Portal Berita Ekonomi Rabu, 21 November 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 19:43 WIB. Bitcoin - Nilai Bitcoin kini setara 4 iPhone XS Max.
  • 19:27 WIB. Xiaomi - Pendapatan Xiaomi tembus Rp106,7 triliun di kuartal III 2018.
  • 19:12 WIB. Huawei - Huawei gandakan jumlah personel di Indonesia.
  • 17:28 WIB. Pala - Petani: Harga pala per kilogramnya masih bertahan di kisaran Rp18 ribu sejak beberapa bulan terakhir, normalnya Rp23 ribu-Rp28 ribu.
  • 17:27 WIB. Pala - Kalangan petani di Kabupaten Aceh Selatan mengeluhkan murahnya harga pala sejak beberapa bulan terakhir.
  • 17:26 WIB. UMK - UMK Jabar 2019 terendah ditempati oleh Kota Banjar sebesar Rp1.688.217,52.
  • 17:26 WIB. UMK - UMK Provinsi Jawa Barat tahun 2019 tertinggi ditempati oleh Kabupaten Karawang yakni sebesar Rp4.234.010,27.
  • 17:25 WIB. Energi - Indonesia-Jerman peringati 25 tahun kerja sama di bidang energi terbarukan melalui Indonesian-German Renewable Energy Day (RE Day) 2018.
  • 17:22 WIB. Hutan - Pemerintah menargetkan penyerahan 3,5 juta hektare hutan sosial pada masyarakat untuk dikelola sebagai sumber ekonomi masyarakat.
  • 17:22 WIB. Sertifikat - Tahun 2019, sertifikat halal produk makanan menjadi mandatori.
  • 17:21 WIB. Ikan - Stok ikan di TPI Kota Pekalongan melimpah mengakibatkan harga ikan turun antara Rp2 ribu/kg hingga Rp5 ribu/kg.
  • 17:19 WIB. PAD - Pemkot Batam menargetkan PAD dari sektor hotel meningkat hingga 97,98 persen pada 2019.
  • 17:17 WIB. Ikan Asin - Ikan sotong juga mengalami kenaikan di Cianjur, dari Rp70 ribu naik menjadi Rp80 ribu per kilogram.
  • 17:17 WIB. Ikan Asin - Harga ikan asin yang mengalami kenaikan di Cianjur seperti ikan peda dari Rp40 ribu naik menjadi Rp60 ribu/kg.
  • 17:15 WIB. Ikan Asin - Harga ikan asin di Cianjur melambung karena minimnya stok.

Tito Sulistio: Kejar Ketertinggalan Kapitalisasi Pasar

Foto Berita Tito Sulistio: Kejar Ketertinggalan Kapitalisasi Pasar
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Industri pasar modal Indonesia berhasil mengakhiri kinerjanya di tahun 2017 lalu dengan cukup membanggakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mengakhiri perdagangan tahun lalu dengan peningkatan mencapai 20% menjadi 6.355,65 dibanding capaian pada akhir tahun 2016 yang masih di kisaran level 5.929,6. 

Dari segi emiten baru, di sepanjang tahun lalu juga tercatat sudah 37 perusahaan yang telah sukses melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Jumlah tersebut melebihi target yang telah ditetapkan 35 perusahaan, sekaligus juga menjadi penambahan emiten terbanyak di kawasan Asia Tenggara.

Di Indonesia sendiri, hasil kinerja tahun ini merupakan rekor jumlah IPO terbanyak dalam dua dekade terakhir. Sebuah pencapaian yang cukup melebihi ekspektasi banyak pihak ketika kondisi pasar modal nasional di tahun 2017 semula lebih cenderung wait and see.

Catatan positif tampak dari semakin banyaknya portofolio alternatif saham di lantai bursa, berbanding lurus dengan terus bertambahnya jumlah investor yang meningkat sekitar 44% dalam dua tahun terakhir menjadi 1,12 juta investor. Peningkatan dari segi kuantitas juga berbarengan dengan sisi kualitasnya. Hasil survei AC Nielsen mencatat adanya peningkatan literasi pasar modal di Indonesia dari semula hanya 4,3% di tahun 2016 menjadi 15% di tahun 2017.

Terus berkembangnya industri pasar modal nasional baik dari supply (saham/emiten yang semakin banyak dan variatif) maupun demand (jumlah investor yang semakin banyak), pada akhirnya berhasil membuat geliat industri ini semakin menarik dan kian diperhitungkan di level regional bahkan global.

Dari segi nilai investasi di sepanjang tahun, investor domestik tercatat telah menempatkan dananya hingga Rp340 triliun di industri pasar modal Indonesia. Sementara, nilai investasi investor asing mencapai Rp1.958 triliun yang diakumulasi usai mereka melepas portofolionya sebesar Rp40 triliun, atau setara dengan 13% dari total keuntungan (gain) yang mereka raup dari pasar modal nasional. Dibanding nilai investasi di sepanjang tahun 2016 lalu yang sebesar Rp1.691 triliun, jelas capaian tahun ini cukup menjadi bukti bahwa Indonesia sejauh ini masih sangat eksis sebagai salah satu negara tujuan investasi.

Dengan beragam catatan positif yang telah dicapai tadi, sebagian pihak pun mulai bertanya akan ke mana lagi arah pengembangan industri pasar modal domestik dibawa? Apalagi yang masih perlu dilakukan dan dikejar, jika capaian kinerja hingga saat ini sudah demikian positif? Jawabannya: sangat banyak. Masih sangat banyak yang harus dikerjakan untuk pengembangan industri ini ke depan.

Di dunia investasi global dikenal istilah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menggambarkan jumlah dana investasi yang ada di seluruh dunia. Posisi saat ini, dana internasional yang tercatat dalam MSCI sebesar US$12,7 triliun. Sebesar 25% dari dana MSCI itu sekarang dimiliki oleh China. Indonesia tercatat memiliki porsi sebesar 2,2% dari total dana tersebut. Dalam hal ini, jika pun Indonesia terus tumbuh, tetapi dengan tingkat pertumbuhan di bawah negara-negara lain, tentu secara perlahan porsi Indonesia tadi akan tergerus.

Oleh karena itu, tantangan nyata dari industri pasar modal nasional adalah tuntutan untuk terus memperbesar pasar nasional dengan mendongkrak nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) yang ada. Faktanya, meski terus meningkat signifikan, nilai kapitalisasi pasar Indonesia bila dibandingkan dengan produk domestik bruto atau gross domestic product (GDP) masih teramat kecil. 

Pada posisi akhir tahun 2017 lalu, nilai kapitalisasi pasar Indonesia tercatat sebesar Rp6.952 triliun atau sekitar US$502 miliar. Bandingkan dengan posisi GDP pada saat yang sama sebesar US$1.011 miliar, persentasenya masih di kisaran 50%. Porsi ini masih sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara lain, misalnya Thailand yang telah mencapai 100% terhadap GDP atau Malaysia yang sudah 150% terhadap GDP. Singapura, jangan ditanya lagi, posisi kapitalisasi pasarnya telah mencapai 290% terhadap GDP.

Dengan kondisi persaingan seperti itu, seluruh stakeholder di pasar modal domestik punya target bersama untuk mendorong kapitalisasi pasar ini, minimal mencapai Rp10.000 triliun pada tahun 2020 mendatang. Apakah target ini berlebihan? Tentu saja tidak. Pasalnya, jika pun target mampu dicapai, goals ini juga belum akan membawa Indonesia menjadi number one in the world. Capaian ini baru akan membawa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan selama ini.

Nantinya, dengan kapitalisasi pasar di level Rp10.000 triliun, persentase terhadap GDP diperkirakan bakal baru berada di kisaran 65%. Apabila melihat hasil yang telah dicapai oleh negara-negara lain, jelas hasil ini masih jauh di bawah. Namun, bagaimana pun juga target ini harus kita wujudkan agar industri pasar modal Indonesia tidak semakin tertinggal. Adapun melihat tren pertumbuhan industri yang telah terbentuk saat ini, cukup optimis bahwa target kapitalisasi pasar Rp10.000 triliun di tahun 2020 realistis untuk diwujudkan. We are on the right track now. 

Tren growth untuk kapitalisasi pasar sejauh ini berada di kisaran 17—20%. Di tahun 2015 ke 2016 lalu, kapitalisasi pasar nasional tumbuh 15%. Sementara, dari 2016 ke 2017 mencapai lebih dari 19,9%. Berdasarkan hitung-hitungan itu, hanya dibutuhkan dua kali growth, dua kali lipat dari GDP yang berada di kisaran 11%. Target itu pun bakal tercapai. 

Hal ini belum pula memperhitungkan penambahan emiten dan juga saham baru yang terjadi dalam dua tahun ke depan. Anggap saja itu bonus karena kontribusinya hanya di kisaran 3—4% terhadap total kapitalisasi pasar. Belum lagi upaya mengajak perusahaan-perusahaan besar di Indonesia untuk ikut melepas sebagian sahamnya di lantai bursa. 

Oleh karena itu, masa depan industri pasar modal Indonesia ke depan sangat cerah. Tinggal bagaimana kita semua menjaga optimisme ini agar tetap kuat dan tidak diganggu dengan pandangan-pandangan pesimistis. Pasalnya, secara kemampuan, historis, dan fundamental, perekonomian Indonesia sangatlah kuat. 

 

Tag: Tito Sulistio

Penulis: Arif Hatta

Editor: Ratih Rahayu

Foto: Agus Aryanto

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5948.052 -57.245 616
2 Agriculture 1420.064 -22.607 20
3 Mining 1752.232 -92.706 47
4 Basic Industry and Chemicals 794.852 4.282 71
5 Miscellanous Industry 1405.848 -7.667 45
6 Consumer Goods 2338.754 0.545 49
7 Cons., Property & Real Estate 427.067 3.402 72
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1070.304 -6.551 71
9 Finance 1128.672 -17.324 91
10 Trade & Service 795.747 -11.763 150
No Code Prev Close Change %
1 HOME 123 166 43 34.96
2 MPRO 860 1,075 215 25.00
3 POLA 284 354 70 24.65
4 MINA 535 665 130 24.30
5 NIPS 350 428 78 22.29
6 AKSI 260 310 50 19.23
7 MPPA 157 184 27 17.20
8 ABMM 1,885 2,190 305 16.18
9 AMAG 272 314 42 15.44
10 GOLD 510 560 50 9.80
No Code Prev Close Change %
1 SOSS 1,950 1,465 -485 -24.87
2 PALM 254 220 -34 -13.39
3 PTIS 380 330 -50 -13.16
4 TRUK 202 176 -26 -12.87
5 ADRO 1,485 1,310 -175 -11.78
6 GLOB 218 194 -24 -11.01
7 GEMA 316 282 -34 -10.76
8 INDY 2,430 2,180 -250 -10.29
9 MAIN 1,300 1,170 -130 -10.00
10 LEAD 66 60 -6 -9.09
No Code Prev Close Change %
1 ADRO 1,485 1,310 -175 -11.78
2 PTBA 4,660 4,350 -310 -6.65
3 PGAS 2,030 1,945 -85 -4.19
4 UNTR 34,400 31,950 -2,450 -7.12
5 BBRI 3,520 3,430 -90 -2.56
6 ERAA 1,980 2,010 30 1.52
7 ITMG 22,025 20,025 -2,000 -9.08
8 TRUK 202 176 -26 -12.87
9 BMRI 7,475 7,275 -200 -2.68
10 TLKM 3,950 3,960 10 0.25