Portal Berita Ekonomi Senin, 23 Juli 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 12:52 WIB. Politik - Jokowi persilakan ketua umum bersaing ajukan cawapres.
  • 12:51 WIB. Pilpres - Muhaimin: JK ibarat Ferrari dalam bursa cawapres.
  • 12:51 WIB. Politik - PKB klaim telah bekerja keras untuk memenangkan Jokowi.
  • 12:51 WIB. Politik - Jubir sebut Gerindra butuh kesepahaman detail dengan Demokrat.
  • 12:51 WIB. Nasional - Okky Asokawati beri peringatan lampu kuning di Hari Anak Nasional.
  • 12:50 WIB. Nasional - Presiden Jokowi bertemu para wali kota di Istana Bogor.
  • 12:50 WIB. Hukum - Menkumham: Tidak ditemukan barang aneh di Porong.
  • 12:49 WIB. Nasional - Ketua MPR ingatkan pemerintah perhatikan nasib petani.
  • 10:40 WIB. Pertamina - Pertamina butuh pinjaman 80% dari nilai investasi US$1,8 miliar untuk proyek PLTGU Jawa-1.
  • 10:38 WIB. ESDM - ESDM punya PR rampungkan tanda tangan kontrak Blok South Jambi yang terminasi di 2020 dan Blok Rokan yang terminasi di 2021.
  • 10:36 WIB. ACP - Tahun ini, Adhi Commuter Properti bidik penjualan pemasaran Rp1 triliun dari proyek TOD.
  • 10:35 WIB. Adhi Commuter - Di semester II 2018, Adhi Commuter kembangkan LRT City Urban Signature Ciracas, Cisauk Point, Oase Park, dan MTH 27.
  • 10:31 WIB. ACP -  Adhi Commuter Properti sedang garap tiga proyek LRT City.
  • 10:28 WIB. ESDM - Kementerian ESDM tetapkan dua aturan menteri untuk dukung proyek PLTP. 
  • 10:25 WIB. KCI - PT KCI minta maaf kepada pengguna jasa commuter line terkait antrean loket dan gate elektronik di sejumlah stasiun.

Korsel Sukses Kelola Utang Bangun Infrastruktur, Apa Indonesia Bisa?

Foto Berita Korsel Sukses Kelola Utang Bangun Infrastruktur, Apa Indonesia Bisa?
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Hampir semua negara di dunia memiliki utang sebagai salah satu instrumen utama membiayai pembangunan terutama pembangunan infrastruktur.

Peneliti Institute for Fevelopment of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman mengungkapkan beberapa negara yang mengandalkan utang untuk membangun infrastruktur di antaranya Korea Selatan, Angola, Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka, Jepang, dan Cina.

Namun, utang yang menjadi penopang pembangunan infrastruktur di negara tersebut tampaknya tidak semua memberikan hasil positif. Ada beberapa negara yang justru berujung pada kegagalan alias bangkrut.

"Jadi, ada bad story dan success story. Yang bad story itu Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan, dan Sri Lanka," kata Rizal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Lebih lanjut diceritakan pada awal 1960-an Korea Selatan mendapat bantuan keuangan dari Amerika Serikat (AS). Bantuan atau utang tersebut digunakan secara produktif untuk membangun SDM dan industrinya.

"Bantuan keuangan ini tidak membuat Korea Selatan terjebak dalam lingkaran utang seperti yang dialami banyak negara berkembang. Korsel kini menjadi negara pengekspor peringkat delapan dunia setelah Cina, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Prancis, Belanda, dan Inggris. Orientasi ekonomi pada ekspor menjadi salah satu pendongkraknya," ujarnya.

Kondisi terbalik justru terjadi pada Zimbabwe. Akibat utang sebesar US$40 juta kepada Cina, akhirnya Zimbabwe harus mengikuti keinginan Cina dengan mengganti mata uangnnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang. Hal itu berlaku sejak 1 Januari 2016 setelah tidak mampu membayar utang jatuh tempo pada akhir Desember 2015.

Kegagalan juga disusul Nigeria di mana model pembiayaan melalui utang yang disertai perjanjian merugikan negara penerima pinjaman dalam jangka panjang. Cina mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal Cina untuk pembangunan infrastruktur di Negeria.

Untuk Sri Lanka juga sama kondisinya tidak mampu membayar utang yang akhirnya pemerintahannya melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp1,1 triliun atau 70% sahamnya dijual kepada BUMN Cina.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Total utang pemerintah per akhir Februari 2018 sudah mencapai Rp4.034,8 triliun atau setara dengan rasio 29,24% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Total utang tersebut sebagian besar digunakan untuk kebutuhan belanja infrastruktur.

Tag: Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, Korea Selatan (Korsel), Utang Luar Negeri (ULN)

Penulis: Boyke P. Siregar

Editor: Fauziah Nurul Hidayah

Foto: Boyke P. Siregar

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 href="Download_Data/" />Download_Data/ - Mar
2 href="Market_Summary/" />Market_Summary/ - Dec
3 href="MockTestReportingDRC/" />MockTestReportingDRC/ - Jun
4 href="PSPNDC/" />PSPNDC/ - Mar
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10