Portal Berita Ekonomi Minggu, 27 Mei 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 07:31 WIB. Airbnb - Airbnb bikin fitur stories mirip Instagram.
  • 07:04 WIB. Gareth Bale - Gareth Bale bakal mempertimbangkan masa depannya dengan Real Madrid.
  • 04:02 WIB. Liga Champions 2018 - Angkat trofi Champions, Real Madrid taklukan Liverpool 3-1.
  • 21:32 WIB. Mudik - Menhub Budi Karya menyebut persiapan mudik yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan telah mencapai 90%.
  • 21:31 WIB. XL - XL Axiata memperluas jaringan 4G LTE yang kini telah menjangkau 376 kota/kabupaten di seluruh wilayah Indonesia.
  • 21:31 WIB. Obligasi - Pelindo IV menerbitkan obligasi dengan target menghimpun dana sekitar Rp3 triliun.

Menpar: Tantangan Bangsa Ini Adalah Kecepatan

Foto Berita Menpar: Tantangan Bangsa Ini Adalah Kecepatan
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengingatkan pentingnya penguatan daya saing Indonesia di berbagai bidang, termasuk sektor pariwisata, yang bisa dilakukan dengan mendorong kemudahan perizinan.

"Tantangan bangsa ini adalah kecepatan, karena 'flow of people' itu sangat lambat sekali di Indonesia dan ujungnya itu, hampir semuanya terkait dengan perizinan," kata Arief dalam seminar penguatan daya saing di Jakarta, Selasa (30/1/2018).

Arief mengakui pemerintah masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah dalam proses perizinan, karena masih dirasakan rumit oleh sejumlah investor, padahal kemudahan berusaha dibutuhkan untuk memperkuat daya saing.

Untuk mengatasi persoalan investasi itu dalam jangka waktu dekat, tambah Arief, pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bisa menjadi solusi untuk mengundang minat pengusaha dalam menanamkan modal di Indonesia.

"Kalau mau deregulasi total ini sulit. Kita ada 550 kota. Kalau mau gampang, buatlah KEK untuk investasi sebanyak-banyaknya, karena di KEK bisa buat aturan khusus," kata Arief.

Selain itu, proses kemudahan berusaha atau deregulasi kebijakan bisa fokus dilakukan ke sektor tertentu, seperti pariwisata, yang berpotensi menyumbang devisa maupun menggerakkan roda perekonomian dalam waktu dekat.

Arief mencontohkan keberhasilan Jepang yang bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan hingga dua kali lipat dari 2011 ke 2013 setelah melakukan sejumlah relaksasi peraturan. "Jepang bisa menambah kunjungan dari sembilan juta (wisatawan, red.) menjadi 20 juta dalam waktu dua tahun. Vietnam juga telah melakukan deregulasi besar-besaran," ujarnya.

Saat ini, daya saing global Indonesia berada pada peringkat 36 atau naik lima peringkat dari posisi sebelumnya di peringkat 41. Namun, posisi daya saing Indonesia masih di bawah negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Untuk mencapai peringkat yang lebih tinggi, maka perbaikan kinerja bidang kelompok "factor driven" perlu dipacu selain bidang kelompok "efficiency driven", seperti peningkatan efisiensi pada pasar tenaga kerja dan pasar barang.

Upaya tersebut merupakan keniscayaan seiring adanya rencana perubahan pengukuran GCI yang memasukkan faktor teknologi digital. Prospek daya saing Indonesia relatif cerah karena pada bidang inovasi dan kecanggihan usaha, Indonesia tercatat berkinerja baik.

Seminar itu diadakan dalam rangka mendorong partisipasi dunia usaha mengikuti Executive Opinion Survey yang diadakan oleh World Economic Forum (WEF). Survei tersebut saat ini masih berlangsung, dari Januari-Maret 2018.

Hasil survei akan diolah untuk menjadi masukan bagi penyusunan beberapa peringkat antarnegara, yaitu Global Competitiveness Index (GCI), Travel and Tourism Competitiveness Index, dan Gender Global Gap Index.

Tag: Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Pariwisata, Arief Yahya

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Vicky Fadil

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5975.742 29.204 583
2 Agriculture 1545.561 -3.579 19
3 Mining 1874.083 5.539 44
4 Basic Industry and Chemicals 797.876 9.669 69
5 Miscellanous Industry 1255.404 1.089 44
6 Consumer Goods 2467.513 7.000 45
7 Cons., Property & Real Estate 463.741 1.542 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1016.181 -6.306 65
9 Finance 1058.646 9.953 92
10 Trade & Service 911.636 5.660 140
No Code Prev Close Change %
1 HOME 120 156 36 30.00
2 CMPP 240 300 60 25.00
3 TRUK 430 535 105 24.42
4 SKBM 436 535 99 22.71
5 VINS 128 150 22 17.19
6 CAMP 444 520 76 17.12
7 NELY 118 134 16 13.56
8 SKYB 430 488 58 13.49
9 KBLV 540 600 60 11.11
10 NAGA 218 242 24 11.01
No Code Prev Close Change %
1 TGRA 585 458 -127 -21.71
2 YPAS 790 620 -170 -21.52
3 SONA 3,200 2,750 -450 -14.06
4 RDTX 6,500 5,625 -875 -13.46
5 FREN 110 97 -13 -11.82
6 MITI 131 116 -15 -11.45
7 IDPR 900 800 -100 -11.11
8 SDMU 298 272 -26 -8.72
9 TRUS 238 218 -20 -8.40
10 CNTX 650 600 -50 -7.69
No Code Prev Close Change %
1 BHIT 119 121 2 1.68
2 PGAS 2,170 2,080 -90 -4.15
3 BBRI 3,060 3,120 60 1.96
4 KREN 750 740 -10 -1.33
5 ERAA 2,730 2,730 0 0.00
6 MNCN 1,235 1,240 5 0.40
7 TARA 830 840 10 1.20
8 UNTR 36,950 37,500 550 1.49
9 TLKM 3,560 3,560 0 0.00
10 INKP 15,250 16,000 750 4.92