Portal Berita Ekonomi Senin, 16 Desember 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:08 WIB. Peringkat Kemudahan Berbisnis - Singapura (2), Malaysia (12), Thailand (21), China (31), India (63), Vietnam (70), Indonesia (73), Filipina (95)
  • 08:55 WIB. Peringkat Anti Korupsi - Singapura (3), Malaysia (61), India (78), China (87), Indonesia (89), Filipina (99), Thailand (99), Vietnam (117)

CIPS: Bulog Sebagai Importir Tunggal Jagung Tak Efektif

CIPS: Bulog Sebagai Importir Tunggal Jagung Tak Efektif - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 21 Tahun 2018 memberikan wewenang kepada Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai pengimpor jagung untuk pakan ternak. Badan pangan pemerintah ini menjadi satu-satunya pihak yang berwenang melakukan impor tersebut. Sedangkan pihak swasta hanya diperbolehkan mengimpor jagung bagi kebutuhan konsumsi dan industri lain.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, peran Bulog sebagai importir tunggal untuk jagung pakan ternak tidak efektif. Ada beberapa alasan. Pertama, Bulog tidak bisa menjalankan peran sebagai stabilisator karena tidak mampu menentukan timing yang tepat untuk impor.

"Melihat sejarah kinerja, Bulog belum dapat mencapai target ini karena melakukan impor jagung ketika harga internasional sedang tinggi. Pada Oktober 2017, Bulog mengimpor 200.000 ton seharga Rp1.982.946 per ton. Harga ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya Rp1.948.244 per ton. Kalau Bulog dapat mengimpor pada September 2017, maka pemerintah dapat menghemat dana sebesar lebih dari Rp6 miliar," jelas Imelda dalam rilisnya kepada redaksi Warta Ekonomi, Kamis (23/8/2018).

Alasan berikutnya, kinerja Bulog tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik. Kondisi ini berpengaruh pada pemberian rekomendasi impor serta waktu Bulog dapat mengimpor jagung. Dilaporkan pada November 2017, 30.406 ton jagung impor belum didistribusikan oleh Bulog.

Distribusi jagung yang lambat bisa terjadi karena waktu impor yang tidak tepat. Misalnya, saat Bulog mendatangkan jagung impor ke Indonesia, petani jagung Tanah Air sedang dalam masa panen raya. Saat panen raya, suplai jagung melimpah dan harga domestik sedikit lebih murah ketimbang harga internasional.

Selain itu, Bulog belum merancang penentuan distribusi jagung. Hal ini dapat dilihat dari kejadian pada 2016, saat Bulog mendistribusikan suplai jagung ke empat kota, Jakarta, Surabaya, Medan, dan Lampung. Dari keempat kota ini, Jakarta mendapat jatah suplai paling banyak sebesar 100.000 ton jagung.

"Pengalokasian jagung di Jakarta dalam jumlah besar ini tidak tepat karena pada Januari 2017 dilaporkan persediaan jagung di gudang Bulog di Jakarta masih tersisa 80.000 ton. Jumlah ini menunjukkan jumlah jagung yang terserap hanya 20.000 ton," jelasnya.

Padahal, jika saat itu suplai langsung didistribusikan kepada pengusaha pakan ternak, pasti jagung akan langsung terserap. Kalau Bulog menyadari jumlah pabrik pakan ternak di Jakarta sedikit, maka rendahnya penyerapan jagung ini dapat terhindarkan.

Untuk itu, Imelda menyarankan, agar Bulog tidak menjadi satu-satunya pengimpor jagung untuk pakan ternak. Selain karena terbentur hal-hal yang sudah dijelaskan, adanya importir lain diharapkan dapat memberikan pilihan kepada pasar dan menghindarkan pasar dari kompetisi yang tidak sehat.

Baca Juga

Tag: Perum Bulog, Jagung

Penulis/Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Maulana Surya

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,747.08 3,709.59
British Pound GBP 1.00 18,951.81 18,757.67
China Yuan CNY 1.00 2,014.21 1,993.88
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,051.91 13,912.09
Dolar Australia AUD 1.00 9,726.73 9,622.99
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,800.56 1,782.46
Dolar Singapura SGD 1.00 10,394.96 10,285.44
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,708.63 15,550.93
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,395.00 3,357.16
Yen Jepang JPY 100.00 12,830.45 12,701.63

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6197.318 57.921 668
2 Agriculture 1424.860 10.203 20
3 Mining 1528.809 26.762 50
4 Basic Industry and Chemicals 976.378 16.198 77
5 Miscellanous Industry 1215.025 42.951 50
6 Consumer Goods 2023.673 9.223 56
7 Cons., Property & Real Estate 506.323 -1.997 83
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1122.442 14.680 76
9 Finance 1313.749 10.641 90
10 Trade & Service 768.113 0.709 166
No Code Prev Close Change %
1 ZBRA 72 97 25 34.72
2 IFII 300 374 74 24.67
3 TAMU 260 324 64 24.62
4 DWGL 180 218 38 21.11
5 UNIT 153 182 29 18.95
6 TIRA 214 252 38 17.76
7 MEGA 5,750 6,750 1,000 17.39
8 BIRD 2,470 2,890 420 17.00
9 NICK 260 300 40 15.38
10 SINI 1,200 1,350 150 12.50
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 79 52 -27 -34.18
2 IBFN 318 246 -72 -22.64
3 YULE 199 154 -45 -22.61
4 AMAG 302 234 -68 -22.52
5 LMSH 398 310 -88 -22.11
6 BIKA 197 160 -37 -18.78
7 BVIC 119 98 -21 -17.65
8 BKSW 172 142 -30 -17.44
9 PEGE 230 190 -40 -17.39
10 HERO 875 725 -150 -17.14
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,485 1,590 105 7.07
2 IPTV 505 510 5 0.99
3 TLKM 3,950 3,990 40 1.01
4 BNLI 1,310 1,275 -35 -2.67
5 TCPI 6,175 6,200 25 0.40
6 REAL 266 298 32 12.03
7 ADRO 1,475 1,590 115 7.80
8 BBRI 4,250 4,280 30 0.71
9 ASII 6,550 6,850 300 4.58
10 ACES 1,590 1,550 -40 -2.52