Rahasia Sukses Founder Tarrasmart Geluti Bisnis Start-up Digital

Rahasia Sukses Founder Tarrasmart Geluti Bisnis Start-up Digital Kredit Foto: Tri Yari Kurniawan

Sebelum akhirnya meraup untung, perjalanan bisnis start-up digital ala Tarrasmart penuh perjuangan dan tantangan. Di balik sukses aplikasi pemutar radio dan televisi berbasis Android tersebut, terselip sejuta kisah jatuh bangun dan rahasia sukses Tarrasmart.

Founder sekaligus owner Tarrasmart Cristianto Rian (25) mengungkapkan sejumlah rahasia atau kiat sukses sekaligus prinsip bisnis yang harus dipegang teguh dalam menjalankan bisnis start-up digital.

Rahasia pertama dan utama untuk menggapai sukses dalam berbisnis, Rian mengungkapkan ada pada komitmen dan niat disertai kerja keras. Tanpa komitmen untuk mewujudkan perencanaan maka semuanya akan sia-sia. Kalau pun berjalan, bisnis yang digeluti akan sulit berkembang atau bubar di tengah jalan.

"Untuk sukses bisnis, pegang teguh komitmen. Banyak orang yang memiliki mimpi, tapi tidak memiliki komitmen untuk mencapainya," kata Rian saat berbincang dengan Warta Ekonomi di Makassar, Minggu (23/4/2017).

Kiat sukses kedua yang tidak kalah penting, Rian menyebut senantiasa bertindak terukur dan tidak terlalu bergantung pada investor. Maksudnya, pengelola usaha start-up digital tidak boleh langsung mengiyakan keinginan setiap orang, termasuk investor dalam hal pengembangan aplikasi. Musababnya, terkadang keinginan orang itu sulit untuk direalisasikan dan membuat usaha start-up digital menjadi stagnan alias tidak berkembang. Pengelola start-up juga harus menggandeng investor yang memiliki visi sama.

"Dalam menjalankan bisnis start-up digital, kita harus berani katakan tidak. Banyak start-up yang terjebak pada persoalan itu. Ketika orang lain atau bahkan investor meminta sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dilakukannya, tetap saja menjawab iya. Kalau mau berhasil, harus berani mengatakan yang sejujurnya, termasuk mengatakan tidak bila memang tidak mungkin direalisasikan," kata alumnus STIMIK Dipanagera itu.

"Rahasia sukses ketiga yang tidak kalah penting, setelah berusaha kita harus selalu mengandalkan Tuhan. Yakinlah masih ada tangan Tuhan yang selalu menopang kita dalam beraktivitas," sambung Rian.

Perjalanan bisnis start-up digital ala Tarrasmarrt memang sempat terpuruk saat ditinggalkan oleh dua founder lainnya pada 2015-2016. Namun, Rian tidak patah semangat dan menjaga komitmennya untuk mengembangkan bisnis yang dirintisnya sejak 2013. Usaha pemuda ini pun tidak sia-sia dan mulai menunjukkan hasil setelah bergabung dengan program BEKUP alias Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk Pre-Start-up 01. Di situ, Rian mengaku memperoleh banyak ilmu, khususnya mengenai pengelolaan bisnis start-up digital.

Selanjutnya, Rian mengatakan upaya pengembangan aplikasi juga menjadi kunci penting untuk bisa bertahan dan berkembang dalam bisnis start-up digital. Tanpa adanya pengembangan, aplikasi akan ditinggalkan pengguna mengingat teknologi terus berkembang.

"Makanya, saya dan tim Tarrasmart terus belajar untuk pengembangan aplikasi. Pengembangan juga pasti kami lakukan ke IOS, sembari tetap mengembangkan aplikasi Tarrasmart di Android," papar dia.

Tarrasmart yang digagas Rian sendiri segera memasuki babak baru setelah terpilih sebagai satu dari 20-an UKM kreatif yang masuk program inkubator Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX) pada 2017. Tarrasmart mulai dilirik setelah menjadi salah satu start-up digital yang mewakili Indonesia pada ajang Start-up Istanbul pada 2016. Tarrasmart dianggap merupakan fitur atau aplikasi yang sangat berguna untuk masyarakat pengguna ponsel berbasis online.

Menurut Rian, penggabungan pemutar radio dan televisi dalam satu aplikasi masih terbilang baru di Indonesia. Hal itulah yang menjadi jualan dan nilai tambah aplikasi yang diciptakannya.

"Diferensiasi produk Tarrasmart ada pada penggabungan fitur radio dan televisi. Banyak aplikasi pemutar radio dan televisi, tapi sifatnya hanya tunggal. Kami mengembangkan keduanya dalam satu aplikasi, ditambah lagi adanya opsi berbasis kategori," pungkas dia.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini