Portal Berita Ekonomi Selasa, 25 September 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 18:27 WIB. Menpora - Liga Indonesia dihentikan selama dua pekan.
  • 18:12 WIB. Nasional - MPR ajak masyarakat rukun hadapi tahun politik.
  • 18:12 WIB. Politik - PPP dan Uni Eropa mendiskusikan stabilitas politik Indonesia.
  • 18:12 WIB. Politik - Fadli Zon terima pengaduan tim GNPF Ulama soal Rizieq.
  • 18:12 WIB. DKI Jakarta - Gubernur Anies Baswedan akhirnya tandatangani APBD P DKI Jakarta 2018.
  • 18:11 WIB. Sepak Bola - Menpora minta liga dihentikan dua pekan.
  • 18:11 WIB. Daerah - Timses Dedi Mulyadi gelar nobar film G-30-S/PKI.
  • 18:10 WIB. Bisnis - Wapres JK serukan kerja sama tanggulangi dampak perang dagang AS-China.
  • 18:10 WIB. Olahraga - Presiden Jokowi minta komitmen bersama agar kasus Haringga tak terulang.
  • 18:10 WIB. Industri - Menperin minta pabrik kabel serat optik tingkatkan TKDN.
  • 18:09 WIB. Daerah - Gubernur Ridwan Kamil tuntut netralitas ASN Jabar.
  • 17:50 WIB. KPU - Masa meneriakkan dua periode dianggap provokatif?
  • 17:48 WIB. Fadli Zon - Apakah pencekalan Habib Rizieq adalah pesanan Indonesia ke pemerintahan Arab Saudi?
  • 17:47 WIB. Fadli Zon - Laporan FPI dan GNPF-U soal pencekalan Habi Rizieq bakal diteruskan ke Menlu, Kapolri, dan Ka-BIN.
  • 17:45 WIB. Fadli Zon - Habib Rizieq dicekal masuk Malaysia.

Insentif Bikin Mobil LCGC Beranak Pinak

Foto Berita Insentif Bikin Mobil LCGC Beranak Pinak
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Meski margin profit bikin mobil LCGC itu tipis bagi produsen otomotif, tetapi insentif berupa pembebasan PPnBM jadi daya tarik tersendiri untuk memproduksinya. Kini, banyak produsen otomotif di luar ATPM yang menjajal bikin mobil dengan komponen lokal, seperti Wintor, SMK, dan Ammdes.

Sejak pemerintah mengenalkan insentif berupa pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) bagi low cost green car (LCGC) pada 2013 lalu, segmen ini terus bergairah. Tengok saja pada tahun 2013 lalu, penjualan wholesale mobil LCGC baru sekitar 51.180 unit atau sekitar 4% dari total penjualan kendaraan roda empat. Namun, berangsur melonjak pada tahun-tahun berikutnya sebesar 172.170 unit (14%) pada 2014, 165.434 unit (16%) pada 2015, 235.171 unit (22,12%) pada 2016, dan 234.554 unit (22,17%) pada 2017. Sejak diluncurkan pada pertengahan 2013 hingga 2017, pertumbuhan penjualan mobil murah ini rata-rata 66% per tahun.

Tidak hanya laku di pasar domestik, mobil LCGC produksi Indonesia juga diekspor ke beberapa negara, salah satunya Filipina. Dari sekitar 250 ribu unit mobil yang diekspor, pangsa LCGC baru sekitar 16%, masih di bawah target sebesar 30%. Seiring dengan produk yang makin kompetitif dan tercapainya skala ekonomi, industri komponen LCGC pun berkembang. Saat ini, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) LCGC melampaui 90%, di atas target pemerintah sebesar 84%. Program LCGC telah menarik investasi komponen lebih dari US$3,5 miliar dari 100-an perusahaan serta melibatkan lebih dari 80 ribu tenaga kerja.

Meski kerap diinterpretasikan sebagai mobil murah, namun bukan berarti produknya asal-asalan dan murahan. Mengacu pada Peraturan Menteri Perindustrian No. 33/M-IND/ PER/7/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau, setidaknya ada 4 hal yang harus dipenuhi agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang ingin memperoleh fasilitas perpajakan atau insentif program LCGC.

Persyaratan itu adalah, pertama, setiap ATPM wajib memberikan hasil uji konsumsi bahan bakar, uji ketentuan teknis, bukti visual penggunaan tambahan merek Indonesia, termasuk model dan logo yang mencerminkan Indonesia. Kedua, setiap perusahaan wajib memberikan data dan bukti realisasi investasi, manufaktur motor penggerak (mesin), transmisi, dan axle, termasuk rencana menggunakan komponen lain dari pasokan lokal. Lalu yang ketiga, pemberian surat pernyataan bermaterai berisi harga jual produk LCGC ke konsumen sesuai ketentuan yang berlaku. Keempat, seluruh ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan sebelumnya wajib lolos verifikasi oleh lembaga surveyor independen.

Adapun konsumsi bahan bakar LCGC ditentukan minimal 20 km/ liter untuk motor bakar cetus api kapasitas isi silinder 980-1200 cc, dan 1500 cc untuk diesel. Jenis BBM harus memenuhi spesifikasi minimal research octane number (RON) 92 untuk motor bakar cetus api dan cetane number (CN) 51 untuk diesel. Ketentuan teknis lainnya berupa radius putar (turning radius) sebesar 4,6 meter dan jarak terendah dari permukaan tanah (ground clearance) serta besaran harga jual mobil LCGC paling tinggi Rp95 juta. Biasanya, semakin kecil mobil berarti radius putarnya semakin kecil juga. 

Program LCGC sejatinya memang ditujukan untuk mengembangkan kemandirian industri otomotif nasional. Utamanya, industri komponen kendaraan bermotor roda empat agar mampu menciptakan motor penggerak, transmisi, dan axle yang berdaya saing. Bisa dilihat, kehadiran mobil LCGC diterima di pasar. Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), segmen ini tengah menjadi segmen terbesar kedua setelah segmen low multi purpose vehicle (LMPV). 

Selain untuk membangun kemandirian lokal, ada beberapa hal yang melatari kehadiran LCGC. Mulai dari peningkatan pasar, proteksi pasar domestik dari gempuran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) lewat kemandirian lokal tadi, hingga menyediakan kebutuhan kendaraan dengan harga terjangkau kepada masyarakat. Di waktu itu, daya beli mobil masyarakat banyak di kisaran Rp100 juta.

Ammdes Siap Mengaspal Tidak Hanya di Pedesaan

“Kapan ini diluncurkan? Segera produksi. Apa yang bisa pemerintah bantu?" Penggalan ucapan Presiden Joko Widodo saat berada di balik kemudi Ammdes tersebut mengisyaratkan keinginan yang besar terhadap kemandirian industri otomotif Indonesia.

Ammdes, alat mekanisme multiguna pedesaan digadang-gadang menjadi mobil pertama yang diproduksi hampir seluruhnya secara lokal baik dari sisi mesin, komponen, maupun desain. Dikatakan, kandungan lokalnya sekitar 68%, berkat kerja sama dengan 70 vendor industri kecil dan menengah (IKM) penyuplai komponen binaan Astra dan PIKKO.

Mobil yang memiliki kubikasi mesin 550 cc dan menghasilkan tenaga 14 daya kuda serta kecepatan maksimum 40—50 km/jam ini dikembangkan untuk beragam fungsi, mulai dari mobil bak dan dump truck ringan yang dilengkapi penggerak hidrolik, mobil penumpang biasa, kendaraan flat deck alias bak rata, mobil pick up, hingga kendaraan yang bisa diintegrasikan dengan alat pertanian seperti penggiling padi. Rencananya akan diluncurkan pada Agustus mendatang dengan harga di kisaran Rp60 jutaan saja.

Menurut Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Harjanto, nantinya produk multiguna ini akan menggunakan SNI, STNK, dan terdaftar resmi sebagai kendaraan yang dapat digunakan sehari-hari. Ammdes juga akan dilengkapi dengan kelengkapan seperti spion, lampu sein, dan stop lamp sehingga laik digunakan di jalan raya. Izinya sedang dimintakan ke Kementerian Perindustrian.

PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia, produsen motor ini rencananya akan membuka pabrik di Klaten dan Cikarang. Demi menjaga keberlanjutannya ke depan, pemerintah pun menyiapkan sejumlah skema insentif. Salah satunya PPnBM 0% sebagaimana yang berlaku di low cost green car (LCGC). Selain itu, diupayakan agar perusahaan yang melakukan rancang bangun dan rekayasa di dalam negeri dapat diberikan tax holiday selama 10 tahun untuk PPh Badan serta Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) rendah untuk seluruh Indonesia.

Lalu, pembebasan bea masuk permesinan pendukung program tersebut sampai dengan pemberian fasilitas investasi. Fasilitas lain, termasuk training inkubator aftersales, desain lini produksi, standardisasi perakitan, purwarupa jig dan fixture hingga Hak Kekayaan Intelektual design engineering. Terkait ketersediaan bahan baku, akan melibatkan perusahaan baja milik negara, yakni Krakatau Steel dan Inalum.

Purwarupa Ammdes yang ditunggangi Presiden Joko Widodo sendiri terwujud atas integrasi seluruh komponen lokal yang ada. Ceritanya, Presiden akhir tahun lalu menargetkan kepada Kementerian Perindustrian agar Ammdes bisa diproduksi dalam waktu 3 bulan. Namun, kementerian menyanggupinya dalam waktu 8 bulan. Segala jurus pun dilakukan. Kementerian mengajak Sukiat, pendiri PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia untuk merakit Ammdes seorang diri. 

Namun karena Sukiat tidak menyanggupi, akhirnya turut digandeng perusahaan-perusahaan swasta lain, seperti Velasto Indonesia (anak usaha PT Astra Otoparts). Namun, mereka tetap tidak menyanggupi. Alhasil, produk Wintor yang ada dikembangkan sedemikian rupa, digunakanlah fasilitas assembling dan komponen yang sudah ada, tetapi didesain ulang termasuk penggunaan suspense yang lebih baik. Lahirlah Ammdes yang bisa disuguhkan ke Presiden dalam waktu 4 bulan sejak perintah itu diterima. Ke depan, Ammdes diharapkan menjadi mobil yang laik guna dengan kemampuan off road-nya dan menjadi cikal bakal BMW-nya Eropa. 

Tag: Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes), PT Kiat Mahesa Wintor

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Ratih Rahayu

Foto: Agus Aryanto

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,990.77 3,951.21
British Pound GBP 1.00 19,615.75 19,420.30
China Yuan CNY 1.00 2,186.88 2,165.25
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,967.00 14,819.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,836.11 10,724.51
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,915.70 1,896.59
Dolar Singapura SGD 1.00 10,956.01 10,843.70
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,565.27 17,385.65
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,623.09 3,582.93
Yen Jepang JPY 100.00 13,260.39 13,128.10

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5874.299 -7.921 602
2 Agriculture 1559.439 -8.071 20
3 Mining 1942.424 18.950 46
4 Basic Industry and Chemicals 799.490 -12.818 71
5 Miscellanous Industry 1231.155 10.426 45
6 Consumer Goods 2453.180 1.457 47
7 Cons., Property & Real Estate 417.837 -2.637 68
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1015.005 3.459 69
9 Finance 1061.250 -2.002 91
10 Trade & Service 817.631 -3.451 145
No Code Prev Close Change %
1 PANI 476 595 119 25.00
2 PKPK 140 175 35 25.00
3 DIGI 825 1,030 205 24.85
4 INAF 4,020 4,970 950 23.63
5 NIKL 2,830 3,480 650 22.97
6 SIMA 119 144 25 21.01
7 SHID 2,800 3,300 500 17.86
8 PNSE 665 770 105 15.79
9 LPLI 151 174 23 15.23
10 JPRS 206 234 28 13.59
No Code Prev Close Change %
1 ABMM 2,100 1,680 -420 -20.00
2 LPIN 1,205 1,015 -190 -15.77
3 ERTX 137 120 -17 -12.41
4 KPAL 496 436 -60 -12.10
5 SONA 5,950 5,500 -450 -7.56
6 VRNA 107 99 -8 -7.48
7 MTDL 775 720 -55 -7.10
8 PTSN 318 296 -22 -6.92
9 LMSH 690 645 -45 -6.52
10 ICON 93 87 -6 -6.45
No Code Prev Close Change %
1 TRAM 210 214 4 1.90
2 BMTR 420 418 -2 -0.48
3 KPIG 690 680 -10 -1.45
4 PKPK 140 175 35 25.00
5 NUSA 182 171 -11 -6.04
6 TKIM 14,000 13,500 -500 -3.57
7 BBRI 3,010 3,030 20 0.66
8 BHIT 90 89 -1 -1.11
9 BCAP 300 296 -4 -1.33
10 MEDC 815 890 75 9.20