Portal Berita Ekonomi Minggu, 19 November 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 23:59 WIB. Liga Inggris - WBA 0 - 4 Chelsea
  • 23:58 WIB. Liga Inggris - Liverpool 3 - 0 Southampton
  • 23:56 WIB. Liga Inggris - Leicester City 0 - 2 Manchester City
  • 23:23 WIB. Jerman - Otoritas Arab Saudi panggil Duta Besarnya yang berada di Jerman.
  • 23:21 WIB. Sri Mulyani - Sri Mulyani: pertumbuhan ekonomi harus tekan kemiskinan.
  • 23:21 WIB. Tesla - Tesla kenalkan truk bertenaga listrik pertamanya di Los Angeles, AS.
  • 23:20 WIB. Turki - Ekspor serial televisi Turki tertinggi kedua setelah AS.
  • 23:15 WIB. Amerika Serikat - Otoritas AS kembangkan sistem pertahanan berbasis luar angkasa.
  • 23:14 WIB. Palestina - Otoritas AS ancam akan tutup kantor perwakilannya di Palestina.
  • 23:13 WIB. Lebanon - Otoritas Arab Saudi minta warganya segara tinggalkan Lebanon.
  • 23:12 WIB. Lebanon - Bahas krisis Politik, PM Lebanon melawat ke Prancis.
  • 23:10 WIB. Israel - Menlu Berut: perang melawan Beirut, Israel akan kalah.
  • 22:01 WIB. Bawang Merah - Harga bawang merah di Kepulauan Bangka Belitung mengalami kenaikan.
  • 22:00 WIB. Cabai - Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional di Kepulauan Bangka Beltung turun.
  • 22:00 WIB. Toyota - Toyota wilayah Riau memberikan penghargaan ke 23 karyawan berupa emas.

Boris Johnson: Suu Kyi Harus Segera Bertindak!

Foto Berita Boris Johnson: Suu Kyi Harus Segera Bertindak!
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Pemimpin dari Inggris, AS, Prancis, Kanada dan Australia telah mendesak pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi untuk menghentikan kekerasan terhadap Rohingya.

Komentar tersebut disampaikan menjelang pidato nasional yang dijadwalkan oleh Aung San Suu Kyi pada hari Selasa, mengenai apa yang AS sebut sebagai "momen yang menentukan" bagi pemimpin de facto Myanmar itu.

Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian, mendapat kecaman yang meningkat selama sebulan terakhir karena lebih dari 410.000 orang Rohingya telah meninggalkan Myanmar ke negara tetangga Bangladesh, upaya melarikan diri dari etnis Rohingya yang oleh PBB digambarkan sebagai "pembersihan etnis".

Mereka yang telah melarikan diri telah menceritakan pembunuhan tanpa pandang bulu, pemerkosaan, penyiksaan dan pembakaran oleh pasukan keamanan Myanmar di negara bagian Rakhine, tempat mayoritas Rohingya tinggal.

"Apa yang kita upayakan untuk membuat semua orang setuju adalah bahwa, nomor satu, pembunuhan harus dihentikan, dan kekerasan harus dihentikan," Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada kantor berita Reuters sebelum mengadakan pertemuan tingkat menteri di sela-sela Majelis Umum PBB untuk membahas cara-cara mengatasi krisis Rohingya.

"Kita tidak hanya melihat ke militer tapi juga pada Daw Suu untuk menunjukkan ," ujarnya.

Pertemuan tersebut mengahadirkan beberapa pihak seperti menteri dari Kanada, Denmark, Turki, Australia, Indonesia, Swedia, Bangladesh, Amerika Serikat dan seorang perwakilan dari Uni Eropa.

Dalam sebuah pernyataan setelah itu, Johnson mengatakan bahwa sementara Myanmar telah
"mendorong kemajuan menuju demokrasi dalam beberapa tahun terakhir, situasi di Rakhine, pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan yang mengerikan adalah noda pada reputasi negara tersebut," ungkapnya.

"Sangat penting bahwa Aung San Suu Kyi dan pemerintah sipil memperjelas bahwa kekerasan ini harus dihentikan," pungkasnya, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Selasa (19/9/2017).

Aksi kekerasan terakhir di Myanmar dimulai pada 25 Agustus setelah para pejuang Rohingya menyerang lebih dari 30 pos polisi dan tentara, yang memicu tindakan keamanan terhadap orang Rohingya.

Tag: Muslim Rohingya, Rohingya, Krisis Kemanusiaan Rohingya, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), Myanmar, Alexander Boris de Pfeffel Johnson, Inggris, Aung San Suu Kyi, Rakhine

Penulis/Editor: Hafit Yudi Suprobo

Foto: Reuters

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,622.47 3,586.11
British Pound GBP 1.00 17,989.26 17,803.79
China Yuan CNY 1.00 2,049.73 2,029.21
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,585.00 13,449.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,330.03 10,223.93
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,739.79 1,722.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,036.94 9,934.26
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,058.83 15,892.68
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,263.66 3,228.66
Yen Jepang JPY 100.00 12,086.30 11,963.17

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6051.732 13.825 562
2 Agriculture 1744.479 -5.651 18
3 Mining 1583.409 -1.889 43
4 Basic Industry and Chemicals 661.247 4.339 68
5 Miscellanous Industry 1375.383 -5.666 43
6 Consumer Goods 2594.790 -30.613 45
7 Cons., Property & Real Estate 500.839 1.989 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1157.617 -1.198 58
9 Finance 1064.875 15.680 90
10 Trade & Service 900.127 2.538 132
No Code Prev Close Change %
1 ESSA 159 180 21 13.21
2 CANI 280 312 32 11.43
3 RIMO 202 224 22 10.89
4 WINS 350 378 28 8.00
5 IIKP 252 272 20 7.94
6 MYTX 127 137 10 7.87
7 MAMI 98 105 7 7.14
8 ADMG 204 218 14 6.86
9 MARK 1,395 1,490 95 6.81
10 SCMA 2,000 2,130 130 6.50
No Code Prev Close Change %
1 INCF 210 173 -37 -17.62
2 PTSN 242 210 -32 -13.22
3 ARII 950 850 -100 -10.53
4 FORU 208 187 -21 -10.10
5 AIMS 152 137 -15 -9.87
6 RMBA 378 346 -32 -8.47
7 TIRA 262 240 -22 -8.40
8 BULL 184 169 -15 -8.15
9 HDFA 191 176 -15 -7.85
10 CMPP 376 350 -26 -6.91
No Code Prev Close Change %
1 PBRX 488 494 6 1.23
2 MNCN 1,460 1,475 15 1.03
3 SIMA 408 402 -6 -1.47
4 BMTR 590 580 -10 -1.69
5 BTEK 132 130 -2 -1.52
6 BBRI 3,210 3,290 80 2.49
7 RIMO 202 224 22 10.89
8 ESSA 159 180 21 13.21
9 BBCA 21,025 21,175 150 0.71
10 TLKM 4,200 4,200 0 0.00