Portal Berita Ekonomi Sabtu, 21 Juli 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 19:42 WIB. CRP Group - Cita Rasa Prima Indonesia Berjaya siap merilis enam kemitraan brand kuliner.
  • 19:40 WIB. INTP - Indocement Tunggal Prakasa menargetkan pertumbuhan volume penjualan semen sebesar 5%–6% tahun ini.
  • 19:39 WIB. SMGR - Semen Indonesia menargetkan volume penjualan semen tumbuh 4%–6% pada tahun ini.
  • 19:38 WIB. SMGR - Semen Indonesia mencatat volume penjualan semen turun 11,1% menjadi 3,31 juta ton pada Juni 2018.
  • 18:27 WIB. UNSP - Bakrie Plantations mencatat produksi kelapa sawit sekitar 244.000 ton hingga paruh pertama 2018.
  • 18:25 WIB. UNSP - Bakrie Plantations menargetkan volume produksi tumbuh sebesar 10% pada tahun ini.
  • 17:49 WIB. Pelindo IV - Pelindo IV sedang bentuk konsorsium untuk kapal tunda.
  • 17:36 WIB. JSMR - Jasa Marga rekonstruksi rigid pavement ruas Jalan Tol Japek pada 21-26 Juli 2018.
  • 17:31 WIB. BNI - BNI kucurkan kredit investasi maksimum Rp735 miliar untuk Jalan Tol Ruas Kunciran-Serpong.
  • 17:28 WIB. Pelindo IV - Pelindo IV dan IKI bangun kemitraan untuk perbaikan dan pemeliharaan kapal.
  • 17:23 WIB. PLTU - Progres pengerjaan proyek PLTU unit II milik Cirebon Energi sudah 15,7%.
  • 17:21 WIB. PLN - ESDM sarankan PLN gunakan 100% minyak sawit pada PLTD miliknya.
  • 17:20 WIB. PLN - PLN jamin puncak musim kemarau tak akan ganggu kinerja pasokan listrik di Sumsel.
  • 17:18 WIB. Bio Farma - Musem Bio Farma bidik 10 besar destinasi wisata kesehatan di Jawa Barat.
  • 17:17 WIB. Bio Farma - PT Bio Farma (Persero) kembangkan wisata sehat Museum Bio Farma.

Peraih Nobel Malala Yousafzai Menangis Pulang ke Negara Asalnya

Foto Berita Peraih Nobel Malala Yousafzai Menangis Pulang ke Negara Asalnya
Warta Ekonomi.co.id, Islamabad -

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai menangis ketika kembali secara emosional ke negara asalnya, Pakistan, pada Kamis (293/2018), enam tahun setelah dia ditembak di kepala oleh orang-orang bersenjata Taliban karena mengadvokasi pendidikan kepada anak-anak perempuan.

Yousafzai, bepergian dengan ayah dan adik laki-lakinya, bertemu Perdana Menteri Shahid Khaqan Abbasi di ibu kota, Islamabad, sebelum memberikan pidato singkat di televisi nasional.

“Ini adalah hari terindah dalam hidupku. Saya masih tidak percaya itu terjadi,” ungkapnya, menghapus air mata, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (29/3/2018).

"Saya biasanya tidak menangis. Saya masih berusia 20 tahun tetapi saya telah melihat begitu banyak hal dalam hidup," tambah Yousafzai, dengan mengenakan pakaian tradisional shalwar khameez dengan kepalanya ditutupi dengan syal duppata merah dan biru.

Yousafzai berbicara tentang pentingnya pendidikan dan tentang upaya yayasan amalnya untuk membantu para gadis, seringkali berpindah antara bahasa Inggris dan bahasa Pashto dan Urdu.

"Selamat datang kembali," ungkap Perdana Menteri Abbasi kepada Yousafzai.

"Ketika dia pergi, dia masih berumur 12 tahun. Sekarang, dia telah kembali sebagai warga negara Pakistan yang paling penting," tuturnya.

Ini adalah kunjungan pertama Yousafzai ke tanah airnya sejak dia diterbangkan untuk perawatan medis di Inggris pada tahun 2012. Namun dia tidak diperbolehkan melakukan perjalanan ke wilayah rumahnya di Swat, di pegunungan barat laut Islamabad, karena ancaman keamanan terhadapnya, seorang kerabat dan sumber keamanan mengatakan kepada Reuters.

“Sudah lama keinginan Malala Yousafzai dan orang tuanya untuk mengunjungi Swat dan melihat kerabat dan teman-temannya. Tetapi dia tidak diberi izin karena masalah keamanan,” tutur seorang kerabat, yang menolak untuk diidentifikasi.

Sebelumnya, Geo TV Pakistan menunjukkan rekaman Yousafzai setelah dia tiba di bandara Islamabad, berjalan ke mobil yang dikawal oleh petugas keamanan. Pada Oktober 2012, pria bersenjata bertopeng menghentikan bus yang membawa Malala dan beberapa teman pulang dari sekolah dan menembaknya. Dua temannya juga terluka.

Pada usia 17 tahun, pada tahun 2014, Yousafzai menjadi penerima termuda Hadiah Nobel Perdamaian untuk usahanya dalam aspek pendidikan. Dia juga menjadi simbol ketahanan perempuan secara global dalam menghadapi penindasan. Pekan lalu, di Twitter, Yousafzai, yang tinggal di Inggris dan sedang belajar di Universitas Oxford, mengungkapkan kerinduan untuk tanah airnya.

“Pada hari ini, saya sangat menyukai kenangan indah tentang rumah, bermain kriket di atas atap dan menyanyikan lagu kebangsaan di sekolah. Selamat Hari Pakistan!” tulisnya pada 23 Maret.

Tag: Malala Yousafzai, Pakistan, Nobel, Taliban, Inggris, Oxford University Indonesia Society (Oxonis)

Penulis/Editor: Hafit Yudi Suprobo

Foto: Reuters/Suzanne Plunkett/File Photo

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 href="Download_Data/" />Download_Data/ - Mar
2 href="Market_Summary/" />Market_Summary/ - Dec
3 href="MockTestReportingDRC/" />MockTestReportingDRC/ - Jun
4 href="PSPNDC/" />PSPNDC/ - Mar
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10