Portal Berita Ekonomi Minggu, 20 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 18:51 WIB. PLN - PLN sedang mengupayakan pemenuhan daya listrik untuk kompor listrik.
  • 18:49 WIB. PLN - PLN masih mempunyai batas hutang 300% atau hingga Rp2.000 triliun.
  • 18:46 WIB. Kemenpupera - Kemenpupera menargetkan pembangunan 51.000 unit rumah untuk MBR melalui skema pembiayaan BP2BT.
  • 18:22 WIB. AFPI - AFPI menargetkan penyaluran pinjaman Rp40 triliun pada 2019.
  • 17:55 WIB. AP I - Bandara NYIA sudah mencapai 30% fisik pembangunan.
  • 17:54 WIB. AP I - AP I buka peluang rute penerbangan dari Asia dan Timur Tengah via Bandara NYIA.
  • 17:53 WIB. Telkomsel - Telkomsel melalui T-Cash jalin kerja sama strategis dengan CRP Group.
  • 17:09 WIB. Minyak - Harga minyak nabati diramalkan naik US$50-US$100 per ton.
  • 17:07 WIB. BTN - BTN mengincar pendanaan sebesar Rp14 triliun tahun ini.

Menuju Kampus Go Online

Foto Berita Menuju Kampus Go Online
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Tangan Fatimah Larasati (30) terlihat menari-nari di atas tombol-tombol komputer jinjingnya, di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, pekan lalu.

Satu jam lagi, ia harus terbang ke Surabaya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantornya. Di kanannya, terdapat buku yang sekali-kali dibukanya.

Saat ini, Fatimah bekerja di instansi pemerintahan, namun ia juga mengambil pendidikan sarjana ilmu komunikasi di Universitas Terbuka (UT). Di sela-sela kesibukan bekerja, ia mengerjakan tugas kuliah.

"Ya seperti sekarang ini, lagi mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Kemudian dikumpulkan, semuanya 'online'," ujar Fatimah.

Fatimah menelaskan sejak awal masuk tidak pernah ada tatap muka, kecuali saat ujian. Materi kuliah dan tugas-tugas dilakukan secara daring (online).

Tiap minggu, Fatimah mendapatkan tugas kuliah, ada diskusi juga di portal kelas. Dia harus aktif, agar nilainya bagus.

Sejauh ini, kata dia, kuliah dengan sistem daring seperti itu sangat membantunya mendapatkan ilmu baru, d isela kesibukannya bekerja.

"Menurut saya sejauh ini menguasai materi, cuma cara belajarnya kurang bervariasi. Secara pembelajaran daring, masih ada dosen yang ngasih tugas kurang menarik, yang caranya masih sama seperti kuliah tatap muka," keluh dia.

Lain lagi cerita, Hanni Sofia Soepardo, lulusan pascasarjana dari Universitas Ateneo de Manila, Filipina. Hani menuntut ilmu di negara tetangga tersebut sepanjang 2011-2013.

Dalam setiap semester, di sela kesibukannya sebagai jurnalis, ia harus bolak-balik Jakarta-Manila.

"Di setiap semester, ada tiga hingga empat bulan tatap muka di Manila," kenang Hani.

Untuk materi kuliah semuanya menggunakan Daring dan diunduh. Juga ada sesi diskusi untuk menilai keaktifan mahasiswa. Untuk tugas dan komunikasi dengan dosen melalui daring.

Setiap minggu, kata Hanni, per mata kuliah ada sesi kelas daring yang wajib dihadiri oleh mahasiswa.

Kuliah daring ini, mahasiswa harus banyak aktif dan lebih banyak tugas yang diselesaikan.

Ibu dari tiga anak tersebut mengatakan jika ingin mengikuti kuliah daring, maka harus siap kerja ekstra. Apalagi pada masa itu, internet di Tanah Air belum stabil.

"Bedanya kalau kelas tatap muka, kita bisa konsentrasi, bisa ambil cuti. Sementara kalau daring, masih dibebani kerjaan kantor dan tugas kuliah, jadi malah ekstra energi yang dikeluarkannya," terang Hani.

Fatimah dan Hanni merupakan dua dari ribuan mahasiswa yang sedang dan pernah belajar dengan sistem daring.

Universitas Siber Pemerintah menaruh perhatian dalam sistem belajar ini.

Pada Rakernas Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) yang mengusung tema " Riset Dikti di Era Revolusi Industri 4.0" yang diselenggarakan di Univesitas Sumatera Utara (USU) pada 16 hingga 17 Januari sistem daring atau Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) juga dibahas .

Pemerintah siap menyesuaikan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi.

Universitas Siber "Dalam waktu dekat, kami akan membentuk universitas siber yang tugasnya untuk memastikan kualitas dari PJJ ini," ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir.

Universitas siber tersebut nantinya akan bertindak sebagai regulator yang memastikan para perguruan tinggi yang menyelenggarakan PJJ sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.

Jadi universitas siber bukan seperti UT yang menjadi penyelenggara sekaligus regulator.

Universitas siber ini khusus pengawas kualitas saja. Universitas siber tersebut akan memastikan apakah perguruan tinggi yang menyelenggarakan PJJ sesuai dengan yang ditetapkan mulai dari tutor, tatap muka hingga tugas yang diberikan.

Begitu juga dengan praktik laboratorium, nantinya apakah hanya model tiga dimensi atau jika perlu fisik kerja sama dengan laboratorium.

Untuk sementara, universita siber masih kerja sama dengan UT, karena UT sudah pengalaman menyelenggarakan PJJ ini." Nasir menargetkan ada sekitar 400 perguruan tinggi yang menyelenggarakan PJJ pada tahun ini. Saat ini sudah ada 51 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pembelajaran daring tersebut. Dari 51 perguruan tinggi tersebut, ada 32 perguruan tinggi swasta yang menyelenggarakan pembelajaran daring campuran yakni kombinasi tatap muka dan daring.

"Targetnya memang ambisius, tercapai 50 persen saja sudah luar biasa. Tapi biasanya memang begitu banyak yang tertarik, seperti saat saya melakukan pendampingan akreditasi, targetnya 19 malah yang lolos 40 perguruan tinggi," ujarnya.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti Intan Ahmad mengatakan banyak kampus yang sudah menyelenggarakan pembelajaran daring, namun baru untuk skala lokal.

"Nah ini, kita targetkan bisa menjangkau sebanyak-banyaknya perguruan tinggi," kata Intan.

Harus Siap Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah III Dr Illah Sailah mengatakan kampus harus siap menyelenggarakan pembelajaran daring ini.

"Harus siap, menjadi universitas siber. Pembelajaran jarak jauh bukan hal baru karena sudah diluncurkan pada 15 Oktober 2014 saat menterinya Pak Nuh dengan nama Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT) yang sekarang berubah menjadi Sistem Pembelajaran Daring (SPADA)," kata Illah.

Sejumlah perguruan tinggi swasta di Kopertis wilayah III, sudah melakukan sistem pembelajaran jarak jauh. Illah memberi contoh Universitas Bina Nusantara yang memiliki lima program studi dan juga London School Public Relation (LSPR) yang sudah diberi izin untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh pada satu program studi.

Dengan pembelajaran jarak jauh hibrid dan pembelajaran daring bagi peserta didik yang sibuk bekerja tidak harus tiap hari datang ke kampus.

Namun pembelajaran jarak jauh ini akan berhasil kalau peserta didiknya memiliki semangat belajar mandiri dan dosennya memiliki literasi digital serta memiliki kemauan untuk memberi pembelajaran secara online," jelas Illah.

Rektor Universitas Trilogi Dr Aam Bastaman mengatakan peraturan pembelajaran daring seharusnya lebih fleksibel dan tidak ada pembatasan.

Salah satu pembatasan yang dilakukan adalah akreditasi dari program studi yang menyelenggarakan pembelajaran daring adalah minimal adalah B.

Pembelajaran jarak jauh hibrid merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui sistem kombinasi daring dan tatap muka. Untuk itu, kata Aam, peraturan tersebut ketentuan tersebut harus ditinjau ulang

Tag: Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Gito Adiputro Wiratno

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6448.156 24.376 627
2 Agriculture 1583.292 -1.764 21
3 Mining 1880.920 11.361 47
4 Basic Industry and Chemicals 889.696 -3.628 71
5 Miscellanous Industry 1443.379 27.257 46
6 Consumer Goods 2607.292 -13.145 51
7 Cons., Property & Real Estate 471.624 -0.108 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1149.241 6.910 71
9 Finance 1234.248 10.015 91
10 Trade & Service 797.089 4.778 155
No Code Prev Close Change %
1 CLAY 180 306 126 70.00
2 NATO 103 175 72 69.90
3 SQMI 306 382 76 24.84
4 KMTR 268 334 66 24.63
5 JIHD 476 590 114 23.95
6 INRU 640 785 145 22.66
7 TNCA 206 250 44 21.36
8 INCF 296 358 62 20.95
9 DUTI 3,630 4,390 760 20.94
10 PADI 920 1,090 170 18.48
No Code Prev Close Change %
1 TFCO 735 620 -115 -15.65
2 OCAP 266 226 -40 -15.04
3 YPAS 660 575 -85 -12.88
4 CTTH 126 110 -16 -12.70
5 MFMI 725 635 -90 -12.41
6 BUKK 2,000 1,800 -200 -10.00
7 PYFA 180 163 -17 -9.44
8 TIRA 270 250 -20 -7.41
9 STTP 3,750 3,490 -260 -6.93
10 ASJT 300 280 -20 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 INPC 79 80 1 1.27
2 UNTR 26,850 26,925 75 0.28
3 INDY 2,090 2,180 90 4.31
4 ASII 8,275 8,475 200 2.42
5 TLKM 3,990 4,020 30 0.75
6 BUMI 164 174 10 6.10
7 BBRI 3,810 3,820 10 0.26
8 KPAS 210 208 -2 -0.95
9 ERAA 2,310 2,310 0 0.00
10 TSPC 1,600 1,575 -25 -1.56