Portal Berita Ekonomi Jum'at, 22 Maret 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 22:31 WIB. BNI - Penjualan SR-011 di BNI mencapai Rp1,87 triliun.
  • 22:30 WIB. Mandiri - Penjualan SR-011 di Bank Mandiri tembus Rp1,87 triliun.
  • 22:30 WIB. BTN - BTN catat penjualan SR-011 mencapai Rp600 miliar.
  • 22:29 WIB. WEGE - Kuartal I-2019, WIKA Gedung raih kontrak baru sebesar Rp1,5 triliun.
  • 22:28 WIB. WEGE - WIKA Gedung menargetkan pertumbuhan pendapatan 24,6% di tahun ini.
  • 22:28 WIB. WEGE - WIKA Gedung hanya serap 23% anggaran capex tahun lalu.
  • 20:49 WIB. Telkom - Telkom dan Bakamla kerja sama awasi sistem komunikasi kabel laut.
  • 20:49 WIB. Minyak Goreng - Industri Nabati Lestari akan mengekspor 10.500 ton minyak goreng ke Pakistan.
  • 20:49 WIB. Pertamina - Pertamina mulai proses pembangunan proyek pipa gas di Blok Rokan.
  • 20:48 WIB. BNI Syariah - BNI Syariah mengincar potensi bisnis halal healthcare.
  • 20:48 WIB. PTPN - PTPN optimistis dapat memasok kebutuhan CPO dalam negeri.
  • 20:47 WIB. Trans Sumatera - Tol Trans Sumatra masih terhambat penolakan pemilik lahan.
  • 20:47 WIB. WSKT - Waskita menganggarkan capex sebesar Rp26 triliun pada 2019.
  • 20:46 WIB. WSKT - Waskita menyiapkan dana hingga Rp2 triliun untuk melunasi obligasi.

Rupiah Tertekan Dolar AS, Begini Harapan Pelaku Usaha Properti

Rupiah Tertekan Dolar AS, Begini Harapan Pelaku Usaha Properti - Warta Ekonomi
WE Online, Palembang -

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus tertekan, pada penutupan di perdagangan valas, Jumat akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus Rp14.500 per dolar. Hal tersebut mendapat tanggapan dari beberapa pelaku usaha Properti di Sumsel.

Menurut, Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Sumsel, Syamsu Rusman mengakui saat ini daya beli masyakarat mulai turun, harga matrial impor meningkat kecuali lokal.

“Agak memutar otak dengan kondisi nilai rupiah yang tidak menentu, karena harga matrial mulai merangkak naik, seperti keramik, rangka baja, cat dan lainnya,” ungkapnya, Senin (23/7/2018).

Meski demikian, untuk penjualan rumah sederhana (subsidi) masih stagnan daya belinya, hanya saja daya beli rumah komersil mulai menurun.

Sementara dengan suku bunga bank sendiri, ada kenaikan untuk pasar rumah komersil 1%-2% dan untuk rumah bersubsidi tetap Flat 5%.

Tentunya dengan kondisi tersebut, akunya berpengaruh sekali dengan profit. "Artinya margin pendapatan menjadi tergerus,” urainya.

Namun demikian, ujarnya hanya bisa ditutupi dengan bermain silang keuntungan, saat ini kondisi daya beli masyarakat terhadap rumah subsidi masih stabil belum berdampak dengan kondisi nilai tukar rupiah, karena suku bunga bank masih tetap.

“Kebetulan  stok unit yang dibangun dan dipasarkan saat ini sebelum adanya gejolak moneter sehingga belum begitu terasa dampaknya,” urainya lagi.

Dia berharap kondisi ini sifatnya sementara dan pemerintah harus serius untuk mengatasi kondisi rupiah yang tidak stabil ini. "Ya, kami berharap ekonomi akan stabil kembali,” paparnya.

Terpisah, Keshar Dewan Penasehat  Organisasi DPD Pengembang Indonesia (PI) Sumsel sekaligus Direktur Sriwijaya Griya Cemerlang Kesyar Saropi menambahkan, belum stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat mengkhawatirkan.

Apalagi jika tidak diatasi secara serius multiplier effect nya pasti sangat panjang. Terutama di bisnis proferti yang berhubungan dengan harga matrial. "Ujung-ujungnya nanti dengan dengan nilai tukar rupiah yang terasa, yakni dampaknya dengan harga matrial naik, sehingga ujung-ujung harga rumah naik," ungkapnya.   

Dia berharap agar pemerintah segera mengatasi masalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tidak stabil saat ini, meski saat ini untuk rumah komersil harganya belum terasa naik. Namun dikhawatir bisa berdampak sangat besar terhadap dunia proferti ke depanya.

“Pengusaha saat ini jika memiliki dana lebih hanya menyetok matrial karena untuk mengantisipasi kenaikan matrial semakin tinggi, dan lahan bangunan  perumahan lebih kecil, hal itu salah satu strategi agar rumah tetap laku," tukasnya.

Tag: Properti

Penulis: Irwan Wahyudi

Editor: Vicky Fadil

Foto: Antara/Adeng Bustomi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,779.27 3,741.20
British Pound GBP 1.00 18,745.21 18,551.79
China Yuan CNY 1.00 2,120.12 2,098.88
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,173.00 14,031.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,153.54 10,049.00
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,806.03 1,787.91
Dolar Singapura SGD 1.00 10,529.72 10,420.35
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,206.83 16,037.43
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,493.47 3,455.06
Yen Jepang JPY 100.00 12,815.81 12,683.96

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6501.776 19.066 629
2 Agriculture 1481.617 -16.726 21
3 Mining 1884.733 2.495 47
4 Basic Industry and Chemicals 915.611 21.878 71
5 Miscellanous Industry 1284.362 -1.211 46
6 Consumer Goods 2659.055 -8.500 52
7 Cons., Property & Real Estate 466.708 6.035 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1164.975 0.327 72
9 Finance 1250.875 2.809 91
10 Trade & Service 827.602 -0.578 155
No Code Prev Close Change %
1 CAKK 216 270 54 25.00
2 COCO 336 420 84 25.00
3 STAR 88 106 18 20.45
4 GAMA 52 62 10 19.23
5 BACA 266 304 38 14.29
6 INPP 735 840 105 14.29
7 DART 300 336 36 12.00
8 SKBM 412 460 48 11.65
9 VRNA 125 137 12 9.60
10 YULE 183 200 17 9.29
No Code Prev Close Change %
1 ECII 1,100 825 -275 -25.00
2 SIMA 298 224 -74 -24.83
3 PNSE 760 575 -185 -24.34
4 TGKA 3,660 3,010 -650 -17.76
5 GLOB 416 352 -64 -15.38
6 PUDP 424 370 -54 -12.74
7 ITMA 765 700 -65 -8.50
8 MINA 870 800 -70 -8.05
9 BBLD 496 458 -38 -7.66
10 TFCO 680 630 -50 -7.35
No Code Prev Close Change %
1 HOME 100 102 2 2.00
2 NUSA 101 101 0 0.00
3 MNCN 825 795 -30 -3.64
4 PWON 685 705 20 2.92
5 FREN 324 308 -16 -4.94
6 STAR 88 106 18 20.45
7 CTRA 930 975 45 4.84
8 BBTN 2,390 2,520 130 5.44
9 BMRI 7,450 7,500 50 0.67
10 UNTR 27,825 27,800 -25 -0.09