18,375.19 18,187.78
China Yuan CNY 1.00 2,109.36 2,088.49
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,150.00 14,010.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,087.54 9,986.33
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,803.65 1,785.69
Dolar Singapura SGD 1.00 10,436.64 10,331.86
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,920.17 15,755.65
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,426.15 3,388.15
Yen Jepang JPY 100.00 12,659.93 12,531.31

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6462.822 48.079 632
2 Agriculture 1471.418 6.415 21
3 Mining 1816.490 35.325 47
4 Basic Industry and Chemicals 835.511 4.182 71
5 Miscellanous Industry 1327.492 19.942 46
6 Consumer Goods 2506.880 31.053 52
7 Cons., Property & Real Estate 491.243 -0.634 75
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1162.999 14.156 73
9 Finance 1303.709 2.892 91
10 Trade & Service 815.278 5.604 156
No Code Prev Close Change %
1 HRME 466 580 114 24.46
2 ABBA 147 169 22 14.97
3 LUCK 840 960 120 14.29
4 BCAP 149 170 21 14.09
5 ALMI 525 595 70 13.33
6 CNTX 505 570 65 12.87
7 GSMF 110 123 13 11.82
8 JSKY 1,080 1,200 120 11.11
9 ZINC 555 615 60 10.81
10 MYTX 75 83 8 10.67
No Code Prev Close Change %
1 TRIS 266 200 -66 -24.81
2 ARTA 535 406 -129 -24.11
3 MTPS 1,210 920 -290 -23.97
4 CPRI 168 131 -37 -22.02
5 TRIO 155 121 -34 -21.94
6 IIKP 125 99 -26 -20.80
7 MTSM 238 202 -36 -15.13
8 BBLD 565 480 -85 -15.04
9 GHON 1,500 1,275 -225 -15.00
10 MKPI 17,175 15,000 -2,175 -12.66
No Code Prev Close Change %
1 CPRI 168 131 -37 -22.02
2 BGTG 82 83 1 1.22
3 TLKM 3,780 3,850 70 1.85
4 TRAM 111 112 1 0.90
5 ABBA 147 169 22 14.97
6 FREN 312 298 -14 -4.49
7 BUMI 113 125 12 10.62
8 ERAA 1,495 1,585 90 6.02
9 UNTR 26,075 27,200 1,125 4.31
10 ESTI 109 100 -9 -8.26