Portal Berita Ekonomi Jum'at, 22 Juni 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 17:23 WIB. Pelindo II - Pelindo II dan Pemkab Belitung tanda tangani MoU kerja sama pengembangan kepelabuhan.
  • 16:14 WIB. Lime - Lime akan meluncurkan armada skuter listrik di Paris.
  • 16:07 WIB. PICO - Pelangi Indah Canindo menargetkan pendapatan Rp32,17 miliar dari segmen drum asphalt pada 2018.
  • 16:07 WIB. PICO - Pelangi Indah Canindo menargetkan pendapatan Rp567,47 miliar dari segmen drum lubricants pada 2018.
  • 16:06 WIB. PICO - Pelangi Indah Canindo menghentikan produksi tabung gas elpiji untuk Pertamina.
  • 15:06 WIB. Tinder - Induk usaha Tinder, Match Group, akuisisi aplikasi kencan pesaing, Hinge.
  • 15:04 WIB. Google - Senator AS tuding Google bantu partai komunis China.
  • 14:57 WIB. Microsoft - Microsoft umumkan aplikasi baru pesaing Google News, Microsoft News.
  • 14:53 WIB. Snapdragon - Tinggalkan Samsung, Snapdragon bakal diproduksi TSMC.
  • 14:53 WIB. Tinder - Aplikasi teman kencan, Tinder, laku keras saat Piala Dunia 2018.
  • 14:51 WIB. YouTube - YouTube diminta bayar royalti video musik miliaran dolar.
  • 14:50 WIB. WhatsApp - WhatsApp kini punya stiker.
  • 14:46 WIB. ARII - Atlas Resources mencatat peningkatan produksi sebesar 109% menjadi 437.140 ton per Mei 2018.
  • 12:19 WIB. Pilkada - Ketua KPU sebut warga tak punya e-KTP tetap bisa ikut coblos Pilkada.
  • 12:18 WIB. Politik - Demokrat segera ajukan angket Komjen Iriawan ke pimpinan DPR.

"Pelakor", Istilah Kaum Terjajah

Foto Berita
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Entah dari mana asal muasalnya, tiba-tiba saja kata "Pelakor" atau "perebut (le)laki orang" menjadi tren di media sosial.

Mungkin saja kata-kata itu merebak dan terus digunakan sejak video pesohor Jennifer Dunn yang sedang dilabrak oleh putri dari lelaki yang berselingkuh dengannya.

Warganet pun menyebutnya sebagai pelakor.

Setelah peristiwa tersebut, video serupa banyak bermunculan, tidak hanya pesohor yang jadi sorotan publik, orang biasa juga ikut memvideokan aksi labrak-melabrak sang pelakor, video itu diviralkan lewat media sosial dan berujung hujatan dan cacian dari warganet.

Seakan-akan tindakan tersebut adalah hukuman yang pantas bagi perempuan yang menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan.

Label "pelakor" kemudian disandangkan kepada perempuan itu, seolah laki-laki yang terlibat dalah hubungan tersebut bebas dari dosa.

Bagai peristiwa yang pantas dikonsumsi oleh publik, media massa konvensional juga ikut menyuguhkan berbagai macam cerita serta penyebutan pelakor dalam menulis kejadian itu.

Peneliti bidang kajian gender Sabilla Tri Ananda mengatakan melabeli perempaun dengan sebutan "pelakor" termasuk bentuk kekerasan verbal dan misogini.

Misogini adalah rasa benci atau tidak suka terhadap perempuan atau anak perempuan.

Istilah 'pelakor' menjadi bias, seakan-akan lelaki yang diambil oleh orang lain adalah pasif, sementara perempuan menjadi pelaku aktif dalam perselingkuan, padahal selingkuh dapat terjadi karena dua belah pihak.

"Perempuan kerap disalahkan dalam sebuah perselingkuhan, jika istri berselingkuh maka perempuan akan disalahkan, jika suami berselingkuh maka orang ketiga yaitu perempuan juga akan disalahkan.

Mirisnya perundungan dengan menyebut perempuan orang ketiga dalam suatu hubungan sebagai "pelakor" yang marak di media sosial kerap dilakukan oleh perempuan juga.

Bahkan perundungan tersebut juga sampai ke dunia nyata, misalnya kasus pengiriman karangan bunga yang isinya hujatan yang dialamatkan ke kantor perempuang orang ketiga tersebut.

Menurut dia, hal tersebut dapat terjadi karena perempuan yang selama ini "terjajah" dalam budaya patriarki ternyata ikut melanggengkan nilai patriarki tersebut dengan menilai, mengopresi dan menindas perempuan lain.

Perempuan yang selama ini menjadi objek penindasan dalam dunia maskulin, mencoba berdiri sebagai subjek dengan mengadopsi nilai maskulin dan mkelakukan kekerasan terhadap perempuan lain.

"Jadi terjadi peniruan oleh kelompok terjajah (dalam hal ini perempuan) terhadap kebiasaan, perilaku, ide dari kelompok penjajah (dalam hal ini laki-laki). Kemudian kelompok terjajah tersebut mempraktikan kebiasaan tersebut ke sesama kelompoknya," kata peneliti lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia tersebut.

Mempermalukan perempuan Peneliti linguistik Nelly Martin dalam artikelnya yang dimuat di jejaring the conversation mengatakan istilah pelakor tersebut digunakan untuk menyalahkan dan mempermalukan perempuan dan sama sekali tidak menyalahkan laki-laki yang melakukan perselingkuhan.

Dalam konteks tersebut, istilah pelakor perlu dianalisis secara kritis karena memberikan retorika yang timpang.

Secara sosiolinguistik, istilah ini sangat berpihak pada laki-laki, karena seringkali muncul dalam wacana keseharian tanpa istilah pendamping untuk laki-laki dalam hubungan tersebut.

Istilah pelakor, secara umum digunakan sendiri, atau sang laki-laki secara terang-terangan absen dalam cerita tersebut.

Secara kebahasaan, istilah ini meminggirkan perempuan. Lebih dari itu istilah ini menunjukkan fenomena sosial-budaya yang lebih besar.

Kerapnya istilah ini digunakan dalam cerita di media sosial dan dalam pemberitaan tanpa didampingi istilah yang sepadan untuk pelaku laki-laki, menunjukkan bahwa istilah ini seksis.

Dia mengatakan kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyalahkan pelakor seorang menunjukkan bias negatif kita terhadap perempuan, dan pada saat yang sama mengglorifikasi laki-laki.

Dalam kasus perselingkuhan, tampaknya masyarakat Indonesia masih menerapkan bias gender. Jika perselingkuhan terjadi, kesalahan ditimpakan pada perempuan, baik dalam peran perempuan sebagai korban (istri yang dikhianati yang seringkali dianggap "gagal" mengurus suami) atau kepada perempuan lain, yang dianggap merebut.

"Dengan kata lain, kecenderungan kita untuk berteriak pelakor tanpa menyebut-nyebut sang lelaki, menggambarkan kekerasan terhadap perempuan dan persepsi yang buruk terhadap perempuan," kata dia.

Media sosial wadah perundungan Seperti yang telah disebutkan, pelabelan pelakor santer digunakan di media sosial, lalu mengapa para warganet yang kebanyakan perempuan berbondong-bondong merundung di media sosial? Sabilla menjelaskan media sosial dalam jaringan (online) dapat membentuk identitas ulang yang berbeda dari dunia nyata. Contohnya misalnya dalam kehidupan nyata seseorang itu miskin, namun dia dapat berpura-pura kaya dengan mengunggah foto yang bergaya hidup mewah.

Dalam kasus "pelakor", identitas sebagai superior inilah yang dibentuk oleh para warganet. Oleh sebab itu tidak heran istilah "pelakor" langsung diadaptasi dan kerap digunakan perempuan sebagai bentuk keinginan untuk menindas sesamanya.

Selain itu, kecenderungan orang untuk meniru tindakan yang dilakukan orang lain, juga menjadi salah satu faktor ramainya istilah itu digunakan.

"Kalau dilihat dari faktor budaya massa, orang akan mudah meniru tindakan yang ramai dilakukan orang lain. Begitu istilah pelakor banyak digunakan, maka orang-orang lain pun ikut menggunakannya," kata dia.

Penggunaan kata tersebut juga dapat digolongkan sebagai bentuk kekerasan verbal terhadap perempuan.

Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyebutkan penghinaan atau pencemaran nama baik menjadi salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Dampak dari kejahatan siber ini dapat menjatuhkan hidup perempuan, korban dapat menjadi korban berluang kali dan peristiwa tersebut dapat terjadi seumur hidup.

Tag: Sastra

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Gito Adiputro Wiratno

Foto: Antara

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5821.812 -0.521 587
2 Agriculture 1482.909 -8.990 19
3 Mining 1961.047 9.274 44
4 Basic Industry and Chemicals 792.719 -10.247 70
5 Miscellanous Industry 1192.511 -9.581 45
6 Consumer Goods 2334.240 -6.620 45
7 Cons., Property & Real Estate 448.980 -1.710 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1024.955 -10.483 65
9 Finance 1028.501 16.045 93
10 Trade & Service 878.674 -10.182 141
No Code Prev Close Change %
1 JKSW 89 120 31 34.83
2 SWAT 424 530 106 25.00
3 KPAL 326 406 80 24.54
4 BTON 254 316 62 24.41
5 SONA 2,710 3,290 580 21.40
6 CSIS 1,150 1,390 240 20.87
7 DSSA 21,000 25,200 4,200 20.00
8 PTIS 316 376 60 18.99
9 CITA 1,150 1,350 200 17.39
10 TGRA 426 498 72 16.90
No Code Prev Close Change %
1 SDMU 167 116 -51 -30.54
2 BBRM 63 52 -11 -17.46
3 MFMI 775 640 -135 -17.42
4 DNAR 310 260 -50 -16.13
5 KPIG 1,405 1,200 -205 -14.59
6 JKON 540 472 -68 -12.59
7 LEAD 107 94 -13 -12.15
8 CMPP 338 300 -38 -11.24
9 NELY 132 118 -14 -10.61
10 GLOB 278 250 -28 -10.07
No Code Prev Close Change %
1 SWAT 424 530 106 25.00
2 ERAA 2,660 2,980 320 12.03
3 BBRI 2,910 2,980 70 2.41
4 KREN 760 750 -10 -1.32
5 BMTR 570 540 -30 -5.26
6 INKP 20,025 19,250 -775 -3.87
7 BBCA 21,150 21,925 775 3.66
8 ADRO 2,010 1,930 -80 -3.98
9 BBTN 2,800 2,690 -110 -3.93
10 TLKM 3,610 3,580 -30 -0.83

Recommended Reading