Portal Berita Ekonomi Kamis, 20 September 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 11:49 WIB. Karo Penmas Polri - Jabatan baru Brigjen Aris Budiman diumumkan langsung oleh Kapolri.
  • 11:48 WIB. KPK - Brigjen Aris Budiman dimutasi ke Bareskrim Polri.
  • 11:47 WIB. KPK - Direktur Penyidikan KPK berganti, dari Aris Budiman ke Panca Purta.
  • 11:11 WIB. SMGR - SMGR mencatatkan volume penjualan ekspor sebanyak 1,99 juta ton pada Januari 2018—Agustus 2018.
  • 11:10 WIB. SMGR - Agung Wiharto memperkirakan penjualan ekspor dari dalam negeri telah mencapai 2 juta ton sampai dengan Agustus 2018.
  • 11:10 WIB. SMGR - Semen Indonesia mengincar volume penjualan ekspor 3 juta ton atau senilai Rp4,44 triliun pada 2018.
  • 09:33 WIB. Bekraf - Pelatihan tersebut kali ini diadakan di Raja Ampat dengan 60 pelaku ekonomi kreatif.
  • 09:31 WIB. Bekraf - Seri Kelas Keuangan UKM Kreatif kali ini bertemakan Permodalan dan Pengelolaan Keuangan Syariah UKM Kreatif.
  • 09:28 WIB. Bekraf - Bekraf kembali menyelenggarakan Seri Kelas Keuangan UKM Kreatif. 
  • 09:08 WIB. Honor - Honor 9i berambisi jadi ikon gaya hidup industri ponsel pintar Indonesia.
  • 06:30 WIB. Tri - Hutchison Tri akui sempat ada layanan RBT 'Jokowi Saja'.
  • 06:27 WIB. Telkomsel - Telkomsel klaim tak ada RBT 'Jokowi Saja' di layanannya.
  • 06:26 WIB. Oppo - Oppo bantah pangsa pasar menurun di Indonesia.
  • 06:13 WIB. China - China tambah 11 ruas jalan baru untuk uji coba mobil swakemudi.
  • 06:11 WIB. Jerman - Jerman ingin capai 1 juta mobil listrik pada 2022.

"Pelakor", Istilah Kaum Terjajah

Foto Berita
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Entah dari mana asal muasalnya, tiba-tiba saja kata "Pelakor" atau "perebut (le)laki orang" menjadi tren di media sosial.

Mungkin saja kata-kata itu merebak dan terus digunakan sejak video pesohor Jennifer Dunn yang sedang dilabrak oleh putri dari lelaki yang berselingkuh dengannya.

Warganet pun menyebutnya sebagai pelakor.

Setelah peristiwa tersebut, video serupa banyak bermunculan, tidak hanya pesohor yang jadi sorotan publik, orang biasa juga ikut memvideokan aksi labrak-melabrak sang pelakor, video itu diviralkan lewat media sosial dan berujung hujatan dan cacian dari warganet.

Seakan-akan tindakan tersebut adalah hukuman yang pantas bagi perempuan yang menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan.

Label "pelakor" kemudian disandangkan kepada perempuan itu, seolah laki-laki yang terlibat dalah hubungan tersebut bebas dari dosa.

Bagai peristiwa yang pantas dikonsumsi oleh publik, media massa konvensional juga ikut menyuguhkan berbagai macam cerita serta penyebutan pelakor dalam menulis kejadian itu.

Peneliti bidang kajian gender Sabilla Tri Ananda mengatakan melabeli perempaun dengan sebutan "pelakor" termasuk bentuk kekerasan verbal dan misogini.

Misogini adalah rasa benci atau tidak suka terhadap perempuan atau anak perempuan.

Istilah 'pelakor' menjadi bias, seakan-akan lelaki yang diambil oleh orang lain adalah pasif, sementara perempuan menjadi pelaku aktif dalam perselingkuan, padahal selingkuh dapat terjadi karena dua belah pihak.

"Perempuan kerap disalahkan dalam sebuah perselingkuhan, jika istri berselingkuh maka perempuan akan disalahkan, jika suami berselingkuh maka orang ketiga yaitu perempuan juga akan disalahkan.

Mirisnya perundungan dengan menyebut perempuan orang ketiga dalam suatu hubungan sebagai "pelakor" yang marak di media sosial kerap dilakukan oleh perempuan juga.

Bahkan perundungan tersebut juga sampai ke dunia nyata, misalnya kasus pengiriman karangan bunga yang isinya hujatan yang dialamatkan ke kantor perempuang orang ketiga tersebut.

Menurut dia, hal tersebut dapat terjadi karena perempuan yang selama ini "terjajah" dalam budaya patriarki ternyata ikut melanggengkan nilai patriarki tersebut dengan menilai, mengopresi dan menindas perempuan lain.

Perempuan yang selama ini menjadi objek penindasan dalam dunia maskulin, mencoba berdiri sebagai subjek dengan mengadopsi nilai maskulin dan mkelakukan kekerasan terhadap perempuan lain.

"Jadi terjadi peniruan oleh kelompok terjajah (dalam hal ini perempuan) terhadap kebiasaan, perilaku, ide dari kelompok penjajah (dalam hal ini laki-laki). Kemudian kelompok terjajah tersebut mempraktikan kebiasaan tersebut ke sesama kelompoknya," kata peneliti lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia tersebut.

Mempermalukan perempuan Peneliti linguistik Nelly Martin dalam artikelnya yang dimuat di jejaring the conversation mengatakan istilah pelakor tersebut digunakan untuk menyalahkan dan mempermalukan perempuan dan sama sekali tidak menyalahkan laki-laki yang melakukan perselingkuhan.

Dalam konteks tersebut, istilah pelakor perlu dianalisis secara kritis karena memberikan retorika yang timpang.

Secara sosiolinguistik, istilah ini sangat berpihak pada laki-laki, karena seringkali muncul dalam wacana keseharian tanpa istilah pendamping untuk laki-laki dalam hubungan tersebut.

Istilah pelakor, secara umum digunakan sendiri, atau sang laki-laki secara terang-terangan absen dalam cerita tersebut.

Secara kebahasaan, istilah ini meminggirkan perempuan. Lebih dari itu istilah ini menunjukkan fenomena sosial-budaya yang lebih besar.

Kerapnya istilah ini digunakan dalam cerita di media sosial dan dalam pemberitaan tanpa didampingi istilah yang sepadan untuk pelaku laki-laki, menunjukkan bahwa istilah ini seksis.

Dia mengatakan kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyalahkan pelakor seorang menunjukkan bias negatif kita terhadap perempuan, dan pada saat yang sama mengglorifikasi laki-laki.

Dalam kasus perselingkuhan, tampaknya masyarakat Indonesia masih menerapkan bias gender. Jika perselingkuhan terjadi, kesalahan ditimpakan pada perempuan, baik dalam peran perempuan sebagai korban (istri yang dikhianati yang seringkali dianggap "gagal" mengurus suami) atau kepada perempuan lain, yang dianggap merebut.

"Dengan kata lain, kecenderungan kita untuk berteriak pelakor tanpa menyebut-nyebut sang lelaki, menggambarkan kekerasan terhadap perempuan dan persepsi yang buruk terhadap perempuan," kata dia.

Media sosial wadah perundungan Seperti yang telah disebutkan, pelabelan pelakor santer digunakan di media sosial, lalu mengapa para warganet yang kebanyakan perempuan berbondong-bondong merundung di media sosial? Sabilla menjelaskan media sosial dalam jaringan (online) dapat membentuk identitas ulang yang berbeda dari dunia nyata. Contohnya misalnya dalam kehidupan nyata seseorang itu miskin, namun dia dapat berpura-pura kaya dengan mengunggah foto yang bergaya hidup mewah.

Dalam kasus "pelakor", identitas sebagai superior inilah yang dibentuk oleh para warganet. Oleh sebab itu tidak heran istilah "pelakor" langsung diadaptasi dan kerap digunakan perempuan sebagai bentuk keinginan untuk menindas sesamanya.

Selain itu, kecenderungan orang untuk meniru tindakan yang dilakukan orang lain, juga menjadi salah satu faktor ramainya istilah itu digunakan.

"Kalau dilihat dari faktor budaya massa, orang akan mudah meniru tindakan yang ramai dilakukan orang lain. Begitu istilah pelakor banyak digunakan, maka orang-orang lain pun ikut menggunakannya," kata dia.

Penggunaan kata tersebut juga dapat digolongkan sebagai bentuk kekerasan verbal terhadap perempuan.

Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyebutkan penghinaan atau pencemaran nama baik menjadi salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Dampak dari kejahatan siber ini dapat menjatuhkan hidup perempuan, korban dapat menjadi korban berluang kali dan peristiwa tersebut dapat terjadi seumur hidup.

Tag: Sastra

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Gito Adiputro Wiratno

Foto: Antara

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,991.68 3,951.90
British Pound GBP 1.00 19,685.55 19,482.04
China Yuan CNY 1.00 2,183.20 2,161.62
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,970.00 14,822.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,820.32 10,705.93
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,908.05 1,889.16
Dolar Singapura SGD 1.00 10,924.62 10,814.24
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,459.51 17,283.93
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,614.20 3,575.87
Yen Jepang JPY 100.00 13,327.99 13,192.70

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5873.597 61.807 602
2 Agriculture 1573.131 -18.171 20
3 Mining 1915.607 8.625 46
4 Basic Industry and Chemicals 796.218 16.285 71
5 Miscellanous Industry 1257.362 55.238 45
6 Consumer Goods 2447.908 35.684 47
7 Cons., Property & Real Estate 421.933 1.870 68
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1023.502 -1.264 69
9 Finance 1055.900 6.888 91
10 Trade & Service 820.776 7.323 145
No Code Prev Close Change %
1 PANI 183 246 63 34.43
2 PADI 500 625 125 25.00
3 TFCO 680 850 170 25.00
4 DIGI 340 424 84 24.71
5 JSPT 1,200 1,450 250 20.83
6 BULL 141 169 28 19.86
7 PGLI 210 248 38 18.10
8 TCPI 3,020 3,480 460 15.23
9 ABMM 2,040 2,290 250 12.25
10 KPAL 394 442 48 12.18
No Code Prev Close Change %
1 ARTO 179 137 -42 -23.46
2 PNSE 850 665 -185 -21.76
3 AKPI 970 770 -200 -20.62
4 TAMU 4,290 3,590 -700 -16.32
5 MINA 550 464 -86 -15.64
6 COWL 515 448 -67 -13.01
7 TRUS 195 170 -25 -12.82
8 NICK 146 130 -16 -10.96
9 AGRS 260 232 -28 -10.77
10 MGNA 57 51 -6 -10.53
No Code Prev Close Change %
1 BMTR 384 406 22 5.73
2 SRSN 85 82 -3 -3.53
3 KPIG 715 710 -5 -0.70
4 PNLF 226 238 12 5.31
5 TLKM 3,570 3,550 -20 -0.56
6 BBRI 2,940 3,000 60 2.04
7 ASII 7,025 7,400 375 5.34
8 ERAA 2,470 2,510 40 1.62
9 ENRG 127 136 9 7.09
10 BBCA 24,000 24,000 0 0.00