Portal Berita Ekonomi Kamis, 13 Desember 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 07:18 WIB. Tri - Tri akui ada kartu perdana aktif dijual ke konsumen.
  • 07:12 WIB. Grab - Grab bakal rambah bisnis travel dan jasa kesehatan.
  • 07:08 WIB. Telkomsel - Telkomsel luncurkan mBanking, integrasikan banyak bank.
  • 07:05 WIB. Apple - Apple hadapi tudingan monopoli di Mesir.
  • 23:15 WIB. Indra Karya - Indra Karya memperkirakan meraih laba sebesar Rp11,2 miliar tahun ini.
  • 23:14 WIB. BNI Syariah - BNI Syariah menyalurkan pembiayaan sindikasi jalan tol sebesar Rp1,4 triliun sepanjang 2018.
  • 23:14 WIB. BUMN - Utang BUMN kini menembus Rp5,271 triliun.
  • 23:09 WIB. WEGE - WEGE targetkan kenaikkan 40% kontrak baru tahun depan.
  • 22:02 WIB. Telkomsel - Telkomsel meluncurkan aplikasi mBanking.
  • 22:02 WIB. WKR - Waskita Realty menganggarkan capex Rp1,03 triliun di tahun depan.
  • 21:50 WIB. Mandiri - Hadapi Nataru 2019, Mandiri siapkan uang tunai Rp13,73 triliun.
  • 21:50 WIB. WIKA - Profil finansial WIKA dianggap masih dapat diimbangi penghasilan arus kas yang lebih baik.

Ruang BI Naikkan Suku Bunga Masih Sangat Besar

Foto Berita Ruang BI Naikkan Suku Bunga Masih Sangat Besar
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang yang sangat besar untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya BI 7-day Reverse Repo Rate kendati BI telah menaikkannya sebanyak 1% menjadi 5,25% dalam dua bulan terakhir.

"Oh, kalau ruang masih sangat besar karena kita biasa di suku bunga yang tinggi. Sekarang itu masih relatif rendah jadi ruangnya masih besar," ujar Direktur BCA, Rudy Susanto, saat acara halal bihalal dengan media di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Meski demikian, lanjut Rudy, Bank Sentral akan sangat terukur dalam menaikkan kembali suku bunga acuan. Menurutnya, BI baru akan menaikkan suku bunga kembali bila ada tekanan/gejolak dari luar negeri lebih kuat dari saat ini.

"Saya rasa BI akan lihat kondisi. Pak Perry (Gubernur BI) selalu bilang akan terukur tergantung kebutuhan, tergantung tekanan dari luar. Jadi, isunya bukan dari dalam karena inflasi kita rendah. Jadi, tekanan dari luar yang paling penting. Kalau tekanan luar berhenti maka enggak perlu. Tapi, kalau tekanan luar sangat kuat, otomatis dia (suku bunga acuan BI) harus naik," jelas Rudy.

Sekadar informasi, sebelumnya BI menyebutkan kondisi likuiditas global mengetat dan ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi dipicu oleh prakiraan kenaikan FFR yang lebih agresif pasca-FOMC Juni 2018 dan volatilitas imbal hasil surat utang AS yang masih tinggi.

Ketidakpastian global yang masih tinggi juga dipengaruhi kebijakan bank sentral Uni Eropa (ECB) yang menurunkan net pembelian aset, kebijakan bank sentral Tiongkok (PBoC) yang menurunkan GWM, harga minyak yang naik, serta ketegangan hubungan dagang AS-China yang kembali meningkat.

Ketidakpastian tersebut pada gilirannya memicu penguatan mata uang dolar secara global dan memicu pembalikan modal dari negara berkembang sehingga memperlemah mata uang banyak negara, termasuk rupiah.

Rudy meyakini, kalaupun nanti BI kembali menaikkan suku bunga acuannya, hal itu tidak akan mengganggu pergerakan perekonomian terlalu jauh meski nantinya bank merespons dengan turut menaikkan suku bunga kreditnya.

"Tapi, itu saya rasa enggak terlalu isu karena yang penting stabil dulu. Daripada nanti misalkan eupiah kita tiba-tiba depresiasi 30%-40%, suku bunga acuan mau enggak mau harus dinaikkan 20%-30%, lebih gawatkan? Jadi, langkah BI sih kalau menurut kita, di pasar pas sekali," pungkasnya.

Tag: Bank Indonesia (BI), Suku Bunga

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Fauziah Nurul Hidayah

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6115.577 38.990 621
2 Agriculture 1505.088 -1.455 20
3 Mining 1755.401 7.640 47
4 Basic Industry and Chemicals 834.495 13.819 71
5 Miscellanous Industry 1393.243 11.184 46
6 Consumer Goods 2499.289 15.900 49
7 Cons., Property & Real Estate 451.558 6.736 73
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1041.077 9.161 71
9 Finance 1164.990 2.978 91
10 Trade & Service 792.381 1.998 153
No Code Prev Close Change %
1 ZONE 298 446 148 49.66
2 SOTS 350 436 86 24.57
3 AKSI 286 344 58 20.28
4 KPAS 600 710 110 18.33
5 ESSA 272 314 42 15.44
6 PNSE 650 750 100 15.38
7 SSTM 450 510 60 13.33
8 TRAM 144 163 19 13.19
9 IBFN 246 278 32 13.01
10 YPAS 570 640 70 12.28
No Code Prev Close Change %
1 SQMI 740 555 -185 -25.00
2 TFCO 780 610 -170 -21.79
3 OCAP 306 244 -62 -20.26
4 PDES 1,700 1,445 -255 -15.00
5 APEX 1,400 1,210 -190 -13.57
6 RIMO 162 142 -20 -12.35
7 RDTX 6,150 5,550 -600 -9.76
8 HDTX 140 127 -13 -9.29
9 YULE 220 200 -20 -9.09
10 MDKI 298 274 -24 -8.05
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 370 372 2 0.54
2 RIMO 162 142 -20 -12.35
3 KPAS 600 710 110 18.33
4 PTBA 4,280 4,310 30 0.70
5 ADRO 1,285 1,255 -30 -2.33
6 TLKM 3,620 3,650 30 0.83
7 TRAM 144 163 19 13.19
8 PTPP 1,900 2,020 120 6.32
9 WSKT 1,795 1,855 60 3.34
10 PGAS 2,060 2,130 70 3.40