Portal Berita Ekonomi Jum'at, 27 April 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 05:53 WIB. AALI - Astra Agro Lestari mengatakan berencana untuk memperluas pasar ekspor pada tahun ini. 
  • 05:53 WIB. Maybank - Bank Maybank mencatat penyaluran kredit sebesar Rp122 triliun pada kuartal I-2018.
  • 05:50 WIB. Maybank - Maybank mencatat pendapatan operasional setelah provisi tumbuh 7,59% menjadi Rp682 miliar pada kuartal I-2018.
  • 05:49 WIB. Maybank - Bank Maybank Indonesia mencatat laba bersih sebesar Rp462 miliar pada kuartal I-2018.
  • 05:47 WIB. AUTO - Astra Otoparts mencatat penurunan laba sebesar 1,07% ke angka Rp147,5 miliar pada kuartal I-2018.
  • 05:43 WIB. AUTO - Astra Otoparts mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 10,55% menjadi Rp3,83 triliun pada kuartal I-2018.
  • 21:51 WIB. BNI - BNI katakan keuntungan bank pakai fasilitas hedging product call spread yakni tingkatkan efisiensi.
  • 21:48 WIB. PLN - PLN bilang 100% atau 1.520 desa di Kaltim dan Kaltara sudah berlistrik.
  • 21:41 WIB. Sucofindo - Sucofindo raih penghargaan kategori BUMN Bersih Terbaik pada ajang "Revolusi Mental Award BUMN 2018".
  • 21:34 WIB. BUMN -  OJK catat potensi transaksi bisnis hedging structured product satu bank BUMN capai US$8 miliar. 
  • 21:32 WIB. BNI - BNI, PI, dan PTPN III bersinergi untuk penuhi kebutuhan pupuk urea dan NPK Chemical.
  • 21:30 WIB. Pelindo - Pelindo IV Makassar mulai benahi fasilitas untuk sambut musim mudik 2018.
  • 21:28 WIB. Pelindo - Pelindo III perkenalkan aplikasi Home Terminal di international event TOC Asia di Marina Bay Sands, Singapura.
  • 21:24 WIB. BPJS - BPJS Kesehatan terapkan implementasi verifikasi digital klaim bagi FKRTL.
  • 21:15 WIB. Pertamina - Pertamina gandeng PT Dompet Anak Bangsa untuk sediakan opsi pembayaran dengan Go-Pay. 

Pengamat: BBM Penugasan Bisa Manfaatkan Pertalite

Foto Berita Pengamat: BBM Penugasan Bisa Manfaatkan Pertalite
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyatakan pemerintah bisa memanfaatkan pertalite untuk menggantikan premium sebagai bahan bakar minyak penugasan yang harus disediakan SPBU Pertamina.

Menurut Fabby bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite memiliki kualitas lebih tinggi serta biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan premium.

"Jika sudah menjadi BBM penugasan, pemerintah bisa menjamin agar harga pertalite lebih murah," kata dia di Jakarta, Sabtu (14/4/2018).

Dia menilai rencana pemerintah yang mengharuskan SPBU Pertamina menyediakan premium di Jawa, Madura dan Bali sebagai hal yang tidak tepat. Apalagi sebelumnya Pertamina tidak wajib menyediakan BBM RON 88 di wilayah tersebut.

Menurut Fabby, kualitas premium sangat rendah. Selain itu biaya penyediaannya sangat mahal sebab BBM jenis tersebut tidak dijual di pasar internasional.

Dengan demikian, penyediaannya dilakukan melalui proses blending BBM RON lebih tinggi yang juga didatangkan melalui impor. Dari proses tersebut, biaya untuk penyediaan premium jauh lebih mahal dibandingkan BBM lain yang tanpa melalui blending.

Kebijakan pemerintah tersebut akan dituangkan melalui revisi Perpres Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian Dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak yang rencananya revisi perpres akan terbit pekan ini.

Dia menambahkan Kementerian ESDM harus memberikan pertimbangan teknis terkait rencana revisi perpres itu. Misalnya, mengenai besarnya biaya produksi, selisih biaya yang harus ditanggung Pertamina, dan konsekuensinya.

"Kalau semua persoalan tersebut dibahas maka akan ada kebijakan rasional terkait RON 88. Tidak seperti sekarang yang cenderung memaksakan," katanya.

Menurut Fabby, pada intinya, pemerintah memang harus menyediakan BBM yang terjangkau. Hanya saja harus cermat dalam memberi penugasan. Karena itu, sangat aneh kalau aturan yang baru itu justru mempertahankan premium meski biayanya lebih besar.

"Apalagi, meski harga ditetapkan Pemerintah, namun Pertamina tidak mendapat subsidi untuk premium. Jadi seluruh biaya ditanggung oleh Pertamina," kata dia.

Secara terpisah, pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai, harusnya pemerintah memberikan "fee" atau kompensasi kepada BUMN pada setiap penugasan yang diterima.

"Kalau tidak, maka potential lost BUMN tersebut akan semakin besar. Perlahan bisa mati karena siapa yang harus membayar ongkos produksi?" katanya.

Apalagi jika diharuskan menjual di wilayah yang titik-titik pembeliannya tidak banyak dan di saat permintaan premium memang menurun drastis seperti sekarang.

Toto menekankan, kompensasi sangat penting. Apalagi karena selama ini pemerintah juga tidak memberikan subsidi untuk premium.

Padahal, setiap pemerintah mengatur harga dan BUMN harga jual tersebut berada di atas biaya produksi, seharusnya pemerintah yang memberikan subsidi, bukan BUMN.

Tag: PT Pertamina (Persero), Pertalite, Fabby Tumiwa

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Ratih Rahayu

Foto: Antara/Widodo S Jusuf

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5909.198 -170.652 575
2 Agriculture 1649.379 -41.632 19
3 Mining 1812.460 -64.886 44
4 Basic Industry and Chemicals 771.685 -9.748 70
5 Miscellanous Industry 1224.866 -17.897 44
6 Consumer Goods 2411.714 -76.729 45
7 Cons., Property & Real Estate 477.256 -14.532 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1039.703 -33.358 64
9 Finance 1040.444 -34.277 90
10 Trade & Service 909.909 -23.532 134
No Code Prev Close Change %
1 SSTM 520 650 130 25.00
2 OASA 334 416 82 24.55
3 MREI 4,900 5,975 1,075 21.94
4 CSIS 462 560 98 21.21
5 AKSI 270 310 40 14.81
6 LCGP 70 79 9 12.86
7 BBRM 100 110 10 10.00
8 INAF 4,380 4,800 420 9.59
9 NIKL 3,890 4,200 310 7.97
10 MARI 1,400 1,500 100 7.14
No Code Prev Close Change %
1 JECC 6,200 4,960 -1,240 -20.00
2 MTSM 324 266 -58 -17.90
3 BIMA 102 84 -18 -17.65
4 INDR 1,430 1,205 -225 -15.73
5 CEKA 1,280 1,090 -190 -14.84
6 MBSS 735 635 -100 -13.61
7 SHID 1,550 1,350 -200 -12.90
8 IMAS 2,450 2,150 -300 -12.24
9 RIGS 248 218 -30 -12.10
10 HDFA 212 188 -24 -11.32
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 3,310 3,140 -170 -5.14
2 BMRI 7,150 6,775 -375 -5.24
3 TLKM 3,780 3,650 -130 -3.44
4 BBCA 21,750 21,350 -400 -1.84
5 UNVR 46,000 45,000 -1,000 -2.17
6 INKP 12,725 12,450 -275 -2.16
7 PTBA 3,270 3,060 -210 -6.42
8 ADRO 2,120 1,995 -125 -5.90
9 BBTN 3,560 3,190 -370 -10.39
10 TKIM 9,600 9,550 -50 -0.52