Portal Berita Ekonomi Selasa, 24 April 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 19:16 WIB. Pertamina - Pengamat energi dari UGM katakan Pertamina perlu percepat pembangunan kilang minyak.
  • 19:13 WIB. Pertamina - Pertamina berencana keluarkan kartu solar bersubsidi untuk kendaraan berbahan bakar solar.
  • 19:12 WIB. Pertamina - Pertamina duga kelangkaan solar di Kendari karena adanya penyelewengan solar bersubsidi ke industri.
  • 17:47 WIB. Pilpres - Anies membantah bahas Pilpres 2019 dengan Erdogan.
  • 17:46 WIB. Pilpres - JK ingin istirahat saat Pilpres 2019.
  • 17:46 WIB. Hukum - Setya Novanto mengaku syok divonis 15 tahun penjara.
  • 17:45 WIB. Jakarta - Anies klaim inflasi DKI Jakarta lebih rendah dari Nasional.
  • 17:41 WIB. Politik - Ketua DPR sebut pansus TKA tidak mendesak.
  • 16:30 WIB. Puasa - Otoritas Arab Saudi akan hukum pedagang jika naikkan harga selama bulan Ramadan.
  • 16:29 WIB. Puasa - Otoritas Arab Saudi akan hukum pedagang jika naikkan harga selama bulan Ramadan.
  • 16:27 WIB. Transgender - Pakistan buka sekolah transgender pertama.
  • 16:26 WIB. Rusia - G7 siap jatuhkan sanksi baru kepada Rusia.
  • 16:24 WIB. Jepang - Pesawar tempur F-35 AS lakukan pendaratan darurat di Jepang.
  • 16:23 WIB. Kuba - Pemimpin Kuba temui presiden Bolivia, Eva Morales, dalam rangka perkuat hubungan kedua negara.
  • 16:20 WIB. 5G - China akan terapkan teknologi 5G pada paruh kedua 2019.

Joko Widodo Membangun Papua dengan Hati

Foto Berita Joko Widodo Membangun Papua dengan Hati
Warta Ekonomi.co.id, Papua -

Memilih menjadi pemimpin di Indonesia ibarat ujian untuk mengisi jutaan gelas kosong dengan air secara adil.

Sementara volume air terbatas, suara protes atas pemenuhan rasa adil tak pernah berhenti sehingga sering membuat kuping merah.

Hal itu barangkali yang harus dialami seorang Jokowi. Sang Presiden ke-7 RI itu harus menghadapi deraan dan tuntutan untuk berbuat adil dalam segala langkahnya.

Tak terkecuali pilihannya untuk membangun infrastruktur dari pinggiran. Sejatinya ia dihadapkan pada pilihan yang pragmatis; membangun untuk digunakan banyak orang di wilayah-wilayah padat penduduk atau membangun di wilayah yang sama sekali sedikit masyarakatnya.

Jokowi memilih untuk melakukan kedua-duanya. Meski kemudian upayanya untuk memeratakan kesejahteraan mengundang protes sana sini.

Ia pernah mengungkapkan bahwa seorang pemimpin tak mungkin bisa memuaskan ratusan juta orang rakyatnya sekaligus. Mantan tukang kayu itu rupanya hanya berpegang teguh pada apa yang diyakininya benar.

Serupa ketika ia berpikir tentang Papua. Tanah yang disebut Labadios oleh ahli geografi Claudius Ptolemaeus pada 200 M itu menempati perhatian khusus dalam benak Jokowi.

Mantan Gubernur DKI itu sejak awal didaulat sebagai Presiden RI bertekad melakukan sesuatu untuk Papua, yang bagi sebagian kecil orang dianggap terlampau menghabiskan waktu dan energi.

Terlebih dalam sejarahnya, persoalan di Papua selalu berkelindan kusut selaksa tanpa ujung pangkal, konflik antarsuku, kemiskinan, kesenjangan, hingga keterlambatan pembangunan.

Pemimpin, terlebih mereka yang sudah lama terpuaskan beragam kemudahan di Tanah Jawa kadang kala, bahkan lebih sering, menutup mata saja atas apa yang terjadi di Papua.

Anehnya Jokowi justru berbeda, bukan lantaran sekadar nyentrik, sebaliknya Jokowi justru memilih untuk membangun Papua. Dengan alasan yang banyak orang tak tahu dengan pasti.

Banyak yang kemudian mempertanyakan untuk apa Jokowi begitu berlebihan pada Papua. Bahkan dalam tahun keempat pemerintahannya, total ia telah berkunjung 9 kali ke Bumi Cenderawasih itu.

Memanusiakan Papua Fransiscus Orlando barangkali memang bukan siapa-siapa, namun toh pria asal Papua yang sudah lama menetap di Selandia Baru itu mendapatkan kesempatan emas untuk bertanya ke Jokowi secara langsung saat kunjungan Presiden RI ke Selandia Baru, beberapa waktu lalu.

Pria berkulit hitam dan berambut keriting khas Papua itu melayangkan pertanyaannya atas rasa penasaran mengapa Presiden gemar sekali mengunjungi Papua.

Jokowi yang didampingi Iriana yang selalu tersenyum pun menjawab dirinya hanya ingin memastikan secara langsung kondisi masyarakat dan infrastruktur di sana, tidak hanya dari laporan jajarannya saja. Menurut Jokowi, Indonesia bagian timur sudah terlalu lama dilupakan dan kurang diperhatikan. Maka dari itulah meski butuh 6 jam penerbangan dari ibu kota, tak menyurutkan langkah Jokowi untuk berkunjung ke provinsi paling timur Indonesia itu.

Tercatat Papua menjadi provinsi yang paling sering dikunjungi Jokowi, bahkan sejak 1,5 bulan ia dilantik sebagai orang nomor satu di negeri ini.

Keprihatinan Jokowi menjawab pertanyaan banyak orang entah yang benar-benar ingin tahu atau mereka yang tak sependapat hingga nyinyir atas langkahnya.

Jokowi hanya ingin memanusiakan Papua sebagai bagian dari NKRI yang sudah lama terlupakan. Papua mengundang keprihatinannya yang terdalam, bahkan siapapun yang belum pernah menginjakkan kakinya di Papua barangkali akan sulit memahami apa yang dilakukan Jokowi.

Jokowi akan sedikit mengeraskan volume suaranya ketika berbicara tentang Nduga, sebuah kabupaten kecil di Papua yang masih begitu rawan keamanannya.

Untuk ke sana saja, siapapun harus berjalan kaki 4 hari 4 malam dari Wamena, bahkan aspal sepanjang satu meterpun tak pernah ada di wilayah itu.

Bayangkan bagi masyarakat kecil yang tinggal di sebuah desa terpelosok di sudut Nduga, maka untuk mencapai puskesmas saja butuh waktu empat hari lamanya. Sementara Indonesia telah merayakan kemerdekaan lebih dari tujuh dekade lamanya.

Maka masih adakah yang bisa nyenyak tertidur di ranjang empuk dengan listrik yang menyala semalaman di tengah Ibu Kota yang serba mudah tanpa berpikir betapa ada yang sedang kesulitan bertahan hidup di Papua, padahal sama-sama di pangkuan ibu pertiwi.

Panglima Perang Orang bebas menilai tentang bagaimana Jokowi, barangkali ia pun kini semakin tak peduli. Bagi pria asli Jawa itu, Papua adalah prioritas.

Kesungguhannya pada Papua bukan main-main. Entah dianggap pencitraan atau bukan, Jokowi mengangkat ajudan polisi dari kalangan putra Papua.

Ia bahkan mengangkat Staf Khusus asal Papua yang bertugas langsung menangani dan melaporkan isu-isu Papua kepadanya. Lenis Kogoya, anak Papua itu, mengaku begitu bangga ketika dipanggil ke Istana dan ditawari pekerjaan yang tak pernah diimpikannya sebagai Staf Khusus Presiden.

Jokowi juga tak segan menekan Pertamina agar mau mendegradasi profit demi program BBM satu harga di Papua.

Ayah tiga anak itu seakan ingin menjelma menjadi Bapak Papua yang bermimpi harga semen di Merauke sama dengan di Jakarta.

Sampai ia menemukan bahwa infrastruktur yang begitu buruk karena jauh dari sentuhan pembangunanlah yang membuat harga-harga di Papua demikian mahal. Masyarakat Papua pun jauh dari aroma subsidi yang semestinya mereka terima.

Maka wajar ketika ia disemati julukan nama adat Kambepit sebagaimana keputusan Musyawarah Pimpinan Lembaga Masyarakat Adat Asmat.

Kambepit adalah nama Panglima Perang Asmat yang berasal dari rumpun Bismania. Bagi Suku Asmat, Panglima Perang Kambepit adalah pemimpin pemberani dan visioner yang memimpin Suku Asmat memasuki era perubahan dimana masyarakat Suku Asmat mengenal peradaban modern seperti sekarang ini. Dengan pemberian nama Kambepit dan gelar adat sebagai Panglima Perang kepada Presiden Joko Widodo, masyarakat adat Asmat menginginkan agar Presiden Joko Widodo bisa menjadi Panglima Kambepit di masa kini yang memimpin mereka menuju era perubahan dan masa depan yang lebih baik.

Tak hanya Asmat, seluruh Papua pun semakin penuh harap, pada Jokowi yang mengikatkan hatinya jauh di tanah mereka. Pun pada mereka yang "hitam kulit, keriting rambut, aku Papua...".

Tag: Joko Widodo (Jokowi), Papua

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Gito Adiputro Wiratno

Foto: Antara/M Agung Rajasa

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6229.635 -78.513 575
2 Agriculture 1722.371 6.370 19
3 Mining 1919.443 -33.172 44
4 Basic Industry and Chemicals 789.595 -7.216 70
5 Miscellanous Industry 1264.767 -18.889 44
6 Consumer Goods 2549.123 -61.872 45
7 Cons., Property & Real Estate 500.752 -5.526 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1087.256 11.099 64
9 Finance 1120.332 -20.452 90
10 Trade & Service 942.879 -0.426 134
No Code Prev Close Change %
1 LPPS 108 145 37 34.26
2 OASA 248 310 62 25.00
3 BIMA 97 118 21 21.65
4 RAJA 665 805 140 21.05
5 PTIS 328 394 66 20.12
6 GHON 1,185 1,400 215 18.14
7 NAGA 216 248 32 14.81
8 MLPT 710 800 90 12.68
9 CNTX 570 640 70 12.28
10 BPFI 525 580 55 10.48
No Code Prev Close Change %
1 BUVA 585 474 -111 -18.97
2 INPS 2,600 2,150 -450 -17.31
3 KDSI 1,010 910 -100 -9.90
4 SONA 3,100 2,800 -300 -9.68
5 RODA 550 500 -50 -9.09
6 TAXI 144 132 -12 -8.33
7 DEFI 1,095 1,005 -90 -8.22
8 BINA 685 630 -55 -8.03
9 HELI 258 238 -20 -7.75
10 CARS 1,950 1,820 -130 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 LPPS 108 145 37 34.26
2 RAJA 665 805 140 21.05
3 AUTO 1,545 1,640 95 6.15
4 BBRI 3,580 3,490 -90 -2.51
5 UNVR 50,800 48,000 -2,800 -5.51
6 TKIM 9,725 9,950 225 2.31
7 BAPA 171 180 9 5.26
8 TLKM 3,750 3,830 80 2.13
9 UNTR 37,600 37,900 300 0.80
10 MNCN 1,410 1,395 -15 -1.06

Recommended Reading

Selasa, 24/04/2018 15:12 WIB

Facebook Belum Jawab Surat dari Indonesia

Selasa, 24/04/2018 14:18 WIB

Papa Novanto Divonis 15 Tahun Penjara

Selasa, 24/04/2018 09:12 WIB

5 Tips Membuat Pitching Berkesan

Selasa, 24/04/2018 08:58 WIB

7 Manfaat Ekspansi Bisnis

Selasa, 24/04/2018 08:28 WIB

Fadel Perjuangkan Komoditas Sawit Indonesia

Selasa, 24/04/2018 07:23 WIB

Ketika Jokowi Menjelma Jadi Bapak Papua