Portal Berita Ekonomi Selasa, 23 Oktober 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 07:12 WIB. Mandiri - Mandiri memantau permohonan PKPU yang diajukan kepada PT Tirta Amarta Bottling Company.
  • 06:10 WIB. Pertamina - Kualitas kredit Pertamina bisa mendukung belanja modal yang lebih tinggi.
  • 06:09 WIB. BNI - Sampai kuartal III-2018 BNI berhasil mencatat realisasi pertumbuhan kredit sebesar 15,6% secara yoy.
  • 06:07 WIB. Len - Len Industri telah membangun 383 unit perangkat BTS tenaga surya melalui anak perusahaannya, Sei.
  • 06:05 WIB. Len - Len Industri raih penghargaan Solar Power Portal Award 2018.
  • 05:57 WIB. Mandiri - Prospek bisnis Mandiri hingga akhir tahun diprediksi terus meningkat.
  • 05:55 WIB. Sucofindo - Sucofindo menjalin kerja sama dengan empat BUMN untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

CEO Modalku: Fintech Akan Mati Tanpa Bank

Foto Berita CEO Modalku: Fintech Akan Mati Tanpa Bank
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Kehadiran Financial Technology (fintech) di Indonesia kerap membuat industri perbankan merasa terancam. Kabarnya, kehadiran fintech dianggap mengganggu bisnis perbankan. Namun, Reynold Wijaya, CEO dan Co-Founder startup fintech Modalku menyampaikan bahwa dirinya tidak setuju jika fintech dianggap mengganggu industri perbankan. Bahkan, menurutnya, fintech justru akan mati tanpa bank.

"Kami pro bank, friendly dengan bank. Saya merasa banyak bank yang progresif menyadari bahwa lebih baik kerja sama. Jujur saja, secara posisi saya paling tidak suka bersinggungan tanpa bank. Fintech tanpa bank akan mati, tetapi bank tanpa fintech akan baik-baik saja. Makanya, saya kadang-kadang risih dengan fintech yang 'jagoan' akan menggantikan bank. Jadi, (kalau) kami di posisi ingin bekerja sama dengan bank," ungkap Reynold kepada Warta Ekonomi beberapa waktu lalu di Jakarta.

Beroperasi di 3 negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura, Reynold mengaku Modalku selalu bekerja sama dengan bank. Di Indonesia, Modalku bekerja sama dengan Bank Sinar Mas. Bank Sinar Mas memberikan pendanaan kepada peminjam di Modalku, juga berbagai proyek lainnya. "Jadi, mereka juga membantu orang-orang yang sebenarnya tidak masuk ke kriteria mereka. Tetapi, mereka tetap mau membantu," katanya.  

Reynold juga mengatakan, kalau bank progressif, bank akan menyadari bahwa kerja sama akan mendatangkan win-win solution. Pertama, mereka bisa mempelajari term-nya peminjam. Suatu hari, bila nasabah fintech yang selama ini mayoritas adalah unbankable atau yang tertolak bank sudah bankable, mereka sudah mempunyai history dan bank tinggal ambil. Karena pasar fintech bagi Reynold diperuntukkan untuk orang-orang yang tidak bankable. "Karena sudah bankable, silakan diambil. Kami sudah tidak bersaing dengan mereka," tandasnya.

Kedua, kata Reynold, mereka (bank) harus menolak banyak customers. "Daripada ditolak, kalau diberikan ke kami, lebih menguntungkan," ujarnya.

Untuk itu, Reynold lebih memeilih untuk berkolaborasi dengan bank daripada harus bersaing yang sebenarnya menurut Reynold bukan tempatnya untuk bersaing karena fintech dan bank memiliki banyak perbedaan. Ia juga menegaskan bahwa Modalku pasti kalah jika harus bersaing langsung dengan bank.

Selain itu, Reynold juga tidak pernah khawatir tidak mendapatkan pasar setelah nasabah unbankable menjadi bankable.

"(Sebanyak) 80% orang Indonesia unbankable. Bank tidak mungkin bisa mengambil semua karena system risk-nya terlalu tinggi. Bank akan selalu support negara. Kami membantu orang-orang yang tidak punya akses sehingga punya akses. Jadi, kami memiliki different purposes. Saya merasa bank tidak perlu takut karena ini merupakan dua hal yang berbeda. Justru, bila semakin banyak orang yang memiliki akses, bank akan semakin diuntungkan," jelas Reynold.

Tag: Modalku, Reynold Wijaya, Startup Fintech

Penulis: Ning Rahayu

Editor: Fauziah Nurul Hidayah

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,069.51 4,028.57
British Pound GBP 1.00 19,946.12 19,746.03
China Yuan CNY 1.00 2,205.21 2,183.26
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 15,268.00 15,116.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,849.44 10,739.92
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,947.25 1,927.84
Dolar Singapura SGD 1.00 11,081.43 10,967.13
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,573.47 17,397.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,672.84 3,632.78
Yen Jepang JPY 100.00 13,569.14 13,432.86

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5840.435 3.144 610
2 Agriculture 1570.332 -4.068 20
3 Mining 1918.413 8.447 47
4 Basic Industry and Chemicals 757.577 0.126 70
5 Miscellanous Industry 1252.288 -2.704 45
6 Consumer Goods 2470.043 -1.914 49
7 Cons., Property & Real Estate 411.035 1.920 71
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1064.616 17.661 70
9 Finance 1050.751 -3.316 91
10 Trade & Service 788.480 -4.485 147
No Code Prev Close Change %
1 MINA 472 585 113 23.94
2 MPRO 254 314 60 23.62
3 IBFN 324 400 76 23.46
4 BCAP 135 159 24 17.78
5 DART 250 294 44 17.60
6 UNIC 3,400 3,930 530 15.59
7 SKYB 138 159 21 15.22
8 LPGI 3,550 4,050 500 14.08
9 SHIP 950 1,065 115 12.11
10 MYTX 126 138 12 9.52
No Code Prev Close Change %
1 NICK 159 140 -19 -11.95
2 MAYA 8,150 7,275 -875 -10.74
3 LPPF 5,625 5,025 -600 -10.67
4 PBSA 770 690 -80 -10.39
5 INCF 125 114 -11 -8.80
6 JKON 505 466 -39 -7.72
7 BMAS 368 340 -28 -7.61
8 MMLP 530 490 -40 -7.55
9 INCI 610 565 -45 -7.38
10 VINS 96 89 -7 -7.29
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 344 362 18 5.23
2 LPPF 5,625 5,025 -600 -10.67
3 KPIG 135 138 3 2.22
4 PGAS 2,270 2,340 70 3.08
5 ISAT 2,680 2,840 160 5.97
6 PTBA 4,540 4,610 70 1.54
7 PNLF 286 288 2 0.70
8 FREN 99 105 6 6.06
9 BBCA 23,375 23,150 -225 -0.96
10 WSKT 1,540 1,600 60 3.90