Portal Berita Ekonomi Rabu, 20 September 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 11:06 WIB. Kurdi - Otoritas Israel dukung pembentukan negara Kurdi.
  • 11:05 WIB. Qatar - Otoritas Mesir dikabarkan siap lakukan upaya dialog dengan Qatar.
  • 11:04 WIB. Palestina - Indonesia dorong gerakan Non-Blok agar akui Palestina.
  • 11:03 WIB. Australia - Indonesia dan Australia segera selesaikan perundingan 'Comprehensive Economic Partnership Agreement' (CEPA).
  • 11:01 WIB. Inggris - Arab Saudi dan Inggris sepakati kerja sama dalam bidang militer.
  • 11:00 WIB. Rusia - Otoritas Rusia resmikan patung Kalashnikov, yang merupakan penemu senjata AK-47.
  • 10:58 WIB. Aung San Suu Kyi - Muslim Rohingya sebut Suu Kyi sebagai pengkhianat karena tidak percaya janji dari 'State Conseleour' Myanmar tersebut.
  • 10:56 WIB. Korea Utara - Otoritas India selidiki keterlibatan Pakistan dalam program nuklir Korea Utara.
  • 10:55 WIB. Mexico - Gempa di Mexico City renggut lebih dari 138 nyawa manusia.
  • 10:54 WIB. Rakhine - Ribuan Muslim Rohingya masih terjebak di Rakhine, Myanmar.
  • 10:54 WIB. Hamas - Hamas minta Presiden Abbas agar cabut sanksi atas Gaza.
  • 10:24 WIB. WIKA -  Wijaya Karya bakal menerbitkan obligasi global US$250 juta hingga US$500 juta pada semester II-2017.
  • 08:43 WIB. JK - Wapres JK sebut Trump tidak berniat selesaikan Rohingya.
  • 08:46 WIB. Opini WTP - Jaksa akan panggil Mendes terkait suap WTP.
  • 08:46 WIB. Film - Panglima TNI sebut pemutaran film G30S/PKI agar sejarah tidak kelam.

Menperin Resmikan Koperasi Industri Tanah Air

Foto Berita Menperin Resmikan Koperasi Industri Tanah Air
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, meresmikan Koperasi Industri Tanah Air (KITA), yang digagas komunitas tekhnik industri, di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta.

"Koperasi KITA diharapkan menjadi satu kekuatan baru yang bisa mempercepat tumbuh dan berkembangnya sektor industri terutama industri kecil dan menengah (IKM) dengan menghimpun dan melibatkan kekuatan masyarakat lapisan bawah dan menengah," kata Airlangga, di Jakarta, Senin (17/7/2017).

Koperasi KITA kiprah tiga organisasi yang bekerjasama yaitu Badan Kejuruan Teknik Industri Persatuan Insinyur Indonesia, Badan Kerjasama penyelenggaran Pendidikan Teknik Industri seluruh Indonesia, dan Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri.

Airlangga memaparkan, dengan persaingan usaha yang semakin ketat, diperlukan kecepatan, kreatifitas dan inovasi, serta kerja sama unsur-unsur bangsa sehingga produk Indonesia bisa membanjiri pasar dunia dengan produk-produk unggulan dan inovatif hasil karya bangsa putra-putri Indonesia.

"Untuk yang terakhir ini pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Diperlukan kerja sama dan partisipasi berbagai pihak khususnya mereka lapisan masyarakat menengah ke atas yang memiliki pendidikan lebih baik atau lebih tinggi. Kerjasama ini juga harus melibatkan perguruan tinggi dan perusahaan maupun lembaga swasta lainya," papar Airlangga.

Guna memperkuat posisi Indonesia sebagai negara industri maju, lanjutnya, maka penguatan sektor industri nasional mutlak diperlukan. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah saat ini adalah fokus pada beberapa kebijakan, yaitu pertama, penguatan SDM Industri melalui penguatan pendidikan vokasi.

Dalam hal ini, Kemenperin meluncurkan program Link and Match antara SMK dan Industri, program ini telah mengawinkan lebih dari 200 SMK dengan ratusan Industri di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta dan pekan depan kami akan luncurkan program yang sama di Jawa Barat. 

 
"Selain link and match ini kami juga mendorong diklat 3 in 1 untuk sektor-sektor industri padat karya seperti sektor industri garmen. Saya berharap Koperasi Industri Tanah Air ini juga dapat berperan serta aktif pada program ini," ujar Airlangga.

Kedua, pendalaman struktur industri; dia mendorong pendalaman struktur industri untuk penguatan pohon industri, khususnya pada sektor hulu.

Dengan program ini Airlangga berharap Indonesia akan menjadi kekuatan dunia pada beberapa sektor industri seperti industri stainless steel, pulp and paperserta otomotif. 
 
Ketiga, pengembangan sektor IKM melalui digitalisasi, di mana sektor digital adalah sektor yang sedang tumbuh tinggi saat ini, maka kami mendorong agar IKM Indonesia dapat memanfaatkan e-commerce setempat dan fintech setempat untuk melejitkan pasar produk-produk IKM.

Keempat, Industri Padat Karya Berorientasi Ekspor, di mana Kementerian Perindustrian mendorong industri padat karya yang memiliki pangsa pasar ekspor besar seperti tekstil, perhiasan, furnitur, elektronika dapat didorong demi pemerataan ekonomi.

"Karena itu saya juga mendorong Koperasi Industri Tanah Air dapat berperan aktif pada sektor ini demi mendorong pemerataan ekonomi," tukas Airlangga.

Terakhir, implementasi Industri 4.0 Industri 4.0 relatif baru di dunia, namun seluruh negara-negara khususnya negara-negara G20 berlomba-lomba untuk dapat masuk dalam fase ini. "Untuk itu Kementerian Perindustrian juga mendorong agar implementasi Industri 4.0 ini dapat mengembangkan sektor industri yang lebih efisien dan produktif," ungkap Airlangga.

Penerapan Industri 4.0 ini dapat dilihat pada industri elektronika, industri makanan (coklat) dan Industri otomotif. Kementerian Perindustrian sendiri saat ini sedang mengkaji mengenai kesiapan Indonesia untuk Industri 4.0 ini. (Ant)

Tag: Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Airlangga Hartarto, industri kreatif

Penulis: ***

Editor: Vicky Fadil

Foto: Kementerian Perindustrian

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,556.17 3,520.79
British Pound GBP 1.00 18,038.27 17,858.41
China Yuan CNY 1.00 2,030.76 2,010.66
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,336.00 13,204.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,694.14 10,585.65
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,708.91 1,691.93
Dolar Singapura SGD 1.00 9,910.82 9,806.89
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,024.54 15,860.64
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,182.06 3,148.31
Yen Jepang JPY 100.00 11,962.68 11,841.09

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5901.326 16.715 559
2 Agriculture 1783.327 -0.607 18
3 Mining 1475.072 19.006 44
4 Basic Industry and Chemicals 607.623 -2.002 67
5 Miscellanous Industry 1335.079 9.143 41
6 Consumer Goods 2548.786 -5.073 45
7 Cons., Property & Real Estate 507.574 5.183 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1227.754 -0.972 60
9 Finance 990.156 3.005 89
10 Trade & Service 920.632 9.128 130
No Code Prev Close Change %
1 DGIK 67 79 12 17.91
2 MEDC 740 845 105 14.19
3 SONA 1,850 2,100 250 13.51
4 BSWD 1,540 1,745 205 13.31
5 INCF 190 214 24 12.63
6 BUMI 202 224 22 10.89
7 MCOR 204 226 22 10.78
8 APII 234 258 24 10.26
9 BMTR 496 545 49 9.88
10 LPLI 175 192 17 9.71
No Code Prev Close Change %
1 HDTX 420 318 -102 -24.29
2 AHAP 195 160 -35 -17.95
3 VINS 167 146 -21 -12.57
4 BBMD 1,400 1,225 -175 -12.50
5 RMBA 428 380 -48 -11.21
6 MICE 400 368 -32 -8.00
7 ALKA 450 418 -32 -7.11
8 ASMI 980 915 -65 -6.63
9 PKPK 86 81 -5 -5.81
10 IGAR 418 394 -24 -5.74
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 342 356 14 4.09
2 WAPO 126 123 -3 -2.38
3 PGAS 1,715 1,620 -95 -5.54
4 SSMS 1,450 1,490 40 2.76
5 LEAD 102 112 10 9.80
6 ASRI 364 402 38 10.44
7 PBRX 462 464 2 0.43
8 TRAM 160 168 8 5.00
9 VRNA 102 100 -2 -1.96
10 WSKT 1,815 1,905 90 4.96