Portal Berita Ekonomi Kamis, 19 Juli 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:26 WIB. Logistik - J&T Express akan mulai mengembangkan mesin sorting otomatis guna menghindari human error.
  • 07:11 WIB. BMW - BMW Indonesia menambah investasi Rp20 miliar untuk memordenisasi jalur perakitan.
  • 07:08 WIB. IHSG - Indosurya Sekuritas memproyeksikan IHSG mengalami penguatan didorong oleh sentimen positif apresiasi rupiah.
  • 07:05 WIB. IHSG - Reliance Sekuritas memperkirakan IHSG terkoreksi cukup besar pada perdagangan hari ini.
  • 06:16 WIB. New York - The dollar was last up 0.56 percent at 106.80 yen on Wednesday (18/7).
  • 06:14 WIB. New York - West Texas Intermediate (WTI) crude futures rose 68 cents, or one percent, to settle at $68.76 a barrel on Wednesday (18/7).
  • 06:13 WIB. London - Brent crude futures rose 74 cents to settle at $72.90 a barrel on Wednesday (18/7).
  • 06:12 WIB. New York - The Nasdaq Composite added 0.67 points (0.01 per cent) to 7,854.44 on Wednesday (18/7).
  • 06:10 WIB. New York - The S&P 500 gained 6.08 points (0.22 per cent) to 2,815.63 on Wednesday (18/7).
  • 06:09 WIB. New York - The Dow Jones Industrial Average rose 79.40 points (0.32 per cent) to 25,199.29 on Wednesday (18/7).
  • 22:50 WIB. Nasional - BNPT: Teroris bisa sasar apa saja.
  • 22:50 WIB. Nasional - Kemensos pastikan bansos mampu tekan kemiskinan.
  • 22:49 WIB. Pilpres - Mahfud MD: Jokowi tahu siapa yang didukung rakyat.
  • 19:44 WIB. PTPN III - PTPN III akan impor gula mentah 85.000 ton pada September.
  • 19:43 WIB. JSMR - JSMR catat pendapatan usaha di luar konstruksi Rp4,79 triliun pada semester I 2018, naik 5,76% YoY.

Sentimen Suku Bunga Fed Tahan Apresiasi Rupiah

Foto Berita Sentimen Suku Bunga Fed Tahan Apresiasi Rupiah
Warta Ekonomi.co.id, Mataram -

Ekonom Bank UOB, Enrico Tanuwidjaja menilai bahwa sentimen kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih menjadi salah satu faktor yang menahan apresiasi rupiah terhadap dolar AS.

"Risiko kenaikan suku bunga Fed bisa berdampak ke pembalikan modal dan berdampak negatif bagi rupiah," ujar Enrico Tanuwidjaja yang juga Head of Economic and Market Research Bank UOB, dalam edukasi pewarta bertema "Kondisi Perekonomian Terkini dan respon Kebijakan Bank Indonesia" di Mataram, Sabtu (21/4/2018).

Saat ini, menurut dia, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Fed cukup tinggi, yakni tiga hingga empat kali kenaikan. Hal itu seiring dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat.

"Mengapa rupiah bergerak dari Rp13.000 menjadi Rp13.900 per dolar AS. Artinya, pasar memandang The Fed optimis, jadi akan ada kenaikan suku bunga Fed lebih agresif. Tahun ini, The Fed baru menaikan satu kali. Dan sudah cukup menekan pasar," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, faktor penekan bagi nilai tukar rupiah yakni perang tarif antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Diharapkan, sentimen perang dagang tidak berlarut-larut sehingga fluktuasi rupiah dapat lebih stabil.

Kendati demikian, Enrico Tanuwidjaja menilai positif terhadap kebijakan-kebijakan moneter yang telah dikeluarkan Bank Indonesia.

"Kami inline dengan kebijakan BI, karena inflasi masih dalam batas official target, hubungan antara rupiah dan suku bunga BI cukup konsisten," katanya.

Menurut dia, level BI 7-Day Reverse Repo Rate saat ini cukup mendukung perekonomian dan moneter nasional. Saat ini, suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate berada di level 4,25 persen.

Enrico Tanuwidjaja juga mengatakan bahwa Bank Indonesia juga harus tetap hati-hati dalam melakukan intervensi terhadap pelemahan rupiah dengan menggunakan cadangan devisa.

Menurut dia, mencegah pelemahan mata uang tidak selamanya berhasil melalui cadangan devisa.

Belajar dari negara tetangga, Malaysia telah memangkas cadangan devisanya hingga mencapai 30 miliar dolar AS. Namun mata uang ringgit tetap melemah terhadap dolar AS.

"Kalau diperlukan ya dilakukan intervensi. Memang tidak ada level cadangan devisa yang ideal, tapi yang penting seberapa banyak cadev kita bisa membiayai impor, dan cadev kita masih tinggi," katanya.

Bank Indonesia mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2018 sebesar 126,00 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Dalam kesempatan sama, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar mengharapkan persepsi kenaikan suku bunga The Fed lebih agresif serta ketidakpastian perang dagang dapat mereda.

"Ini isu fenomena global, bukan hanya rupiah tapi juga pada mata uang dunia. BI dalam posisi ini ada di pasar untuk menjaga volatilitasnya agar tetap menjaga kepastian," katanya.

Dengan penyesuaian nilai tukar, menurut dia, akan mampu menahan tekanan eksternal dan juga daya saing dari sisi penanaman modal asing (PMA).

Tag: PT Bank UOB Indonesia, Suku Bunga, The Federal Reserve System (The Fed)

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Vicky Fadil

Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5890.731 29.223 597
2 Agriculture 1448.636 18.709 19
3 Mining 2030.948 37.402 46
4 Basic Industry and Chemicals 770.836 3.799 70
5 Miscellanous Industry 1171.537 6.552 45
6 Consumer Goods 2430.300 5.099 46
7 Cons., Property & Real Estate 447.579 -0.369 67
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1090.068 16.401 70
9 Finance 1026.304 6.533 91
10 Trade & Service 871.072 -8.720 143
No Code Prev Close Change %
1 INDR 6,075 7,275 1,200 19.75
2 TCPI 1,090 1,290 200 18.35
3 DSSA 20,525 24,000 3,475 16.93
4 BTON 240 278 38 15.83
5 BNBR 70 81 11 15.71
6 NUSA 254 292 38 14.96
7 POLL 1,305 1,500 195 14.94
8 CSIS 444 505 61 13.74
9 ERAA 2,820 3,130 310 10.99
10 MGRO 338 372 34 10.06
No Code Prev Close Change %
1 TRIO 1,890 1,420 -470 -24.87
2 MFMI 845 640 -205 -24.26
3 OKAS 334 280 -54 -16.17
4 FORU 146 124 -22 -15.07
5 TRUK 496 424 -72 -14.52
6 RODA 580 505 -75 -12.93
7 PEGE 150 133 -17 -11.33
8 GSMF 126 112 -14 -11.11
9 CEKA 1,100 985 -115 -10.45
10 TIRA 157 141 -16 -10.19
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 2,870 2,850 -20 -0.70
2 ERAA 2,820 3,130 310 10.99
3 PGAS 1,725 1,720 -5 -0.29
4 GSMF 126 112 -14 -11.11
5 INDR 6,075 7,275 1,200 19.75
6 TLKM 3,940 4,010 70 1.78
7 BKSL 107 105 -2 -1.87
8 WSKT 2,030 2,030 0 0.00
9 ADRO 1,760 1,865 105 5.97
10 PTBA 4,380 4,330 -50 -1.14