Portal Berita Ekonomi Kamis, 26 April 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 20:36 WIB. Askrindo Syariah - Askrindo Syariah kerja sama kafalah dengan Puskopssim NU Jatim.
  • 20:33 WIB. BUMN - Bank BUMN akan masuk ke switching JPN melalui danareksa.
  • 20:32 WIB. BNI - Pertumbuhan deposito BNI turun 1,55% YoY menjadi Rp168,84 triliun.
  • 20:30 WIB. Askrindo - Sampai Q1 2018, Askrindo raih hasil underwriting sebesar Rp822 miliar, naik 29% YoY.
  • 20:28 WIB. Askrindo - Askrindo bidik premi Rp5,3 triliun sampai tutup tahun 2018.
  • 20:27 WIB. Askrindo - Hingga Maret 2018, Askrindo cetak premi bruto sebesar Rp889 miliar, meningkat 38% YoY.
  • 20:25 WIB. Mandiri - Bank Mandiri catat kredit yang belum ditarik pada QI 2018 sebesar Rp151,3 triliun.
  • 20:22 WIB. Pertamina - Pertamina minta harga khusus untuk beli minyak mentah domestik.
  • 20:21 WIB. Pertamina - Nicke Widyawati akui kenaikan harga minyak mentah tekan biaya produksi premium.
  • 20:16 WIB. BSDE - Bumi Serpong Damai akan menerbitkan obligasi senior berdenominasi dolar AS senilai US$250 juta.

Asuransi Jiwa Harus Perkuat Dua Kunci: SDM dan TI

Foto Berita Asuransi Jiwa Harus Perkuat Dua Kunci: SDM dan TI
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Industri asuransi jiwa masih optimistis akan tumbuh menggembirakan di tahun ini. Industri ini memang berbeda dengan nasib beberapa industri lain, mereka sedang tergopoh-gopoh mempertahankan pertumbuhan bisnisnya agar menuai positif. 

Berdasarkan laporan yang dirilis Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), total pendapatan industri asuransi jiwa mencapai Rp56,96 triliun selama kuartal I tahun 2017. Nilai tersebut tumbuh sebesar 16,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp48,94 triliun.

Begitu pula dengan pendapatan premi yang tumbuh positif. Total pendapatan premi meningkat sebesar 25,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2016. Adapun total pendapatan premi para kuartal I tahun 2017 mencapai sebesar Rp34,4 triliun.

Asuransi jiwa memang selalu tumbuh double digit. Selama 10 tahun terakhir, pendapatan premi asuransi jiwa tumbuh berkisar 10%—30%. Oleh sebab itu, industri ini pede akan tumbuh pada kisaran angka tersebut. Bahkan kita bisa meyakinkan, apa pun yang terjadi di Indonesia, industri asuransi jiwa akan berkembang dengan kisaran pertumbuhan sebesar angka tersebut. Itu yang selalu kita dengungkan setiap tahun, dan memang terbukti. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya industri asuransi jiwa di Indonesia tumbuh lebih baik dibandingkan dengan industri yang lain.

Namun ada catatan penting, pertumbuhan premi sebesar itu disumbang dari premi renewal, premi yang diperoleh dari tertanggung lama yang melanjutkan asuransi yang dimilikinya. Adapun premi new business tidak begitu banyak bila dibandingkan dengan harapan. Kontribusi dari premi renewal masih menjadi mayoritas, yakni sekitar 60% hingga 70%. Kontribusi yang besar dari tertanggung lama bukan pula menjadi berita buruk bagi perusahaan. Adanya premi yang diperoleh dari tertanggung lama mengindikasikan adanya keberlanjutan dari asuransi. Masyarakat sudah melihat asuransi sebagai kebutuhan sehingga mereka melakukan perpanjangan pembayaran premi lagi.

Ada catatan penting yang harus menjadi perhatian industri perasuransian Indonesia agar bisnis bergerak positif dalam berbagai zaman. Sumber daya manusia (SDM) dan teknologi informasi (TI) menjadi kunci agar bisnis mampu berjalan efisien. SDM yang mumpuni serta teknologi yang mengurai permasalahan perusahaan dan konsumen akan mengantarkan perusahaan menuju jenjang yang lebih tinggi. 

Kemampuan SDM perasuransian harus tinggi. Kemampuan tersebut akan membentuk peningkatan kepercayaan asuransi di masyarakat menjadi jauh lebih cepat. Mulai dari 580 ribu orang agen asuransi yang menjadi ujung tombak hingga pegawai yang mengurus proses pencairan klaim. Semua bagian tersebut menentukan persepsi yang akan dibentuk oleh masyarakat. Oleh sebab itu, industri asuransi harus rajin mengevaluasi dan meningkatkan kapasitas serta kemampuan SDM perasuransian.

Perkembangan teknologi harus menjadi perhatian industri ini. Digitalisasi yang terjadi di berbagai bidang usaha harus bisa diimbangi oleh industri perasuransian di Indonesia. Masyarakat yang sudah semakin melek teknologi menuntut berbagai kemudahan yang berbasis digital. Memang, industri asuransi tidak bisa serta merta mengadopsi teknologi. Asuransi harus bertahap dalam memilah dan memilih teknologi yang cocok dengan industri ini. 

Teknologi yang sesuai dengan karakter industri ini harus dianalisis secara tepat. Pasalnya, industri ini masih membutuhkan sentuhan manusia (SDM). Oleh sebab itu, kita tidak bisa serta merta menghilangkan peran SDM. Namun sekali lagi, asuransi harus siap dengan perkembangan teknologi. Artinya, industri ini harus bisa masuk ke sana. Kita bisa berkaca pada kejadian beberapa tahun lalu mengenai GOJEK dan Grab, but nobody worry. Tetapi nyatanya, tidak lebih dari lima tahun setelah itu booming. Artinya, asuransi juga harus mulai berpikir ke arah sana, seperti menjual asuransi lewat digital dan lain sebagainya.

Kita harus menyadari bahwa lima tahun ke depan, Generasi Y akan lebih memilih untuk membeli asuransi melalui jalur digital. Jika ingin menang di pasar ini, dalam lima tahun ke depan perasuransian harus berada di sistem yang diatur dengan digital, apps, atau channel distribusi yang berbasis teknologi lainnya.

Kita harus mulai bekerja dengan cara-cara perspektif masa mendatang, terlepas kondisi sekarang yang masih membutuhkan campur tangan agen dalam penjualan. Meskipun demikian, secara perlahan, tekonogi akan menggeser campur tangan manusia secara langsung dalam penjualan asuransi. Sepuluh tahun mendatang, generasi Y akan masuk ke industri ini. Kebutuhan mereka terhadap personal touch akan kurang. Oleh sebab itu, perlahan tampaknya akan mengurangi jumlah agen. Jumlah agen akan berkurang, tetapi tidak akan menghilangkan peranan agen itu sendiri. Barangkali, bentuk agen akan bertransformasi menjadi agen dalam bentuk yang lain. 

Lantas, bagaimana dengan Asuransi Jiwasraya sebagai pemain perasuransian yang sudah berusia lebih dari 1,5 abad ini merespons fenomena digitalisasi? Beberapa tahun belakangan, Jiwasraya memang melakukan banyak improvement untuk TI. Penguatan yang dilakukan salah satunya ialah divisi TI yang sudah diisi oleh orang-orang profesional sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman. Improvement TI yang dilakukan juga semakin kaya. Kalau dulu menggunakan TI hanya untuk database saja, sekarang sudah meluas untuk kepentingan lainnya yang bisa mempercepat bisnis Jiwasraya. 

Rencananya, tahun ini Asuransi Jiwasraya akan launching apps. Tentunya besutan Jiwasraya tersebut akan disesuaikan dengan target pasar dan kesiapan konsumen asuransi di Indonesia. Berbicara TI, tentunya bukan  berbicara investasi yang ringan, butuh investasi yang besar untuk mengembangkan TI. Tahun 2017, investasi TI Jiwasraya naik sekitar 30%—35%. Itulah keseriusan yang tercermin dari perusahaan ini.

Seiring perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh perusahaan, tentunya tidak lupa sebagai entitas bisnis harus menggairahkan bisnisnya. Asuransi jiwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menargetkan bisa tetap berada di tiga besar industri dan harus memiliki aset mendekati atau minimum Rp50 triliun. Itulah goal besarnya. Sekarang ini, perusahaan sudah mendekati angka Rp46 triliun, harapannya bisa mencapai Rp50 triliun di akhir tahun ini. Adapun target pendapatan premi tahun ini mencapai Rp22,5—25 triliun sampai akhir tahun. 

Tag: Asuransi, Hendrisman Rahim

Penulis: Hendrisman Rahim, Direktur Utama Asuransi Jiwasraya

Editor: Ratih Rahayu

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6079.850 -149.785 575
2 Agriculture 1691.011 -31.360 19
3 Mining 1877.346 -42.097 44
4 Basic Industry and Chemicals 781.433 -8.162 70
5 Miscellanous Industry 1242.763 -22.004 44
6 Consumer Goods 2488.443 -60.680 45
7 Cons., Property & Real Estate 491.788 -8.964 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1073.061 -14.195 64
9 Finance 1074.721 -45.611 90
10 Trade & Service 933.441 -9.438 134
No Code Prev Close Change %
1 KOBX 189 254 65 34.39
2 ABBA 64 81 17 26.56
3 SHID 1,310 1,550 240 18.32
4 MTSM 274 324 50 18.25
5 PEGE 322 370 48 14.91
6 AUTO 1,640 1,860 220 13.41
7 BBRM 91 100 9 9.89
8 KBLV 484 530 46 9.50
9 ARTO 160 174 14 8.75
10 BSSR 2,580 2,800 220 8.53
No Code Prev Close Change %
1 LPPS 145 123 -22 -15.17
2 CITA 700 600 -100 -14.29
3 DPNS 450 388 -62 -13.78
4 LCGP 81 70 -11 -13.58
5 BIMA 118 102 -16 -13.56
6 GHON 1,400 1,215 -185 -13.21
7 MLPT 800 700 -100 -12.50
8 PTIS 394 346 -48 -12.18
9 BINA 630 560 -70 -11.11
10 BWPT 296 270 -26 -8.78
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 3,490 3,310 -180 -5.16
2 AUTO 1,640 1,860 220 13.41
3 BBCA 22,925 21,750 -1,175 -5.13
4 BMRI 7,725 7,150 -575 -7.44
5 IKAI 575 565 -10 -1.74
6 TAXI 132 133 1 0.76
7 TLKM 3,830 3,780 -50 -1.31
8 BHIT 107 105 -2 -1.87
9 BMTR 565 560 -5 -0.88
10 AISA 605 590 -15 -2.48