Portal Berita Ekonomi Kamis, 13 Desember 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 17:14 WIB. Pertamina - Pertamina gandeng BMW kenalkan stasiun pengisian energi listrik.
  • 17:08 WIB. Lazada - Pierre Poignant jadi CEO baru Lazada Group.
  • 17:04 WIB. Apple - Apple ingin bikin modem sendirI untuk iPhone.
  • 17:02 WIB. Mitsubishi - Mitsubishi masih galau soal impor Pajero Sport.
  • 16:53 WIB. Telkomsel - Pelanggan Telkomsel keluhkan SMS iklan mengganggu.
  • 16:52 WIB. SoftBank - SoftBank Group asal Jepang bakal ganti perangkat Huawei dengan Nokia dan Ericsson
  • 16:50 WIB. Samsung - Samsung tutup satu pabrik ponsel di China pada akhir 2018.
  • 16:48 WIB. Yamaha - Yamaha suntik dana Rp2,1 triliun ke Grab.
  • 16:45 WIB. Google - Google bakal buka kantor dan data center di Vietnam.

Krisis Rohingya Tidak 'Lukai' Industri Pariwisata Myanmar

Foto Berita Krisis Rohingya Tidak 'Lukai' Industri Pariwisata Myanmar
Warta Ekonomi.co.id, Yangon -

Kunjungan turis Myanmar naik 18 persen tahun lalu menjadi 3,44 juta pengunjung, meskipun ada kecaman internasional atas perlakuan terhadap populasi Muslim Rohingya oleh pemerintah Myanmar.

Kementerian Pariwisata dan Pariwisata Myanmar menyatakan telah memperkirakan sekitar 3,5 juta pengunjung tahun lalu, setelah jumlah kedatangan merosot menjadi 2,9 juta pada 2016 dari 4,7 juta dalam 12 bulan sebelumnya.

"Saya pikir jumlahnya meningkat saat kami mengadakan banyak acara promosi, dan pemerintah telah mengizinkan wisatawan untuk melakukan perjalanan ke daerah yang sebelumnya terlarang," tutur U Myint Htwe, wakil direktur jenderal kementerian Myanmar, dalam sebuah wawancara, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Kamis (22/2/2018).

Namun, data yang bisa diandalkan di Myanmar bisa sulit didapat. Pada bulan Desember, kualitas statistik perbankan negara dipertanyakan oleh Bank Dunia. Sekitar 700.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan Negara Rakhine Myanmar ke negara tetangga Bangladesh sejak Agustus tahun lalu ketika gerilyawan dari Angkatan Bersenjata Rohani Arakan menyerang 25 pos polisi dan tentara, menewaskan selusin petugas keamanan Myanmar.

Militer menanggapi dengan apa yang mereka sebut sebagai "operasi pembersihan," dengan laporan pasukan keamanan dan warga Buddha tanpa pandang bulu menyerang orang Rohingya dan membakar desa mereka. Pada bulan November, Sekretaris Negara A.S. Rex Tillerson mengutuk perlakuan Myanmar terhadap Rohingya sebagai sebuah upaya "pembersihan etnis."

"Kami memperkirakan 3,5 juta pada 2017 namun kami hanya menerima 3,44 juta karena bencana alam dan H1N1," tutur Myint Htwe, dengan menambahkan bahwa dampak konflik di bagian utara negara bagian Rakhine terbatas karena ini bukan tujuan wisata utama oleh para turis.

"Kami harapkan lebih dari 3,44 juta tahun ini," tukasnya.

Pada tahun 2015, World Travel & Tourism Council memperkirakan bahwa sektor perjalanan dan pariwisata Myanmar akan tumbuh sebesar 8,4 persen pada tahun 2025 untuk menjadi kontributor nomor satu negara untuk produk domestik bruto. Sebuah laporan pada 2013 tentang Myanmar oleh McKinsey Global Institute, memperkirakan bahwa pariwisata dapat menyumbang $14,1 miliar untuk ekonomi Myanmar pada tahun 2030 dan mempekerjakan sekitar 2,3 juta orang.

"Pariwisata pada 2017 dipastikan berdampak pada keseluruhan pasar, terutama yang berkaitan dengan pengunjung dari Eropa," ungkap Enrico Cesenni, CEO Myanmar Strategic Holdings Ltd, yang memiliki investasi di sektor hotel dan pariwisata di Myanmar.

"Hal yang baik adalah kita mengalami lebih banyak pengunjung dari negara-negara ASEAN," imbuhnya.

"Negara-negara Asia Utara seperti China, Jepang dan Korea, juga membawa lebih banyak wisatawan," pungkasnya.

Tag: Myanmar, Aung San Suu Kyi, Muslim Rohingya, Rohingya, Krisis Kemanusiaan Rohingya, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), Pariwisata, Bangladesh, Cox's Bazar, Amerika Serikat (AS), Rex Wayne Tillerson

Penulis/Editor: Hafit Yudi Suprobo

Foto: Reuters/Soe Zeya Tun

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6177.720 62.143 621
2 Agriculture 1516.070 10.982 20
3 Mining 1776.514 21.113 47
4 Basic Industry and Chemicals 846.848 12.353 71
5 Miscellanous Industry 1420.317 27.074 46
6 Consumer Goods 2515.883 16.594 49
7 Cons., Property & Real Estate 455.102 3.544 73
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1062.130 21.053 71
9 Finance 1176.328 11.338 91
10 Trade & Service 791.531 -0.850 153
No Code Prev Close Change %
1 AKSI 344 430 86 25.00
2 SOTS 436 545 109 25.00
3 PNSE 750 935 185 24.67
4 ZONE 446 555 109 24.44
5 KICI 212 260 48 22.64
6 SAFE 171 206 35 20.47
7 JKSW 60 68 8 13.33
8 KAEF 2,550 2,850 300 11.76
9 TRAM 163 180 17 10.43
10 OASA 318 350 32 10.06
No Code Prev Close Change %
1 SQMI 555 418 -137 -24.68
2 INPP 605 480 -125 -20.66
3 GMTD 14,900 13,425 -1,475 -9.90
4 BTEK 137 125 -12 -8.76
5 SMDM 152 139 -13 -8.55
6 DSSA 14,725 13,500 -1,225 -8.32
7 BBLD 492 454 -38 -7.72
8 AKPI 780 720 -60 -7.69
9 ETWA 78 72 -6 -7.69
10 OCAP 244 226 -18 -7.38
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 372 360 -12 -3.23
2 KPAS 710 705 -5 -0.70
3 RIMO 142 151 9 6.34
4 TLKM 3,650 3,750 100 2.74
5 TRAM 163 180 17 10.43
6 PGAS 2,130 2,150 20 0.94
7 PTBA 4,310 4,500 190 4.41
8 BBRI 3,620 3,680 60 1.66
9 CPIN 6,500 6,950 450 6.92
10 UNTR 29,300 29,300 0 0.00