Portal Berita Ekonomi Kamis, 19 Oktober 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 14:07 WIB. Jokowi - Presiden Jokowi harap tenaga kerja Indonesia mampu saingi Jerman dan Jepang.
  • 14:06 WIB. Transportasi - YLKI: Pemerintah tidak punya hak larang transportasi online.
  • 13:56 WIB. Yogyakarta - Eks vokalis Edane, Ecky Lamoh ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda DI Yogyakarta atas kasus pencemaran nama baik.
  • 13:33 WIB. Golkar - Dedi Mulyadi sebut Golkar bukan partai modern soal kasus SK bodong.
  • 13:30 WIB. Perppu Ormas - PAN kritik ketidakhadiran Panglima TNI, Kapolri dan Jaksa Agung pada RDP pembahasan Perppu Nomor 2/ 2017 tentang ormas.
  • 13:11 WIB. Telekomunikasi - Registrasi kartu SIM seluler tidak perlu nama ibu kandung.
  • 13:10 WIB. Telekomunikasi - XL Axiata hingga Hutchison Tri siap ikut lelang frekuensi 2,1 GHz.
  • 13:04 WIB. Intel - Intel resmi luncurkan Intel Nervana, chip yang diklaim akan membuat kecerdasan buatan 100 kali lebih hebat dan cepat.
  • 13:01 WIB. Kominfo - Kominfo telah kirim Surat Edaran ke seluruh operator terkait registrasi simcard.
  • 12:56 WIB. Samsung - Samsung luncurkan Bixby 2.0.
  • 11:21 WIB. China - Pertumbuhan kuartal ketiga China penuhi ekspektasi sebesar 6,8%.
  • 11:19 WIB. Catalonia - Catalonia akan nyatakan kemerdekaan jika Spanyol hentikan sistem otonomi daerah.
  • 11:18 WIB. Portugal - Mendagri Portugal mundur dari jabatannya pasca tragedi kebakaran hutam
  • 11:17 WIB. Minyak - CEO Total: akan memakan waktu bagi pasar minyak untuk 'rebalance'.
  • 11:15 WIB. JP Morgan - JP Morgan diwartakan beli fintech 'start-up' WePay.

KPK Terima Surat Permintaan Pemanggilan Miryam

Foto Berita KPK Terima Surat Permintaan Pemanggilan Miryam
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menerima surat dari Pansus Hak Angket KPK terkait dengan permintaan pemanggilan mantan anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani dalam rapat Pansus di gedung MPR/DPR RI.

"Kami sudah terima surat dari DPR yang ditandatangani oleh Wakil Ketua DPR dan tentu kami menghormati fungsi dan pengawasan yang dilakukan oleh DPR," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Jumat (16/6/20170.

Penghormatan itu salah satunya kata Febri adalah dengan merespons surat tersebut di mana KPK juga perlu memastikan apa yang akan dilakukan oleh KPK.

"Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, KPK tidak ingin dan tidak boleh juga melanggar hukum," tuturnya.

Febri menyatakan respons surat itu nantinya berdasarkan pertimbangan dan KPK juga akan melihat Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

"Kami akan lihat posisi KPK dalam pelaksanaan tugas penyidikan sampai dengan persidangan. Kami juga perlu memisahkan antara proses politik dan proses hukum, jadi itu lah yang akan menjadi dasar respons KPK," kata Febri.

Terkait hak angket itu, ia pun menegaskan bahwa KPK tidak ingin mencampuradukkan antara persoalan hukum dan persoalan politik.

"Itu yang menjadi tolak ukur KPK. Selain itu juga kami pertimbangkan aturan hukum yang berlaku," ucap Febri.

Febri pun menyatakan KPK akan menyampaikan respons atas surat dari DPR tersebut paling lambat pada Senin (19/6).

"Nanti jawabannya selengkapnya akan kami sampaikan. Ya paling lambat kami sampaikan Senin," kata Febri.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (HTN-HAN) Mahfud MD mengatakan pembentukan Panitia Khusus Hak Angket KPK di DPR RI bukan hal yang strategis.

"Di dalam Undang-Undang itu disebutkan materi hak angket itu menyangkut satu hal penting bukan masalah rutin, kedua hal strategis, dan yang ketiga mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat," kata Mahfud saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu (14/6/2017).

Menurut Mahfud, kesaksian mantan anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Kamis (23/3 yang mengaku ditekan penyidik adalah hal biasa.

"Itu kan hal biasa tidak ada hal yang gawat di situ dan itu kan juga sudah dibuktikan dalam sidang praperadilan sudah benar, ini kan tidak ada strategisnya juga dan tidak berpengaruh luas terhadap masyarakat. Ini masalah biasa saja masyarakat menganggap pemeriksaan Miryam itu biasa," tuturnya.

Mahfud juga menyatakan jika DPR berpikir pembentukan Pansus Hak Angket itu bukan hanya soal Miryam S Haryani tetapi ada soal lain itu, maka itu tidak diperbolehkan.

"Hak angket itu harus fokus apa yang mau diangket kalau nanti masalahnya mau dicari oleh Pansus itu tidak boleh, tidak "fair" secara hukum," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut.

Usulan hak angket ini tercetus saat KPK melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III pada Rabu (19/4) dini hari karena KPK menolak untuk membuka rekaman pemeriksaan mantan anggota Komisi II dari fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani di luar persidangan terkait kasus KTP Elektronik.

Pada sidang dugaan korupsi KTP-E pada 30 Maret 2017, penyidik KPK yang menangani kasus tersebut yaitu Novel Baswedan mengatakan bahwa Miryam ditekan oleh sejumlah anggota Komisi III untuk tidak mengakui fakta-fakta menerima dan membagikan uang dalam penganggaran KTP-E.

Nama-nama anggota Komisi III itu menurut Novel adalah Ketua Komisi III dari fraksi Golkar Bambang Soesatyo, Wakil Ketua Komisi III dari fraksi Gerindra Desmond Junaidi Mahesa, anggota Komisi III dari Fraksi Partai Hanura, Sarifuddin Suding, anggota Komisi III dari Fraksi PDI-Perjuangan Masinton Pasaribu dan satu orang lagi yang Novel lupa Novel.

KPK telah menetapkan Miryam sebagai tersangka memberikan keterangan tidak benar pada persidangan perkara tindak pidana korupsi proyek KTP elektronik (KTP-e) atas nama terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Miryam S Haryani disangkakan telah melanggar Pasal 22 juncto Pasal 35 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. (HYS/Ant)

Tag: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Miryam S Haryani, Febri Diansyah

Penulis: ***

Editor: Hafit Yudi Suprobo

Foto: Antara/Reno Esnir

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,623.54 3,587.18
British Pound GBP 1.00 17,945.63 17,762.00
China Yuan CNY 1.00 2,056.04 2,035.47
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,589.00 13,453.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,667.37 10,559.26
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,741.11 1,723.62
Dolar Singapura SGD 1.00 10,005.15 9,899.19
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,036.38 15,871.85
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,217.09 3,182.64
Yen Jepang JPY 100.00 12,024.60 11,902.15

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5929.201 -18.129 565
2 Agriculture 1758.073 12.041 18
3 Mining 1491.369 -5.952 45
4 Basic Industry and Chemicals 631.044 -0.065 68
5 Miscellanous Industry 1359.953 -29.264 43
6 Consumer Goods 2530.716 2.510 45
7 Cons., Property & Real Estate 496.887 -2.220 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1165.095 -17.291 60
9 Finance 1023.450 -2.740 90
10 Trade & Service 926.677 8.619 131
No Code Prev Close Change %
1 KIOS 2,120 2,650 530 25.00
2 ZINC 296 370 74 25.00
3 MTWI 442 550 108 24.43
4 ANJT 1,280 1,540 260 20.31
5 VINS 147 176 29 19.73
6 MLIA 550 650 100 18.18
7 VIVA 240 278 38 15.83
8 SRAJ 180 208 28 15.56
9 MBSS 525 585 60 11.43
10 INDS 1,240 1,340 100 8.06
No Code Prev Close Change %
1 ARTA 635 478 -157 -24.72
2 TGKA 2,500 1,900 -600 -24.00
3 AKSI 640 530 -110 -17.19
4 HDFA 226 204 -22 -9.73
5 LCGP 105 96 -9 -8.57
6 ALKA 348 320 -28 -8.05
7 ERTX 156 144 -12 -7.69
8 INRU 326 302 -24 -7.36
9 SHID 1,450 1,350 -100 -6.90
10 YULE 150 140 -10 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 402 404 2 0.50
2 TLKM 4,400 4,300 -100 -2.27
3 ERTX 156 144 -12 -7.69
4 LMAS 71 68 -3 -4.23
5 PGAS 1,610 1,660 50 3.11
6 MBSS 525 585 60 11.43
7 BBCA 20,500 20,200 -300 -1.46
8 BUMI 198 197 -1 -0.51
9 PBRX 500 496 -4 -0.80
10 PKPK 81 76 -5 -6.17