Modal Rp500 Ribu, Bisnis Cireng Ini Raih Omzet Rp60 Juta Perbulan

Modal Rp500 Ribu, Bisnis Cireng Ini Raih Omzet Rp60 Juta Perbulan Kredit Foto: Rahmat Saepulloh

Penggemar cemilan khas Bandung tentu tidak asing lagi dengan jenis makanan ini, yup cireng yang merupakan singkatan dari aci digoreng bisa menjadi peluang baru di bisnis kuliner karena memiliki banyak penikmat.

Modal mini hasil maksi, begilah ungkapan yang tepat bagi produsen cireng ini. Betapa tidak, dengan modal sendiri yang hanya Rp500 ribu kini Citeta Cireng Crispy meraih omzet hingga Rp60 juta perbulan dengan penjualan sekitar 7.500 bungkus atau 1,5 ton tepung produksi setiap bulan.

Sebelum memulai bisnis tersebut, Rita Chandra, owner Citeta Cireng Crispy memulai usahanya dengan rendang padang kemasan pada 2011. Menurutnya, bisnis ini semula hanya iseng dan sebatas hobi memasak saja tetapi mendapatkan respons dari para penikmat kuliner, sedangkan untuk bisnis cireng sendiri dimulai sejak tahun 2014.

"Awalnya sih tahun 2011 baru pindah ke Bandung, saya usaha bikin rendang padang kemasan, sekedar iseng, terus hobi masak . Alhamdulillah banyak yang respons. Kemudian pada tahun 2014 saya coba mulai bikin cireng crispy bumbu rujak," katanya kepada Warta Ekonomi di Bandung, Minggu (30/4/2017).

Hingga kini Rita masih menjalankan kedua bisnis tersebut. Namun, dia mengaku bisnis rendang tidak diproduksi setiap hari dan hanya bila ada pesanan dari?pelanggan saja. Adapun, untuk bisnis cireng dia bisa memproduksi setiap hari. Selain rasanya yang enak dan cocok untuk cemilan keluarga, imbuhnya, cireng yang sudah memiliki tiga varian rasa ini tidak menggunakan bahan pengawet.

"Ya, baru tiga rasa. Insya Allah akan ada rasa baru, tapi lagi dalam tahap uji coba. Kalau ditanya keistimewaannya cireng ini, yang pasti crispy banget ditambah lagi sama bumbu rujaknya yang pedas-pedas manis. Digoreng pun tidak meletup karena kita pakai tepung yang kualitas bagus dan tidak memakai bahan pengawet," tuturnya.

Bukan tanpa kendala, Rita menjalankan bisnis cireng ini. Dia menceritakan ketika mulai menjalankan usaha ini semuanya dikerjakan sendiri meski dibantu oleh suami. Tapi karena suami memiiki pekerjaan maka proses produksi kerap kali terhambat. Padahal, mencari pegawai juga bukan perkara mudah.

"Akhirnya dapat satu orang (karyawan), itupun cuma bisa memproduksi maksimal 10 kg/hari. Akhirnya, lama-kelamaan pegawai bertambah terus. Sampai sekarang ada 16 pegawai. Bisa memproduksi sampai maksimal 200 kg/hari," paparnya.

Selain itu, ia juga pernah mengalami kesulitan bahan baku?karena musim hujan, kualitasnya jadi tidak?bagus. Saat itu?bentuk cireng menjadi kurang bagus. Kejadian-kejadian tersebut memotivasi dirinya untuk terus belajar sehingga bisa menghasilkan produk yang lebih baik.

"Namanya usaha pasti ada ruginya, naik-turunnya, tapi alhamdulillah bisa diatasi," ujarnya.

Perempuan asli Padang ini menuturkan strategi pemasaran bisnis cireng ini dengan mendistribusikan ke berbagai pasar tradisional, toko oleh-oleh khas Bandung, rest area di beberapa daerah di Indonesia. Selain pemasaran konvensional, Rita juga memasarkan via online dengan memakai media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Bukalapak, WA serta BB.

"Pemasarannya baru Bandung, Jabodetabek, Semarang, hingga luar Pulau Jawa seperti ?Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera," ujarnya.

Sarjana lulusan Universitas Bung Hatta Padang ini menuturkan bahwa secara tidak langsung pemasarannya dilakukan memalui berbagai event pameran baik yang merupakan inisiatif sendiri maupun dibantu oleh Dinas Perindustrian dan Perdangangan Kabupaten Bandung Barat.

"Alhamdulillah kalau soal perizinan, surat-menyurat seperti izin P-IRT, izin halal, dibantu sama dinas, tapi kalau soal finansial belum pernah dapat bantuan dari pemerintah," katanya.

Bisnis cireng yang berlokasi di Perumahan Cimareme Indah, Kabupaten Bandung Barat, ini secara rutin diberikan pelatihan berupa cara memproduksi yang higenis bagi belasan pegawainya. Namun, Rita mengaku belum memiliki asuransi untuk pengelolaan manajemen risiko usahanya. Fokus dan yakin menjadi andalan Rita dalam menjalankan bisnis kuliner ini.

"Selain itu pantang menyerah dengan tujuan dan cita-cita yang dimiliki dalam meraih kesuksesan bisnis yang dijalankan. Intinya kalau mau usaha harus fokus dan yakin, jangan pantang menyerah, jadikan halangan, ujian, tantangan sebagai pemicu kita untuk berhasil," pungkasnya.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

HerStory

Terpopuler

Terkini