Portal Berita Ekonomi Sabtu, 23 Februari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 23:18 WIB. PEP - Pertamina EP Asset 3 Subang Field lepasliarkan keluarga Owa Jawa.
  • 23:17 WIB. PTPN - Menteri BUMN: PTPN bakal bertransformasi jadi BUMN Agrikultur modern.
  • 23:15 WIB. Pelindo II - Pelindo II mengincar pendapatan Rp13,5 triliun tahun ini.
  • 23:15 WIB. WTR - Wijaya Karya Realty menerbitkan MTN senilai Rp205 miliar.
  • 23:15 WIB. BNI - BNI menargetkan pendapatan non bunga tumbuh dobel digit sepanjang 2019.
  • 23:14 WIB. PGN - PGN berencana untuk bidik pasar luar negeri.
  • 23:14 WIB. PTPN - PTPN IX menjalin kerja sama distribusi pemasaran produk hilir dengan Jeera Foundation.
  • 23:14 WIB. Mandiri - Mandiri sabet gelar best domestic private bank.
  • 20:43 WIB. Pertamina - Pertamina MOR IV memasok kebutuhan BBM dan Pelumas Polda Jateng.
  • 20:42 WIB. Pertamina - Pertamina meresmikan dua titik BBM satu harga di Maluku dan Papua.
  • 20:42 WIB. Perindo - Perindo fokus perkuat ekspor perikanan ke Jepang dan AS.
  • 20:42 WIB. AXA - Axa Mandiri menargetkan premi nasabah prioritas naik 10% tahun ini.
  • 20:41 WIB. PTPN - Berdasarkan perkiraan PTPN, stok GKP pada awal tahun depan hanya 300.000-400.000 ton.
  • 20:41 WIB. PTPN - PTPN Holding akan meminta kuota untuk impor gula mentah pada tahun ini.
  • 20:41 WIB. Energi - Pertamina bersinergi dengan PLN terkait pemanfaatan listrik di lingkungan Pertamina RU II.

Ini Alasan Inalum Beli Participating Interest

Foto Berita Ini Alasan Inalum Beli Participating Interest
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Salah satu hot issue yang menjadi sorotan tajam publik dengan adanya penandatanganan Head of Agreement (HoA) divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia ke PT Inalum (Persero) yakni langkah Inalum membeli participating interest PT Rio Tinto Indonesia di PT FI sebesar 40%.

Langkah Inalum ini sontak memunculkan sorotan publik: kenapa mesti membeli participating interest PT RTI dan bukan saham PT FI? Atau, kenapa mesti repot-repot bikin HoA dengan PT FI? Toh, nanti pada 2022 masa kontrak PT FI berakhir di mana 51% akan menjadi milik Inalum.

Berikut kalkulasi Presiden Direktur Inalum Budi Gunadi Sadikin soal alasan perseroan memilih jalan memborong participating interest PT RTI. Dari hasil perhitungan Inalum, pembelian participating interest PT RTI jauh lebih rasional dan menguntungkan ketimbang membeli saham PT FI. Kesepakatan participating ini dibuat saat PT FI menemukan cadangan besar emas di Grassberg pada tahun 1988. Untuk menggarap cadangan tersebut, PT FI tidak memiliki kekuatan dana yang memadai. Untuk itulah, PT FI membuat kesepakatan participation agreement dengan Rio Tinto Plc pada 1996.

"Freeprot seperti melakukan ijon akan potensi tambang Grassberg ke Rio Tinto," ujar mantan Dirut Bank Mandiri tersebut saat melakukan pertemuan dengan para pemimpin redaksi di Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Dari ijon ini, Rio Tinto berhak mendapatkan 40% atas produksi di atas level (metal strip) di tambang Grassberg sampai tahun 2022. Setelah itu, rentang 2023-2041 Rio Tinto mendapatkan hak dan kewajiban penuh 40% dari produksi dan biaya operasi (tanpa metal strip).

Tindakan ijon Freeport ini disetujui oleh Pemerintah Orde Baru pada 29 April 1996. Kalau dilihat sekilas, kerja sama Freeport-Rio Tinto ini tidak mempengaruhi komposisi saham Freeport, tapi mempengaruhi komposisi kepemilikan perusahaan. Kenapa demikian? Pasalnya, 40% hasil produksi Freeport di Grassberg mesti diserahkan ke Rio Tinto.

Kehadiran participating interest ini sudah barang berimbas terhadap proses divestasi saham PT FI. Komposisi saham (equity interest) PT FI saat ini, Freeport McMoran (FCX) menguasai 90,64% saham dan Inalum sebesar 9,36%. Tapi, kalau dihitung secara economic interest—dengan memasukkan participating interest—PT FI memiliki 54,38%; Inalum 5,62%; dan Rio Tinto 40%.

Contoh perhitungan economic interest, dengan tingkat produksi PT FI sebesar 647 juta pon tembaga per September 2017 maka dari jumlah itu sebesar 54,38% atau 351,83 juta pon menjadi bagian PT FI. Bagian Inalum 5,62% atau 42,83 juta pon dan jatah Rio Tinto 40% atau 258,8 juta pon. Begitu pula kalau Inalum berpikir baru membeli hak 51% saham pada 2021 maka secara equity Inalum menguasai 51% tapi kalau secara economic interest hanya mendapat bagian 31% saja. Sisanya, 29% milik PT FI dan 40% PT RTI (Lihat: Tabel).

Dari kalkulasi inilah, Inalum memutuskan untuk membeli participating interest PT RTI di PT FI yang bisa dikonversi menjadi 45,6% saham dengan nilai US$3,85 miliar. Bandingkan dengan tawaran PT FI melepas 40% saham senilai US$10,7 miliar. Tinggal membutuhkan tambahan 5,38% saham lagi untuk menguasai 51% saham PT FI. Rencananya, tambahan saham bersumber dari kepemilikan PT Indocooper Investama sebesar 5,38% yang saat ini berada di tangan PT FI.

Dari gambaran seperti itu, realisasi tindak lanjut HoA akan diikuti serangkaian sales and purchase agreement (SPA) antara Inalum dengan Rio Tinto Plc untuk jual-beli participating interest. Pembelian ini dilakukan secara tunai.

SPA berikutnya antara Inalum dengan Freeport McMoran (FCX) terkait jual-beli 5,38% saham PT Indocooper Investama. Setelah itu, akan disusul perjanjian Inalum dengan PT FI guna menerbitkan 40% saham baru (right issue) yang akan ditukar dengan 100% kepemilikan saham Inalum di PT RI. Apabila ketiga perjanjian tersebut terwujud, inilah momentum kembalinya kedaulatan Republik Indonesai atas PT FI yang setelah 50 tahun berada di tangan Freeport.

Divestasi 51% saham merupakan butir keempat dari empat kesepakatan yang disepakati antara Pemerintah RI dengan Freeport McMoran (FCX) pada 29 Agustus 2017.

Now (2018)

            



Future (2022)

  Equity Interest Economic Interest Equity Interest Economic Interest
Freeport McMoran 90,64% 54,38% 49% 29%
Inalum 9,36% 5,62% 51% 31%
Rio Tinto 0% 40% 0% 40%

Sumber: Inalum

Tag: PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum)

Penulis: Heriyanto Lingga

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,773.17 3,734.94
British Pound GBP 1.00 18,447.47 18,263.53
China Yuan CNY 1.00 2,107.04 2,086.19
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,149.00 14,009.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,042.96 9,942.19
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,802.90 1,785.04
Dolar Singapura SGD 1.00 10,446.69 10,342.56
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,044.97 15,882.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,467.04 3,430.22
Yen Jepang JPY 100.00 12,776.77 12,646.93

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6501.378 -36.388 628
2 Agriculture 1604.794 -11.878 21
3 Mining 1940.127 4.527 47
4 Basic Industry and Chemicals 888.309 -14.973 71
5 Miscellanous Industry 1338.979 -8.175 46
6 Consumer Goods 2638.097 -16.371 51
7 Cons., Property & Real Estate 455.949 -3.945 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1207.267 -6.802 72
9 Finance 1235.093 -8.628 91
10 Trade & Service 834.167 6.854 155
No Code Prev Close Change %
1 INTD 141 190 49 34.75
2 OCAP 72 97 25 34.72
3 JAYA 432 540 108 25.00
4 INPS 2,400 3,000 600 25.00
5 SIMA 258 322 64 24.81
6 BALI 895 1,115 220 24.58
7 PNSE 675 840 165 24.44
8 CLAY 1,395 1,725 330 23.66
9 SQMI 272 332 60 22.06
10 MFMI 650 790 140 21.54
No Code Prev Close Change %
1 ALDO 1,425 1,095 -330 -23.16
2 TALF 332 260 -72 -21.69
3 IBFN 266 232 -34 -12.78
4 INCI 570 510 -60 -10.53
5 KOIN 302 272 -30 -9.93
6 POLI 1,160 1,055 -105 -9.05
7 PJAA 1,500 1,400 -100 -6.67
8 SMDM 178 168 -10 -5.62
9 SDPC 110 104 -6 -5.45
10 TBIG 4,440 4,200 -240 -5.41
No Code Prev Close Change %
1 UNTR 26,500 27,950 1,450 5.47
2 BMRI 7,325 7,100 -225 -3.07
3 ADRO 1,415 1,410 -5 -0.35
4 PGAS 2,640 2,650 10 0.38
5 BNLI 1,055 1,055 0 0.00
6 JPFA 2,330 2,340 10 0.43
7 INDY 2,180 2,170 -10 -0.46
8 BUMI 163 158 -5 -3.07
9 SQMI 272 332 60 22.06
10 ANTM 1,035 1,055 20 1.93