Portal Berita Ekonomi Selasa, 23 Oktober 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:19 WIB. PTBA - PTBA memproyeksikan, proyek gasifikasi batubara di Tanjung Enim akan masuk tahap konstruksi pada tahun ini.
  • 09:18 WIB. PLN - Dengan berhasil memperluas basis investor ke Eropa, PLN juga bisa menarik dana dari variasi tenor obligasi. 
  • 09:17 WIB. PLN - PLN mengklaim cukup sukses menggaet dana di tengah pasar fluktuatif dan isu perang dagang.
  • 09:16 WIB. PLN - PLN menerbitkan global bond dalam dua mata uang, yaitu US$1 miliar dan €500 juta. 
  • 07:12 WIB. Mandiri - Mandiri memantau permohonan PKPU yang diajukan kepada PT Tirta Amarta Bottling Company.
  • 06:10 WIB. Pertamina - Kualitas kredit Pertamina bisa mendukung belanja modal yang lebih tinggi.
  • 06:09 WIB. BNI - Sampai kuartal III-2018 BNI berhasil mencatat realisasi pertumbuhan kredit sebesar 15,6% secara yoy.
  • 06:07 WIB. Len - Len Industri telah membangun 383 unit perangkat BTS tenaga surya melalui anak perusahaannya, Sei.
  • 06:05 WIB. Len - Len Industri raih penghargaan Solar Power Portal Award 2018.

[Seri BEI] Sepak Terjang Sang Petahana, Tito Sulistio

Foto Berita [Seri BEI] Sepak Terjang Sang Petahana, Tito Sulistio
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Masa jabatan para direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan berakhir pada bulan Juni 2018. Rencananya, pada 25 Juni 2018, pengangkatan direksi BEI akan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Baru-baru ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan empat paket calon direksi BEI untuk periode 2018-2021. Petahana Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio, menjadi salah satu nama yang maju.

Nah, untuk mengetahui sepak terjang Tito, yuk, simak ulasan berikut.

Perjalanan Karier Tito Sulistio

Lelaki kelahiran Bogor, 5 Juli 1955  ini berhasil merampungkan studi doktoralnya di UPH dengan disertasinya yang berjudul "Privatisasi Kerakyatan". Uniknya, Tito diwisuda pada Sabtu (13/6/2015), selang beberapa jam setelah pengumuman OJK bahwa dirinya didaulat sebagai Dirut BEI menggantikan Ito Warsito. Sebelumnya, Tito menempuh studi sarjana di Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia pada 1982. Sementara itu, gelar master diperolehnya dari Institute d'Enseignment Superieur Lucier Cooremans, Brusells, Belgium, pada 1986.

Sederet pengalaman di otoritas pasar modal, asosiasi, maupun emiten mewarnai perjalanan karier lelaki penyuka motor antik ini. Setelah lulus sarjana, Tito bekerja sebagai Koordinator Marketing di PT 3M (Minnesota, Mining and Manufacturing) Indonesia.

Setelah setahun, Tito memutuskan hijrah ke industri barang-barang konsumsi dengan menjadi Senior Brand Manager Food & Drinks PT Unilever Indonesia Tbk. Di emiten berkode saham UNVR itu, Tito bekerja selama 6 tahun, yakni pada 1983-1989.

Pada akhir era 80-an, Tito putar haluan dan berlabuh di Penta Group (Pentasena Arthasentosa, Warta Arta, Money Broker). Di Penta Group, Tito diaulat sebagai CEO. Setahun menjabat sebagai bos Penta Group, karier Tito kian gemilang.

Sembari menjabat sebagai CEO Penta Group pada periode 1989-1994, Tito menjadi pengajar di Institute Management Finance and Accountancy pada 1990-1991. Tidak hanya itu, dia juga duduk sebagai anggota Preparatory Committee of MoF (Forming the Jakarta Stock Exchange) pada 1990-1991 sekaligus anggota Asia Pacific Capital Market Study, conducted by Arthur Anderson International.

Tito mulai memasuki dunia pasar modal pada 1992 dengan menjabat sebagai komsisaris di PT Bursa Efek Jakarta hingga 1994. Di saat bersamaan, dia menduduki kursi ketua Jakarta Broker Club, Wakil Ketua Asosiasi Penjamin Emisi Indonesia (KPEI), Komisaris PT Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI), sekaligus komisaris PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Tito juga menjabat sebagai komisaris Bursa Paralel Indonesia (BPI) pada 1993-1994.

Periode berikutnya, dia didapuk sebagai direktur utama BPI. Lepas dari semua jabatan itu, pada 1995-1998 dia menjabat sebagai direktur utama Bursa Efek Surabaya. Ketika tengah menjabat di BES, Tito juga menjadi Direktur Keuangan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk tepatnya pada 1995-1999. Pada periode yang sama, dia bergabung ke dalam perusahaan milik keluarga Cendana, Siti Hardianti Rukmana, PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia sebagai managing director.

Tepat pada era milenium, Tito mendirikan perusahaan media cetak PT Media Investor On Line, dan menjadi direktur utama. Setelah bertahan selama 2000-2003 di Media Investor, Tito bergabung dengan group konglomerasi milik Hary Tanoesoedibjo dengan menjabat sebagai CEO PT Media Nusantara Citra Networks pada 2004-2007. Lengser sebagai CEO, Tito menjabat sebagai komisaris PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) pada 2007-2009.

Sebelum mencalonkan sebagai Dirut BEI pada periode 2015-2018 lalu, Tito menduduki kursi jabatan di lima perusahaan berbeda, di antaranya, Komisaris PT Mitra International Resources Tbk, Wakil Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP). Tito juga menjabat sebagai Komisaris BUMD Jawa Barat PT Jasa Sarana, Dirut PT Gerai Motor Terpadu-Triumph Motorcycles Exclusive Official Dealer Jakarta, dan Dirut Magenta Kapital Indonesia.

BEI di Bawah Nakhoda Tito

Melihat deretan panjang pengalaman karier Tito, tak heran jika BEI mendulang prestasi selama dinakhodai olehnya. Sepanjang 2017, pasar modal mencatatkan prestasi gemilang. Pada penutupan perdagangan akhir tahun 2017, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa dengan naik 41,61 poin atau 0,66% ke 6.355,65. 

Pada tahun itu, frekuensi perdagangan di pasar modal juga naik 20% sehingga menjadikan pasar modal Indonesia lebih likuid dari bursa lainnya di ASEAN. Sementara 37 perusahaan yang tercatat di pasar modal sepanjang tahun 2017 rata-rata oversubsribe 2.2 kali.

Berdasarkan survei AC Nielsen, literasi pasar modal meningkat dari 4,3% di 2016,menjadi 15% di 2017. Peningkatan ini salah satunya dihasilkan dari Kampanye Yuk Nabung Saham yang terus digalakkan oleh BEI sejak tahun 2015.

Selama dua tahun kepemimpinan Tito Sulistio, Bursa Efek Indonesia mencetak rekor  nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp6.295.463 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rekor tertinggi di 5.757,43. Jumlah investor juga naik 44% dalam 2 tahun terakhir.

Di samping memberikan keuntungan bagi investor domestik, pasar modal juga memberikan keuntungan bagi investor asing. Tercatat, investasi asing di tahun 2016 sebesar Rp1.691 triliun naik menjadi Rp1.958 triliun di 2017.

Aktivitas perdagangan di BEI juga mengalami peningkatan yang tercermin dari kenaikan rekuensi perdagangan yang tumbuh hampir 20% dan menjadikan likuiditas perdagangan saham BEI lebih likuid di antara bursa-bursa lainnya di kawasan regional Asia. 

Pada saat yang sama, jumlah dana yang berhasil dihimpun juga mencapai nilai tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai lebih dari Rp802 triliun, yang berasal dari IPO, penerbitan penambahan saham baru (rights issue), konversi waran, sekuritisasi aset dan penerbitan obligasi pemerintah, BUMN maupun swasta.

Penghargaan yang Diraih BEI dan Tito

Pada tahun 2017 pula, BEI meraih penghargaan Best Companies To Work in Asia 2017 dari HR Asia. Penghargaan Best Companies To Work in Asia 2017 dari HR Asia didasarkan pada hasil survei terhadap karyawan mengenai perusahaan dan tingkat kepuasaan kerja di masing-masing perusahaan.

Penghargaan tersebut diberikan lantaran BEI berhasil memperbaiki posisinya sebagai perusahaan yang layak dijadikan tempat bekerja, dari posisi 21 menjadi urutan ke-12 dari beberapa perusahaan di Asia.

Sebelumnya, Bursa Efek juga mencatat beberapa penghargaan, yakni sistem manajemen keamanan informasi ISO 27001:2013 sejak 2015. Bursa Efek Indonesia juga diganjar penghargaan The Best Supporting Institution of The Year 2016 oleh Global Islamic Finance Award.

Pada Februari 2018, petahana Dirut BEI ini terpilih sebagai penerima anugerah apresiasi karya alumni UI di bidang pasar modal. Penghargaan tersebut diberikan untuk Tito karena Iluni UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) menilai Tito berhasil membawa BEI mencapai indeks tertinggi sepanjang sejarah selama masa kepemimpinannya.

Program Kerja yang Diusung Tito

Sejak OJK melakukan uji kelayakan atau fit and proper test terhadap empat calon paket direksi Bursa Efek Indonesia periode 2018—2021, empat paket calon sudah memaparkan program kerja yang akan dilakukan bila terpilih menjadi petinggi di lembaga itu.

Meski demikian, Tito Sulistio masih belum bersedia mengungkapkan program baru yang akan dihadirkan di pasar modal. Sebagai Dirut BEI dalam 3 tahun terakhir dan berstatus sebagai petahana, dia hanya mengatakan akan meneruskan seluruh program yang saat ini berjalan.

Tag: Tito Sulistio, Bursa Efek Indonesia (BEI)

Penulis/Editor: Ratih Rahayu

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,069.51 4,028.57
British Pound GBP 1.00 19,946.12 19,746.03
China Yuan CNY 1.00 2,205.21 2,183.26
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 15,268.00 15,116.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,849.44 10,739.92
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,947.25 1,927.84
Dolar Singapura SGD 1.00 11,081.43 10,967.13
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,573.47 17,397.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,672.84 3,632.78
Yen Jepang JPY 100.00 13,569.14 13,432.86

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5840.435 3.144 610
2 Agriculture 1570.332 -4.068 20
3 Mining 1918.413 8.447 47
4 Basic Industry and Chemicals 757.577 0.126 70
5 Miscellanous Industry 1252.288 -2.704 45
6 Consumer Goods 2470.043 -1.914 49
7 Cons., Property & Real Estate 411.035 1.920 71
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1064.616 17.661 70
9 Finance 1050.751 -3.316 91
10 Trade & Service 788.480 -4.485 147
No Code Prev Close Change %
1 MINA 472 585 113 23.94
2 MPRO 254 314 60 23.62
3 IBFN 324 400 76 23.46
4 BCAP 135 159 24 17.78
5 DART 250 294 44 17.60
6 UNIC 3,400 3,930 530 15.59
7 SKYB 138 159 21 15.22
8 LPGI 3,550 4,050 500 14.08
9 SHIP 950 1,065 115 12.11
10 MYTX 126 138 12 9.52
No Code Prev Close Change %
1 NICK 159 140 -19 -11.95
2 MAYA 8,150 7,275 -875 -10.74
3 LPPF 5,625 5,025 -600 -10.67
4 PBSA 770 690 -80 -10.39
5 INCF 125 114 -11 -8.80
6 JKON 505 466 -39 -7.72
7 BMAS 368 340 -28 -7.61
8 MMLP 530 490 -40 -7.55
9 INCI 610 565 -45 -7.38
10 VINS 96 89 -7 -7.29
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 344 362 18 5.23
2 LPPF 5,625 5,025 -600 -10.67
3 KPIG 135 138 3 2.22
4 PGAS 2,270 2,340 70 3.08
5 ISAT 2,680 2,840 160 5.97
6 PTBA 4,540 4,610 70 1.54
7 PNLF 286 288 2 0.70
8 FREN 99 105 6 6.06
9 BBCA 23,375 23,150 -225 -0.96
10 WSKT 1,540 1,600 60 3.90