Portal Berita Ekonomi Senin, 01 Juni 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:26 WIB. Bursa - Indeks Straits Times dibuka 1,40% pada level 2.545.
  • 09:25 WIB. Bursa - Indeks Shanghai dibuka positif 1,27% pada level 2.888.
  • 09:25 WIB. Bursa - Indeks Nikkei dibuka positif 1,17% pada level 22.134.
  • 09:24 WIB. Bursa - Indeks KOSPI dibuka menguat 1,34% pada level 2.056.
  • 09:21 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng dibuka menguat 0,05% pada level 24.399.
  • 09:20 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,51% terhadap Poundsterling pada level 1,2406 USD/GBP.
  • 09:19 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,28% terhadap Euro pada level 1,1132 USD/EUR.
  • 09:19 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,31% terhadap Yuan pada level 7,11 CNY/USD.
  • 09:18 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,10% terhadap Yen pada level 107,72 JPY/USD.
  • 09:16 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.737 USD/troy ounce. 
  • 09:16 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 37,61 USD/barel.
  • 09:15 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 35,25 USD/barel.

Roy Sembel: Schrodinger's Cat dan Era Disrupsi

Roy Sembel: Schrodinger's Cat dan Era Disrupsi
WE Online, Jakarta -

Thanos berhasil mengalahkan Avengers dalam film layar lebar sekuel terakhir dari film Avengers: Infinity War. Benarkah demikian? Tamatkah riwayat Avengers? Nanti dulu, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dan kecewa! Saya yakin sutradara dan penulis ceritanya masih punya amunisi menggunakan teori fisika untuk melanjutkan sekuel Avengers berikutnya. Kuncinya adalah menggunakan teori fisika kuantum.

Sebelum era Albert Einstein, teori fisika berbasis Newtonian sudah mapan dan bisa dimengerti banyak orang, khususnya para ilmuwan. Pasalnya, fisika Newtonian menganut keteraturan yang terstruktur dan terukur baik pada level makro maupun level partikel mikro subatomik. Sejak era teori relativitas Einstein dan fisika kuantum, ilmu fisika mengalami disrupsi besar-besaran. Dalam teori era baru fisika tersebut, misalnya, cahaya bisa berbentuk partikel sekaligus berbentuk gelombang. 

Pada level makro, orang masih bisa menggunakan teori fisika Newtonian pada sebagian besar situasi sehari-hari. Kendati begitu, pada level partikel mikro subatomik, dunia berbeda dengan dunia yang makro yang kita amati dan alami sehari-hari. Pada level ini berlaku teori fisika kuantum. Keberadaan suatu partikel tidak pasti lokasinya, melainkan berupa kebolehjadian atau probabilistik.

Selama partikel itu tidak diukur, ia dianggap bisa berada di banyak tempat (fenomena superposition) pada waktu yang bersamaan. Saat diukur, keberadaan partikel di beberapa tempat tersebut kolaps menjadi satu tempat yang diamati oleh pengamat. Penjelasan yang dikemukakan oleh Einstein, Podolsky, dan Rosen (EPR) pada tahun 1935 itu sulit untuk dicerna dan diterima oleh banyak orang. Untuk menjelaskan fenomena dunia kuantum tersebut dalam bahasa sehari-hari, Erwin Schrodinger—seorang fisikawan pemenang Nobel Fisika tahun 1933— secara guyon kreatif menggunakan eksperimen berpikir yang terkenal sebagai Schrodinger’s Cat Paradox atau Kucing Schrodinger.

Misalnya, ada seekor kucing terkurung dalam kamar baja di mana hidup atau matinya kucing itu tergantung pada keadaan suatu atom radioaktif. Jika atom tersebut meluruh (decay), kucing itu mati terpapar radioaktif. Sebaliknya, jika atom itu tidak meluruh, kucing itu hidup. Sesuai teori fisika kuantum, menurut cerita Schrodinger, kucing yang tidak terlihat dari luar karena terkurung di ruang baja tersebut berada dalam keadaan hidup dan mati secara bersamaan. Saat pintu ruang baja dibuka, kedua keadaan itu kolaps menjadi salah satu keadaan (hidup atau mati) yang diamati oleh peneliti. 

Dibawa ke level makro, banyak fisikawan yang percaya bahwa dunia yang sedang kita jalani ini sebenarnya bagian dari superposition dari kumpulan partikel sehingga ada dunia paralel dalam waktu yang bersamaan (multiverse sebagai lawan dari universe). Ini diaplikasikan dalam film Avengers: Infinity War. Dalam dunia paralel, mungkin sekali Thanos kalah dan Avengers menang. Tambahan pula, keberadaan Doctor Strange yang bisa memutar waktu kembali, memungkinkan kejadian diulang dengan kebolehjadian kekalahan Thanos.

Era Disrupsi Ekonomi dan Bisnis 

Tentu bukan maksud dari tulisan di majalah Warta Ekonomi ini untuk secara khusus membahas teori fisika kuantum atau film Avengers. Cerita di atas sekadar analogi pengantar untuk membahas era disrupsi saat ini. Lantas, apa hubungannya dengan era disrupsi ekonomi dan bisnis yang sedang kita alami saat ini?

Analoginya begini, di beberapa industri, contohnya industri transportasi, disrupsi telah kita amati terjadi. Sementara itu, di beberapa industri lain orang masih belum melihat jelas terjadinya disrupsi. Pertanyaannya, apakah disrupsi telah atau belum terjadi?

Menggunakan logika kuantum (meski tidak persis tepat rinciannya karena memang hanya analogi), mungkin saja selama belum teramati, situasi industri tersebut berada dalam dua kondisi yang berbeda dalam waktu bersamaan (telah terjadi disrupsi dan belum terjadi disrupsi). Industri-inudstri tersebut sedang dalam situasi transisi antara ada dan tidak adanya disrupsi. Atau bisa juga terjadi dalam masa transisi, sebagian dari industri tersebut telah mengalami disrupsi secara tidak disadari pelakunya, sementara sebagian lainnya tidak mengalami disrupsi.

Keberadaan dua kondisi yang ada secara bersamaan ini telah diramalkan oleh ekonom Joseph Alois Schumpeter, yang kebetulan berasal dari negara yang sama dengan negara asal Erwin Schrodinger, yaitu Austria. Schumpeter mengungkapkan gagasan creative destruction (CD). Inti dari CD adalah dalam jangka panjang, penyintasan (survival) suatu perusahaan tergantung kesiapannya menghadapi pesaing baru yang bukan dari pesaing yang ada saat ini. Pesaing yang bisa menghancurkan dalam jangka panjang adalah pesaing dari komoditas baru, sumber pasokan baru, teknologi baru, model bisnis baru, dan sebagainya.

Pada masa transisi, terdapat dua industri yang berbeda pada saat yang bersamaan: industri lama dan industri baru. Perusahaan yang tidak menyadari situasi ini akan cenderung musnah dari dunia bisnis. Situasi ini dapat digambarkan dalam bentuk dua kurva S siklus hidup industri yang saling eksis secara bersamaan: kurva S lama yang berada di penghujung akhir hidup dan kurva S baru yang berada di awal hidup. Perusahaan yang tidak sadar keberadaan dua kurva S yang sama saat masa transisi dan terus bergeming beroperasi di kurva S yang lama tinggal tunggu waktu untuk musnah.

Untuk menyintas (survive) dalam menghadapi situasi disrupsi ini, perusahaan perlu siap mentransformasi diri ke kurva S yang baru. Dalam proses transisinya, di dalam perusahaan bisa ada dua kondisi (kurva S lama dan baru) secara bersamaan. Agar bisa berhasil menyintas ke kurva S yang baru, pemimpin perusahaan perlu mentransformasi perusahaan secara terpadu dalam lima pilar (yang istilahnya meminjam atau mirip dengan istilah komputer): brainware, software, hardware, interface (marketware), dan operating system (cultureware), disertai tahapan W.I.S.D.O.M.

Penjelasan tentang konsep tersebut akan dijabarkan dalam artikel berikutnya dalam kolom Fintrans Wisdom ini. Sambil menunggu artikel berikutnya, silakan berlatih berimajinasi (menurut Jack Ma, kemampuan berimajinasi merupakan keunggulan manusia terhadap mesin) tentang kemunculan Schrodinger’s Cat dalam film Avengers atau dalam disrupsi ekonomi bisnis saat ini, meski mungkin dalam bentuk kebolehjadian.

Baca Juga

Tag: Disrupsi Digital

Penulis: Roy Sembel, Profesor di IPMI International Business School

Editor: Ratih Rahayu

Foto: Agus Aryanto

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,942.14 3,901.87
British Pound GBP 1.00 18,246.26 18,063.24
China Yuan CNY 1.00 2,070.20 2,049.34
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,806.67 14,659.34
Dolar Australia AUD 1.00 9,828.67 9,729.40
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,909.87 1,890.84
Dolar Singapura SGD 1.00 10,467.04 10,359.23
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,417.64 16,248.41
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,407.75 3,369.19
Yen Jepang JPY 100.00 13,785.19 13,645.48
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4753.612 37.427 692
2 Agriculture 964.931 -6.866 22
3 Mining 1238.201 -5.085 49
4 Basic Industry and Chemicals 745.733 20.935 78
5 Miscellanous Industry 858.396 28.927 52
6 Consumer Goods 1806.725 -11.041 58
7 Cons., Property & Real Estate 322.957 -4.552 90
8 Infrastruc., Utility & Trans. 864.084 3.083 78
9 Finance 962.515 13.502 93
10 Trade & Service 606.633 2.757 172
No Code Prev Close Change %
1 KRAH 416 510 94 22.60
2 AKSI 96 117 21 21.88
3 WINS 63 73 10 15.87
4 DIVA 815 940 125 15.34
5 IKBI 210 240 30 14.29
6 AHAP 50 57 7 14.00
7 PDES 360 410 50 13.89
8 DMMX 80 91 11 13.75
9 AMAR 175 195 20 11.43
10 DUCK 422 470 48 11.37
No Code Prev Close Change %
1 SINI 860 800 -60 -6.98
2 BRNA 1,075 1,000 -75 -6.98
3 MLPT 575 535 -40 -6.96
4 PTBA 2,090 1,945 -145 -6.94
5 CASS 202 188 -14 -6.93
6 SIPD 1,300 1,210 -90 -6.92
7 TBLA 535 498 -37 -6.92
8 DSSA 20,975 19,525 -1,450 -6.91
9 POLA 58 54 -4 -6.90
10 GGRP 290 270 -20 -6.90
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 2,730 2,950 220 8.06
2 PURA 75 75 0 0.00
3 TLKM 3,130 3,150 20 0.64
4 BBCA 26,475 25,950 -525 -1.98
5 ICBP 8,325 8,150 -175 -2.10
6 BBNI 3,660 3,830 170 4.64
7 BMRI 4,290 4,470 180 4.20
8 ASII 4,540 4,770 230 5.07
9 PWON 376 362 -14 -3.72
10 KLBF 1,355 1,415 60 4.43