Portal Berita Ekonomi Minggu, 20 Mei 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 17:04 WIB. Pertamina - Pertamina ungkap saat ini ada 196 SPBU yang tidak menjual Premium.
  • 17:04 WIB. Pertamina - Menurut Indef, Pertamina berpotensi rugi Rp23 triliun akibat salurkan Premium.
  • 17:04 WIB. Pelindo III - Pelindo III siapkan 14.000 tiket gratis pada masa mudik 2018.
  • 17:03 WIB. PT KAI - Usung tema "Berkah Ramadan", PT KAI Daop II Bandung tawarkan tarif promo untuk kereta eksekutif.
  • 17:03 WIB. PT KAI - PT KAI akan laksanakan angkutan Motis selama 13 hari, termasuk arus mudik dan arus balik.
  • 17:02 WIB. PT KAI - Mudik Lebaran 2018, PT KAI sediakan angkutan motor gratis sebanyak 19.136 unit.
  • 17:02 WIB. BUMN - Menteri BUMN nilai tidak mungkin ada karyawan perusahaan BUMN yang danai teroris.
  • 17:01 WIB. SMBR - PT Semen Baturaja pasok semen untuk proyek 5 BUMN Karya yang garap infrastruktur di Sumatera.
  • 17:01 WIB. Garuda - Garuda Indonesia investigasi pilotnya yang unggah soal terorisme.
  • 17:00 WIB. BUMN - Sampai 2020, BUMN targetkan 20.000 mahasiwa tergabung dalam "Program Magang Mahasiswa Bersertifikat".
  • 16:59 WIB. BUMN - Menteri BUMN buka kesempatan pada 2.000 mahasiswa untuk magang di 68 BUMN.
  • 16:59 WIB. BUMN - BUMN minta akuisisi Pertagas-PGN selesai Agustus 2018.
  • 16:59 WIB. BUMN - Menteri BUMN luncurkan "Program Magang Mahasiswa Bersertifikat".
  • 14:42 WIB. Mahathir - Muncul petisi minta Mahathir jadi Menteri Pedidikan Malaysia.
  • 14:40 WIB. Kuba - Pasca insiden jatuhnya pesawat, Kuba kibarkan bendera setengah tiang.

Mencermati Tantangan Bisnis 2018

Foto Berita Mencermati Tantangan Bisnis 2018
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Sampai dengan semester pertama 2017, ekonomi global maupun domestik masih mengalami perlambatan. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada di kisaran 5%. Sekalipun dengan angka pertumbuhan yang menduduki rangking 3 tertinggi di antara negara G20, itu tetap belum cukup. Pasalnya, elastisitas pertumbuhan terhadap tenaga kerja masih sangat rendah. Dari 1% pertumbuhan ekonomi, hanya mampu menciptakan kesempatan kerja kurang dari 200.000 tenaga kerja. Padahal, rata-rata angkatan kerja baru tumbuh sekitar 2 juta orang, ditambah lagi beban angka pengangguran yang masih cukup tinggi.

Keterbatasan lapangan kerja tersebut dapat dipahami karena sektor yang tumbuh tinggi hanya sektor jasa yang kedap penyerapan tenaga kerja. Pada triwulan II 2017, sektor telekomunikasi dan informasi tumbuh 10,88%, sedangkan sektor jasa perusahaan tumbuh 8,14%. Sementara itu, sektor pengungkit tenaga kerja justru melambat, bahkan sektor industri manufaktur berada di titik nadir. Dalam komposisi pendapatan nasional (PDB), industri hanya tumbuh 3,54% karena pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang hanya 4,0% dan skala mikro-kecil anjlok menjadi 2,50%.

Indikasi bakal terus merosotnya pertumbuhan sektor industri sebenarnya nyata terbaca sejak 2016. Pertama, impor bahan baku dan barang modal masing-masing tumbuh -5,73% dan -9,4% selama 2016. Sementara itu, impor barang konsumsi justru mengalami peningkatan 13,54%. Menginjak tahun 2017, impor kembali menggeliat. Secara agregat, selama Januari—Agustus 2017 impor bahan baku dan barang modal sudah tumbuh 15,3% dan 9,09%. Meskipun demikian, pertumbuhan impor tersebut ternyata lebih banyak dipengaruhi faktor musiman. Nyatanya, Agustus 2017 impor bahan baku dan barang modal kembali tumbuh -3,47% dan -5,95% (mtm). 

Di samping itu, peningkatan impor lebih didominasi barang untuk menopang percepatan pembangunan infrastruktur. Bahan baku industri makanan, seperti Serelia, hanya tumbuh secara terbatas, sementara impor barang konsumsi tumbuh 11,76%. Padahal, impor baku menjadi salah satu acuan atau leading indicator untuk mengukur kinerja sektor industri pada semester II 2017. Pasalnya, sebagian besar industri dalam negeri masih sangat tergantung pada bahan baku impor. Oleh sebab itu, besar kemungkinan pertumbuhan sektor industri manufaktur pada semester II 2017 masih stagnan di bawah 4%.

Indikasi kedua, terkonfirmasi oleh pertumbuhan kredit perbankan. Kredit yang dikucurkan per Juni 2017 hanya mencapai Rp4.518 triliun atau tumbuh 7,6% (yoy). Kredit modal kerja hanya tumbuh 6,9% dan kredit investasi 6,1%. Hanya kredit konsumsi yang masih tumbuh 9,9%. Terbatasnya pertumbuhan sektor industri berimplikasi pada terbatasnya permintaan kredit perbankan. Artinya, sekalipun telah terjadi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 Day Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%, belum bisa langsung tertransmisi menggerakkaan sektor riil pada semester II 2017. Potensi kekakuan penurunan suku bunga kredit pun masih cukup tinggi. Pasalnya, perbankan harus menunggu konsolidasi dengan suku bunga deposito yang berjangka waktu 3 atau 6 bulan, juga meningkatnya rasio non performing loan (NPL). Sampai Juni 2017, NPL tercatat 3% (gross) atau 1,4% (net). Kondisi tersebut tentu menuntut bank lebih hati-hati dan selektif menyalurkan kredit.

Jika pertumbuhan kredit perbankan masih di kisaran 7—8 persen, pertumbuhan investasi pada semester II 2017 sudah mampu diprediksikan akan stagnan sekitar 5%. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dapat di-proxy dari potensi daya beli masyarakat. Secara umum, inflasi tergolong sangat rendah, termasuk inflasi pada kelompok bahan makanan. Namun, sekalipun harga bahan makanan dikatakan stabil, harganya stabil di angka yang tinggi. Terbukti, porsi pengeluaran konsumsi makanan dan minuman meningkat dari 26,2% semester I-2012 menjadi 38,7% pada semester I-2017. Akibatnya, konsumsi pakaian justru turun dari 4,8% menjadi 2,7%. Demikian juga dengan konsumsi transportasi dan komunikasi yang turun dari 29,5% menjadi 26,7%, konsumsi hotel dan restoran turun dari 12,5% menjadi 10,6%, serta konsumsi lainnya turun dari 5,3% menjadi 2,0%. Besarnya porsi untuk konsumsi makanan, jelas berimplikasi pada penurunan di hampir seluruh konsumsi nonmakanan. Alhasil, konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2017 hanya tumbuh 4,95%. 

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga jelas akan menjadi determinan pertumbuhan investasi. Hampir 80% produksi dalam negeri berorientasi pasar domestik. Tidak mengherankan jika pertumbuhan investasi (pembentukan modal tetap domestik bruto) pada triwulan II 2017 kembali melambat dari 5,35% (triwulan I) menjadi 4,78%. Ironisnya lagi, kontribusi investasi dalam PDB justru turun menjadi 31,5%, digeser oleh porsi konsumsi rumah tangga yang naik menjadi 56,3%. Artinya, perekonomian kembali semakin tergantung oleh konsumsi rumah tangga.

Padahal, pergeseran peran investasi mampu menjadi akselator pertumbuhan ekonomi. Tanpa adanya pertumbuhan investasi yang memadai, kebutuhan lapangan kerja tidak mungkin tercukupi. Konsekuensinya, pendapatan masyarakat sebagai pelaku konsumsi juga akan semakin terkikis. Oleh sebab itu, di tengah kondisi perlambatan ekonomi, pemerintah harus menggunakan instrumen stimulus fiskal yang tepat. Kebijakan fiskal ekspansif yang didanai dengan peningkatan utang belum tentu efektif menggerakkan ekonomi. Di tengah efektivitas belanja pemerintah yang masih rendah, peningkatan utang bisa jadi hanya menambah beban ruang fiskal. Kemampuan fiskal untuk memberikan stimulus yang produktif justru semakin menciut.

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan pembiayaan utang tumbuh 26,7%. Akibatnya, beban pembayaran bunga dan cicilan utang mencapai 16,8% pada APBN. Di sisi lain, berbagai anggaran subsidi terpaksa harus dipangkas. Hasilnya, belanja negara tumbuh 7,16%, tapi pendapatan negara hanya tumbuh 5,5%. Belum lagi, defisit keseimbangan primer juga terus membengkak, pada APBN 2017 mencapai Rp144 triliun. Jika efektivitas belanja pemerintah masih sangat rendah, mestinya pilihan bentuk stimulus fiskal lebih realistis. Pemerintah tidak perlu ngotot menambah belanja, tapi justru memberikan insentif fiskal terhadap pelaku ekonomi, baik melalui skema rumah tangga produksi maupun konsumsi.

Berbagai insentif fiskal, sekalipun dalam jangka pendek, berpotensi penurunan penerimaan pemerintah. Namun jika produktif, justru akan efektif langsung menggerakkan sektor riil. Efek kelanjutannya tidak hanya lapangan kerja, tapi penerimaan pemerintah pun juga akan meningkat secara fundamental. Sebaliknya, jika kebijakan pemerintah hanya bussines as usual, ekspektasi dunia usaha maupun masyarakat terhadap ekonomi bisnis 2018 sulit untuk optimistis. Dibutuhkan kebijakan terobosan yang mampu mengakselerasi pertumbuhan agar mencapai target pertumbuhan 5,4%, utamanya percepatan ketersediaan lapangan kerja dan pemulihan daya beli masyarakat.

Tag: Enny Sri Hartati, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Bank Indonesia (BI)

Penulis: Enny Sri Hartati, Direktur Ekseskutif INDEF

Editor: Ratih Rahayu

Foto: Agus Aryanto

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5783.310 -32.610 581
2 Agriculture 1509.924 27.738 19
3 Mining 1886.820 30.537 44
4 Basic Industry and Chemicals 762.354 -4.210 69
5 Miscellanous Industry 1153.067 -29.165 44
6 Consumer Goods 2379.810 -13.317 45
7 Cons., Property & Real Estate 449.733 -5.782 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1000.487 -1.619 64
9 Finance 1018.608 -8.771 92
10 Trade & Service 896.957 -3.868 139
No Code Prev Close Change %
1 DSSA 11,900 14,275 2,375 19.96
2 MTWI 107 127 20 18.69
3 SKYB 400 470 70 17.50
4 MDKI 370 412 42 11.35
5 ESSA 248 276 28 11.29
6 MITI 77 84 7 9.09
7 PGLI 185 200 15 8.11
8 MPOW 175 188 13 7.43
9 ERAA 2,010 2,150 140 6.97
10 META 178 190 12 6.74
No Code Prev Close Change %
1 FORZ 444 334 -110 -24.77
2 KOIN 290 230 -60 -20.69
3 NIPS 430 380 -50 -11.63
4 SKBM 488 432 -56 -11.48
5 INDR 3,890 3,450 -440 -11.31
6 SAFE 278 250 -28 -10.07
7 PUDP 500 450 -50 -10.00
8 DNAR 310 282 -28 -9.03
9 GTBO 260 238 -22 -8.46
10 KICI 210 194 -16 -7.62
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 2,990 2,940 -50 -1.67
2 ADRO 1,880 1,905 25 1.33
3 BBCA 22,000 21,700 -300 -1.36
4 TAXI 122 127 5 4.10
5 MNCN 1,300 1,290 -10 -0.77
6 PGAS 1,905 1,980 75 3.94
7 TLKM 3,490 3,490 0 0.00
8 ASII 6,725 6,525 -200 -2.97
9 PTBA 3,550 3,690 140 3.94
10 ERAA 2,010 2,150 140 6.97