Portal Berita Ekonomi Senin, 25 Juni 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 06:28 WIB. GE - GE Power Indonesia membidik proyek pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan.
  • 06:14 WIB. PUPR - Kemenpupera mengirim sejumlah alat berat dan peralatan untuk membantu korban banjir bandang di Banyuwangi.
  • 06:10 WIB. IHSG - Indosurya Bersinar Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak di kisaran 5.779-5.998 pada perdagangan hari ini.
  • 21:07 WIB. Piala Dunia - Pelatih Swedia geram dengan selebrasi kemenangan Jerman.
  • 21:06 WIB. Piala Dunia - Argentina terpuruk, Maradona bela Lionel Messi dan salahkan federasi bola Argentina.
  • 21:05 WIB. Piala Dunia - Bicara kasar ke rekan satu tim, Neymar dikritik.
  • 21:03 WIB. Makedonia - Ribuan rakyat Makedonia protes perubahan nama negara.
  • 21:01 WIB. Migran - AS berupaya kembalikan 2.053 anak imigran kepada keluarganya.
  • 21:00 WIB. Piala Dunia - VAR jadi penyebab banyaknya penalti di Piala Dunia 2018.
  • 20:59 WIB. Piala Dunia - 11 warga Meksiko ditembak mati saat menonton Piala Dunia.
  • 20:57 WIB. Turki - Menteri Kehakiman Turki: Pemungutan suara berlangsung lancar.
  • 20:57 WIB. Afrika - Indonesia incar pasar Afrika Utara.
  • 20:56 WIB. Jurnalis - Lebih dari 600 jurnalis internasional liput Pemilu di Turki.
  • 20:01 WIB. Askrindo - Askrindo siap jamin pembiayaan kredit tiga perusahaan fintech.
  • 20:00 WIB. BRI - BRI sebut relaksasi LTV baik untuk debitur rumah pertama.

Daya Saing Indonesia Turun Peringkat

Foto Berita Daya Saing Indonesia Turun Peringkat
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Laporan IMD World Competitiveness Yearbook 2018 menunjukkan Indonesia berada di peringkat 43. Dari 63 negara dari berbagai kawasan di dunia yang dikumpulkan IMD World Competitiveness, peringkat Indonesia mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat 42. Namun, jika dilihat dari kawasan Asia Pasifik, peringkat Indonesia mengalami kenaikan dari 12 menjadi 11. 

Peringkat daya saing yang diukur dengan empat faktor: kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis dan infrastruktur, Indonesia mengalami peningkatan peringkat yang signifikan pada kinerja ekonomi dari 33 menjadi 27. Namun, penurunan terjadi pada efisiensi pemerintah dari 30 menjadi 36, efisiensi bisnis dari 30 menjadi 35. Sementara infrastruktur bertahan di peringkat bawah, 59. 

Lebih jauh jika dilihat dari subfaktor masing-masing faktor, kinerja ekonomi terjadi peningkatan pada ekonomi domestik dari 13 menjadi 10, perdagangan internasional dari 56 menjadi 51, investasi luar negeri dari 50 menjadi 43, penurunan pada kesempatan kerja dari 13 menjadi 19, dan harga dari 34 menjadi 37. Untuk subfaktor pada efisiensi pemerintah, mengalami penurunan pada keuangan publik dari 22 menjadi 29, kerangka institusional dari 40 menjadi 44, legislasi bisnis dari 53 menjadi 54, kerangka sosial dari 48 menjadi 50, dan peningkatan terjadi pada kebijakan perpajakan dari 6 menjadi 5. 

Untuk subfaktor efisiensi bisnis, terjadi peningkatan peringkat pada produktivitas dan efisiensi dari 53 menjadi 50 sementara lainnya mengalami penurunan pada ketenagakerjaan dari 4 menjadi 5, keuangan dari 38 menjadi 44, praktik manajemen dari 29 menjadi 32, serta attitutes dan values dari 24 menjadi 28. Kemudian, untuk subfaktor infrastruktur terjadi penurunan pada infrastruktur dasar dari 45 menjadi 47, kesehatan lingkungan dari 58 menjadi 60, peningkatan peringkat terjadi pada scientific dari 52 menjadi 49, dan pendidikan dari 61 menjadi 57. 

Managing Director Lembaga Management FEB UI (sebagai partner IMD), Toto Pranoto, mengatakan, banyaknya peringkat yang turun dibanding peringkat yang naik membuat peringkat secara global mengalami penurunan dari 42 menjadi 43. Namun, secara keseluruhan keseluruhan faktor tersebut dilihat dari indikator daya tarik utama, sebetulnya mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan.

Beberapa yang mendorong daya saing tersebut antara lain dinamika ekonomi 78,2%, biaya daya saing 62,1%, dan sikap keterbukaan 43,7%. Sementara beberapa yang masih lemah antara lain, kekuatan riset dan pengembangan yang hanya 9,2%, efektivitas kepastian hukum 11,5%, dan level pendidikan tinggi yang hanya 14,9%. 

Akibatnya, tingkat daya saing Indonesia digeser oleh negara-negara yang mengalami perkembangan lebih baik, seperti Slovania dari 43 menjadi 37 dan Italia dari 44 menjadi 42. Peningkatan daya saing Indonesia di kawasan Asia Pasifik sendiri lebih dipicu oleh penurunan peringkat Filipina dari 41 merosot menjadi 50. 

"Secara esensial, posisi Indonesia dari posisi 42 ke 43 sebetulnya secara umum hasil studi ini Indonesia tidak terlalu bergerak secara signifikan, relatif sebetulnya stagnan saja," ujar Toto Pranoto.

Kalau kita lihat, pemerintah Indonesia saat ini sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Namun melihat hasil survei tersebut, ternyata tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Infrastruktur yang dibangun pemerintah saat ini lebih ke infrastruktur dasar, seperti jalan dan jembatan. Sementara infrastruktur itu sangat luas, seperti pada subfaktor yang juga menjadi penilaian yakni infrastruktur teknologi, scientific, kesehatan dan lingkungan, serta pendidikan. 

Survei indikator penilaian riset tersebut dilakukan melalui dua metode hard dan soft data. Secara hard data, meskipun pemerintah sedang melakukan upaya yang besar-besaran, tapi hasilnya belum keluar. Sementara survei soft data yang dilakukan pada Februari-Maret tahun ini, dengan bertanya kepada para eksekutif sebagai responden, masih belum melihat dampak dari infrastruktur yang dibangun. 

"Kita bisa menduga beberapa infrastruktur baru akan selesai, mungkin sebagian baru akan dinikmati pada libur Lebaran maupun menjelang Asian Games nanti," ujar Willem.

Tag: Ekonomi Indonesia, Infrastruktur

Penulis: Agus Aryanto

Editor: Fauziah Nurul Hidayah

Foto: Agus Aryanto

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,696.31 3,659.41
British Pound GBP 1.00 19,128.17 18,933.64
China Yuan CNY 1.00 2,184.84 2,163.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,863.00 13,725.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,792.35 10,678.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,768.01 1,750.35
Dolar Singapura SGD 1.00 10,519.01 10,406.40
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,058.42 16,887.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,539.19 3,501.28
Yen Jepang JPY 100.00 12,991.28 12,855.94

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5821.812 -0.521 587
2 Agriculture 1482.909 -8.990 19
3 Mining 1961.047 9.274 44
4 Basic Industry and Chemicals 792.719 -10.247 70
5 Miscellanous Industry 1192.511 -9.581 45
6 Consumer Goods 2334.240 -6.620 45
7 Cons., Property & Real Estate 448.980 -1.710 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1024.955 -10.483 65
9 Finance 1028.501 16.045 93
10 Trade & Service 878.674 -10.182 141
No Code Prev Close Change %
1 JKSW 89 120 31 34.83
2 SWAT 424 530 106 25.00
3 KPAL 326 406 80 24.54
4 BTON 254 316 62 24.41
5 SONA 2,710 3,290 580 21.40
6 CSIS 1,150 1,390 240 20.87
7 DSSA 21,000 25,200 4,200 20.00
8 PTIS 316 376 60 18.99
9 CITA 1,150 1,350 200 17.39
10 TGRA 426 498 72 16.90
No Code Prev Close Change %
1 SDMU 167 116 -51 -30.54
2 BBRM 63 52 -11 -17.46
3 MFMI 775 640 -135 -17.42
4 DNAR 310 260 -50 -16.13
5 KPIG 1,405 1,200 -205 -14.59
6 JKON 540 472 -68 -12.59
7 LEAD 107 94 -13 -12.15
8 CMPP 338 300 -38 -11.24
9 NELY 132 118 -14 -10.61
10 GLOB 278 250 -28 -10.07
No Code Prev Close Change %
1 SWAT 424 530 106 25.00
2 ERAA 2,660 2,980 320 12.03
3 BBRI 2,910 2,980 70 2.41
4 KREN 760 750 -10 -1.32
5 BMTR 570 540 -30 -5.26
6 INKP 20,025 19,250 -775 -3.87
7 BBCA 21,150 21,925 775 3.66
8 ADRO 2,010 1,930 -80 -3.98
9 BBTN 2,800 2,690 -110 -3.93
10 TLKM 3,610 3,580 -30 -0.83