Portal Berita Ekonomi Jum'at, 18 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 23:21 WIB. Blackmarket - Kemenkominfo-Kemenperin sinkronisasi regulasi blokir HP ilegal.
  • 23:19 WIB. Grab - Grab gandeng perusahaan asal Tiongkok, ZhongAn tawarkan asuransi di aplikasinya.
  • 23:19 WIB. Palapa Ring - Menkominfo dan Menkeu uji coba Palapa Ring Tengah Sulawesi pada Jumat (18/1/2019).
  • 23:13 WIB. VW - Volkswagen bentuk aliansi dengan Ford.
  • 23:12 WIB. Ponsel - Penjualan ponsel di Indonesia diperkirakaan melambat.
  • 23:07 WIB. Bolt - 30 ribu pengguna Bolt migrasi ke Smartfren.
  • 23:05 WIB. Tiket.com - Tiket.com targetkan kenaikan 3,5 kali lipat tahun ini.
  • 23:05 WIB. Smartfren - Smartfren punya paket internet baru, klaim tarifnya termurah di dunia.

Diplomasi Minyak Sawit untuk Membuka Tembok China

Foto Berita Diplomasi Minyak Sawit untuk Membuka Tembok China
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Untuk urusan dagang, siapa yang meragukan China di tengah begitu futurolog yang memprediksi bahwa negeri Tirai Bambu ini akan menjadi superpower baru menggantikan posisi Amerika Serikat? Hal itulah yang kemudian mendorong banyak negara untuk bisa bermitra dengan China, terlebih dalam hal ekonomi, tak terkecuali Indonesia.

Namun bukan sembarangan untuk bisa masuk ke pasar China yang dikenal cenderung sensitif terhadap perubahan apapun. Oleh karena itulah, Presiden Joko Widodo memiliki strategi khusus untuk bisa menembus pasar China dengan lebih efektif.

China dengan penduduk terbesar di dunia dianggap Presiden Jokowi sebagai pasar potensial bagi Indonesia, terlebih untuk produk-produk pertanian dan perkebunan. Wajar jika kemudian Indonesia berupaya menjadikan China sebagai mitra dagang sekaligus menciptakan ketergantungan Negeri Tirai Bambu itu pada produk-produk tropis Nusantara. Ketergantungan itulah yang akan membuat pasar China selalu membuka diri terhadap komoditas asal Indonesia.

Presiden Jokowi pun kemudian tak segan menawarkan pasokan rutin minyak kelapa sawit ke Beijing. Tawaran itu sekaligus merupakan cara Jokowi untuk bisa menembus Negeri Tirai Bambu di sisi lain upaya memasok produk-produk pertanian yang lain, termasuk buah tropis.

Meski arus pro dan kontra terkait hubungannya dengan China yang tak pernah usai, Presiden Jokowi tetap saja menganggap China sebagai mitra dagang yang tidak bisa dilepaskan begitu saja.

Setengah menekan, Jokowi meminta Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok Li Keqiang untuk menyanggupi peningkatan ekspor berwujud tambahan kuota ekspor sedikitnya 500.000 ton minyak kelapa sawit dari Jakarta ke Beijing.

Pintu Masuk

Hubungan Beijing-Jakarta sejatinya tidak terbangun dalam semalam, melainkan telah berlangsung selama puluhan tahun silam. Namun membina sebuah kemitraan dagang yang lebih sistematis dan konkret disadari harus dibangun komitmennya dari waktu ke waktu. Dengan China, ada begitu banyak hal yang telah dilakukan Indonesia bersama, namun membiarkan pasar China dimanfaatkan peluangnya oleh kompetitor juga bukan pilihan yang bijaksana.

Oleh karena itulah, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengaku pihaknya akan terus melakukan pendekatan dengan China untuk menyampaikan permintaan peningkatan ekspor. Terlebih dalam dua tahun terakhir, dirasakan mulai ada penurunan defisit APBN yang disumbang, salah satunya yang terbesar dari komponen ekspor sawit.

Sementara China kemudian diketahui sedang mengembangkan B5 sehingga memerlukan tambahan pasokan kelapa sawit dalam jumlah yang besar. Di samping sawit, ada begitu banyak peluang lain yang bisa digarap dari pasar China yang demikian besar potensinya.

Sebagai negara dengan penduduk 1,37 miliar, RRT merupakan pasar yang besar sekali bagi komoditas dan produk-produk dari Indonesia. Maka kelapa sawit pun kemudian dianggap sebagai pintu masuk bagi jalannya ekspor produk dan komoditas Indonesia yang lain meliputi sarang burung walet, kopi, dan buah-buah tropis, seperti manggis, buah naga, dan salak.

Retno pun mencari penyebab masih terkendalanya ekspor buah tropis ke China selama ini yang diketahui kemudian lantaran faktor standar karantina. Oleh karena itulah, diperlukan dialog lebih lanjut perihal kerja sama badan karantina antara kedua negara sehingga persoalan tersebut dapat teratasi, termasuk pada saat telah adanya kesepakatan MRA.

Tambah Kuota

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengaku memiliki keterkaitan psikologis tersendiri dengan Indonesia. Satu dekade silam, pria yang masuk dalam World's 12th Most Powerful Person versi Majalah Forbes itu pernah berkunjung ke Indonesia. Menurut dia, Indonesia telah begitu berkemajuan dalam 10 tahun terakhir sejak terakhir kali ia melihat.

Ia sendiri melihat Indonesia sebagai mitra yang sangat penting di mana China memiliki kepentingan menjadikan Indonesia sebagai basis pangan masyarakat mereka. Maka wajar jika kemudian Li membuka peluang impor produk pertanian, khususnya buah tropis dari Indonesia. Terlebih lantaran banyak produk pertanian asal Indonesia yang tidak ada di Negeri Tirai Bambu. Li sendiri menyadari negaranya adalah importir kelapa sawit terbesar bagi Indonesia.

Namun demikian, Li membuka pintu tambahan kuota ekspor sawit atas permintaan Jakarta demi mempertimbangkan kesejahteraan petani sawit di Indonesia. Maka peluang besar itulah yang kemudian digenjot Indonesia di sela pamor buruk kerja sama dengan China menjelang tahun politik di Indonesia.

Pro dan kontra barangkali memang tak bisa dihindarkan, namun peluang besar menjadi mitra dagang China adalah kesempatan untuk menurunkan defisit APBN agar semakin sehat untuk satu arti kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tag: China (Tiongkok)

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Reuters/Jason Lee

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6423.780 10.420 625
2 Agriculture 1585.056 4.391 21
3 Mining 1869.559 5.276 47
4 Basic Industry and Chemicals 893.324 6.713 71
5 Miscellanous Industry 1416.122 3.773 46
6 Consumer Goods 2620.437 -2.533 51
7 Cons., Property & Real Estate 471.732 -7.343 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1142.331 -2.336 71
9 Finance 1224.233 5.952 91
10 Trade & Service 792.311 2.820 153
No Code Prev Close Change %
1 PSDN 200 270 70 35.00
2 HOME 108 145 37 34.26
3 AGRS 374 466 92 24.60
4 SQMI 246 306 60 24.39
5 CANI 210 254 44 20.95
6 ASBI 252 300 48 19.05
7 PADI 780 920 140 17.95
8 TIRT 66 75 9 13.64
9 TNCA 183 206 23 12.57
10 CNTX 478 535 57 11.92
No Code Prev Close Change %
1 ABDA 4,480 3,360 -1,120 -25.00
2 NOBU 1,000 840 -160 -16.00
3 INCF 350 296 -54 -15.43
4 TIRA 312 270 -42 -13.46
5 BGTG 110 97 -13 -11.82
6 GLOB 545 482 -63 -11.56
7 VICO 119 107 -12 -10.08
8 SAFE 208 190 -18 -8.65
9 NIPS 398 364 -34 -8.54
10 APEX 1,295 1,190 -105 -8.11
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 348 342 -6 -1.72
2 VICO 119 107 -12 -10.08
3 INDY 1,935 2,090 155 8.01
4 UNTR 26,050 26,850 800 3.07
5 KPAS 224 210 -14 -6.25
6 ERAA 2,450 2,310 -140 -5.71
7 BBRI 3,780 3,810 30 0.79
8 ADRO 1,460 1,460 0 0.00
9 TLKM 3,990 3,990 0 0.00
10 BUMI 159 164 5 3.14