Portal Berita Ekonomi Rabu, 20 Februari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 20:32 WIB. Bulog - Bulog berharap pelepasan cadangan beras pemerintah dicarikan saluran baru.
  • 20:31 WIB. AP Kargo - AP Kargo sedang mengalami penurunan volume kargo kelolaan hingga 20% pada Januari 2019.
  • 20:31 WIB. Pelni - Pelni menyediakan layanan Redpack untuk memudahkan penumpang hingga UMKM.
  • 20:31 WIB. BRI -  BRI mengincar dua perusahaan asuransi umum.
  • 20:30 WIB. ANTM - Antam berharap bisa meraih kuota ekspor bijih nikel kadar rendah hingga 5 juta ton per tahun.
  • 20:28 WIB. RAJA - Rukun Raharja memiliki peluang untuk melanjutkan kontrak dengan PLN di 2019.
  • 20:27 WIB. Pindad - Pindad mencapai laba bersih hingga 3 digit sepanjang 2018.
  • 20:27 WIB. Mandiri - Mandiri mampu menjual ST003 sebanyak Rp773 miliar.
  • 20:26 WIB. BTN - BTN meraup Rp80 miliar dari penjualan ST003 dari target Rp75 miliar.
  • 20:19 WIB. BRI - BRI meminta relaksasi aturan BMPK untuk menyalurkan kredit kepada BUMN.
  • 20:02 WIB. BNI - BNI berharap kelonggaran batas maksimum pemberian kredit khusus untuk kredit infrastruktur.
  • 20:01 WIB. Pelindo II - Pelindo II rencanakan lepas saham Pelabuhan Tanjung Priok ke publik lewat IPO.
  • 19:57 WIB. Pelindo II - Pelindo II catat laba bersih Rp 2,43 triliun pada 2018.
  • 19:55 WIB. Pelindo II - Saat ini seluruh transaksi di Pelindo II sudah cashless.
  • 19:51 WIB. Pelindo II - Pelindo II sedang menyiapkan aplikasi digital.

Wah, Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi!

Foto Berita Wah, Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi!
Warta Ekonomi.co.id, New York -

Harga minyak naik ke level tertingginya dalam sepekan pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), didukung oleh prospek sanksi-sanksi AS terhadap Iran, meskipun perselisihan perdagangan antara Washington dan Beijing mempertahankan para pedagang dan analis berhati-hati.

Minyak berjangka memperpanjang keuntungan dalam perdagangan pasca-penyelesaian, setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS turun 5,2 juta barel pekan lalu, lebih dari tiga kali lipat perkiraan para analis, karena impor turun dan operasi pengilangan meningkat. Data resmi akan dirilis pada Rabu pukul 10.30 waktu setempat.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober naik 42 sen AS menjadi menetap di 72,63 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global itu, sebelumnya mencapai 72,95 dolar AS per barel, level tertinggi sejak 14 Agustus.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, kontrak teraktif, naik 42 sen AS menjadi ditutup di 65,84 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak September yang berakhir pada Selasa (21/8) ditutup 92 sen lebih tinggi menjadi 67,35 dolar AS per barel.

Premi WTI September terhadap kontrak Oktober melebar hingga 1,69 dolar AS per barel pada Selasa (21/8), setelah menyempit sejak awal Agustus. Terakhir berada di 1,50 dolar AS per barel.

Penguatan dalam selesih atau "spread" ini mengejutkan banyak pedagang, karena September biasanya dilihat sebagai bulan ketika persediaan mulai naik ketika kilang-kilang mulai merencanakan kegiatan pemeliharaan.

"Spread" bulan depan melebar secara signifikan pada Juli setelah penutupan tak terduga di fasilitas pasir minyak Kanada mengurangi aliran minyak mentah ke Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak berjangka AS.

Fasilitas Syncrude sejak itu mulai meningkatkan produksi minyak ringan, yang mengejutkan para pelaku pasar karena lebih awal dari yang diperkirakan dan menyebabkan mereka melakukan "short the market", kata Bob Yawger, direktur berjangka di Mizuho Americas.

Harga minyak telah naik dalam dua sesi terakhir setelah berminggu-minggu menurun akibat prospek pasokan minyak yang lebih rendah dari Iran. Amerika Serikat sedang berusaha menghentikan ekspor minyak Iran dalam upaya memaksa Teheran untuk merundingkan perjanjian nuklir baru dan untuk mengekang pengaruhnya di Timur Tengah.

Namun demikian, dampak penuh sanksi-sanksi terhadap Iran belum jelas.

Sementara sebagian besar perusahaan-perusahaan energi Eropa cenderung mengurangi minyak Iran sejalan dengan kebijakan Washington, China mengindikasikan akan terus membeli minyak Iran.

BNP Paribas mengatakan pihaknya memperkirakan produksi minyak dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), di mana Iran adalah anggotanya, turun dari rata-rata 32,1 juta barel per hari pada 2018 menjadi 31,7 juta pada 2019.

Namun, ekspor minyak dari Irak selatan berada di jalur untuk mencapai rekor tinggi lain bulan ini, dua sumber industri mengatakan, menambahkan hal itu menandai bahwa produsen terbesar kedua OPEC itu mengikuti kesepakatan kelompok untuk meningkatkan produksi.

Washington pada Senin (20/8) menawarkan 11 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategisnya untuk pengiriman mulai 1 Oktober hingga 30 November. Minyak yang dilepas dapat mengimbangi kekurangan pasokan yang diperkirakan dari sanksi-sanksi terhadap Iran.

Pasar juga terus mengamati perselisihan perdagangan AS-China, yang mengancam akan merusak pertumbuhan global dan, oleh karena itu, konsumsi komoditas industri.

Delegasi China dijadwalkan di Washington minggu ini untuk mencoba menyelesaikan perselisihan tersebut, tetapi Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Reuters pada Senin (20/8) bahwa dia tidak mengharapkan banyak kemajuan dan bahwa penyelesaian perselisihan akan "membutuhkan waktu." "Fakta bahwa ada negosiasi awal yang mungkin pada akhirnya mencapai beberapa resolusi pada hal ini adalah positif," kata Rob Thummel, manajer portofolio di manajer investasi energi, Tortoise Capital. "De-eskalasi daripada eskalasi perang perdagangan akan bermanfaat."

Tag: Minyak Mentah

Penulis: Redaksi WE Online/Ant

Editor: Clara Aprilia Sukandar

Foto: Reuters/Jorge Silva

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,766.77 3,728.54
British Pound GBP 1.00 18,468.44 18,283.99
China Yuan CNY 1.00 2,090.80 2,070.07
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,125.00 13,985.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,136.10 10,034.24
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,799.66 1,781.76
Dolar Singapura SGD 1.00 10,456.77 10,349.29
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,040.35 15,877.17
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,474.78 3,436.12
Yen Jepang JPY 100.00 12,744.74 12,615.01

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6512.784 18.117 627
2 Agriculture 1601.214 -11.059 21
3 Mining 1907.000 12.070 47
4 Basic Industry and Chemicals 893.650 14.153 71
5 Miscellanous Industry 1359.890 0.132 46
6 Consumer Goods 2660.281 3.855 51
7 Cons., Property & Real Estate 458.747 4.624 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1206.870 -9.689 71
9 Finance 1236.721 2.980 91
10 Trade & Service 825.628 2.708 155
No Code Prev Close Change %
1 LEAD 75 92 17 22.67
2 PSDN 222 260 38 17.12
3 MPPA 306 356 50 16.34
4 CSAP 520 600 80 15.38
5 NATO 515 590 75 14.56
6 AKSI 352 390 38 10.80
7 TALF 300 332 32 10.67
8 ARTA 890 980 90 10.11
9 INTP 18,000 19,500 1,500 8.33
10 SIPD 955 1,030 75 7.85
No Code Prev Close Change %
1 ALDO 2,510 1,900 -610 -24.30
2 PUDP 442 356 -86 -19.46
3 SIMA 300 250 -50 -16.67
4 YULE 208 175 -33 -15.87
5 TRIO 250 214 -36 -14.40
6 RELI 236 206 -30 -12.71
7 KONI 438 386 -52 -11.87
8 INCF 360 322 -38 -10.56
9 SMDM 188 170 -18 -9.57
10 CLAY 1,700 1,540 -160 -9.41
No Code Prev Close Change %
1 BMRI 7,200 7,100 -100 -1.39
2 FREN 288 284 -4 -1.39
3 JPFA 2,440 2,310 -130 -5.33
4 ANTM 1,025 1,060 35 3.41
5 BBCA 26,900 27,500 600 2.23
6 LEAD 75 92 17 22.67
7 TLKM 3,920 3,870 -50 -1.28
8 ADRO 1,295 1,345 50 3.86
9 GIAA 474 482 8 1.69
10 BBRI 3,910 3,890 -20 -0.51