Portal Berita Ekonomi Minggu, 23 September 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 06:37 WIB. BNI - BNI Singapura mencatat laba tumbuh 21% menjadi US$7,2 juta sampai semester I-2018.
  • 06:35 WIB. BNI - BNI Singapura mencatat pembiayaan dan trade financing untuk ekspor senilai US$550 juta pada kuartal III-2018.

Ridwan Kamil: Di Kawasan Industri Wajib Ada IKM

Foto Berita Ridwan Kamil: Di Kawasan Industri Wajib Ada IKM
Warta Ekonomi.co.id, Bandung -

Persoalan zonasi Industri Kecil Menengah (IKM) mengemuka dalam acara dialog industri yang diikuti oleh kandidat gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil.

Calon Gubernur Jabar nomor urut 1 ini mengatakan di negara-negara maju seperti Jepang dan Tiongkok sudah memiliki kluster IKM untuk mengembangkan produk-produk yang dibutuhkan bagi industri-industri besar. 

Menurut Emil, sapaan akrabnya, sampai hari ini zonasi IKM di Jabar belum ada dalam satu kawasan industri. Maka dari itu, solusinya adalah jika dirinya terpilih sebagai gubernur, dia akan berdialog dengan para stakeholder kawasan industri tersebut untuk meminta tersedianya zonasi IKM. 

"Jadi, di setiap kawasan industri harus ada zonasi IKM," tegas Emil kepada wartawan di Bandung, Jumat (30/3/2018).

Selama blusukan ke kawasan industri, Emil pernah datang ke beberapa IKM yang memproduksi onderdil otomotif hingga baut-baut untuk kebutuhan mesin-mesin pabrik. Pabrik itu memiliki 30 hingga 70 orang buruh. Namun, karena zonasi IKM belum ada, aturan yang diterapkan pada perusahaan ini sama dengan industri besar. Padahal, skala industrinya masih kecil dan menengah. Hal ini jelas memberatkan para pengusaha IKM.  

"Oleh karena itu, IKM harus diwujudkan di kawasan industri atau bikin zona baru IKM. Karena IKM ini juga memberikan sumbangan untuk menciptakan lapangan kerja baru," ungkap Emil.

Walikota Bandung yang pernah meraih 310 penghargaan ini mengungkapkan persoalan berikutnya yang ditemuinya saat blusukan, adalah ketika IKM dan kawasan industri tumbuh, warga sekitar hanya jadi penonton. Orang yang bekerja di pabrik, misalnya di Karawang adalah orang di luar Karawang. Orang Karawang sendiri kesulitan untuk bekerja di pabrik tersebut. 

Untuk itu, agar pembangunan bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat Jawa Barat, Master Tata Kota dari Berkeley University, Amerika Serikat ini akan meminta pabrik-pabrik itu membangun sekolah yang akan melatih anak-anak muda itu bisa bekerja di pabrik. 

"Memang tidak semua orang ingin bekerja di pabrik. Nah, untuk tipe seperti ini, negara harus memfasilitasi mereka," imbuhnya.

Konsepnya, adalah one village one product, setiap desa satu perusahaan. Nah, desa harus punya produk unggulan dimana pekerjanya adalah orang di desa itu, lalu gubernur berperan sebagai marketing-nya. 

Selain itu, dia juga harus memastikan bahwa para buruh  sejahtera. Solusinya tidak harus selalu dengan menaikkan upah terus, tapi dengan cara lain yang menguntungkan para buruh. Antara lain dengan memberikan fasilitas bus gratis ke tempat kerja, pembelian sembako delivery dengan harga grosir, dan  kesehatan gratis. 

"Dengan begitu, meski upah tetap, tapi pengeluaran turun. Dana yang selama ini terserap untuk transportasi, dan kesehatan bisa ditabung sehingga kesejahteraan mereka meningkat," pungkasnya.

Tag: Industri Kecil dan Menengah (IKM), kawasan industri, Ridwan Kamil, Jawa Barat (Jabar)

Penulis: Rahmat Saepulloh

Editor: Fauziah Nurul Hidayah

Foto: Rahmat Saepulloh

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,972.48 3,932.70
British Pound GBP 1.00 19,766.67 19,568.83
China Yuan CNY 1.00 2,179.44 2,157.79
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,898.00 14,750.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,860.64 10,751.28
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,904.46 1,885.47
Dolar Singapura SGD 1.00 10,919.89 10,810.61
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,552.82 17,372.55
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,609.89 3,570.56
Yen Jepang JPY 100.00 13,234.43 13,099.47

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5957.744 26.478 602
2 Agriculture 1585.807 1.672 20
3 Mining 1954.048 17.971 46
4 Basic Industry and Chemicals 821.966 11.293 71
5 Miscellanous Industry 1239.096 -33.418 45
6 Consumer Goods 2491.409 13.779 47
7 Cons., Property & Real Estate 420.972 -0.966 68
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1027.263 -2.237 69
9 Finance 1075.740 7.879 91
10 Trade & Service 829.850 7.907 145
No Code Prev Close Change %
1 LPIN 900 1,125 225 25.00
2 PANI 306 382 76 24.84
3 LAND 1,155 1,440 285 24.68
4 DIGI 530 660 130 24.53
5 IIKP 236 280 44 18.64
6 FILM 1,135 1,285 150 13.22
7 RELI 234 260 26 11.11
8 PBSA 660 730 70 10.61
9 NIKL 2,060 2,270 210 10.19
10 ACES 1,420 1,560 140 9.86
No Code Prev Close Change %
1 AIMS 230 200 -30 -13.04
2 BIKA 200 175 -25 -12.50
3 TOPS 825 730 -95 -11.52
4 SIPD 1,065 955 -110 -10.33
5 MAPA 4,180 3,800 -380 -9.09
6 INTD 308 282 -26 -8.44
7 MMLP 575 530 -45 -7.83
8 WICO 645 595 -50 -7.75
9 LMSH 695 645 -50 -7.19
10 UNIT 290 270 -20 -6.90
No Code Prev Close Change %
1 KPIG 690 680 -10 -1.45
2 BBRI 3,090 3,120 30 0.97
3 TRAM 260 254 -6 -2.31
4 ADRO 1,805 1,880 75 4.16
5 CPRO 50 50 0 0.00
6 BBCA 23,950 23,700 -250 -1.04
7 PNLF 232 238 6 2.59
8 LAND 1,155 1,440 285 24.68
9 TLKM 3,600 3,600 0 0.00
10 FILM 1,135 1,285 150 13.22

Recommended Reading