Portal Berita Ekonomi Senin, 19 November 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 13:23 WIB. IHSG - Mengakhiri pedagangan sesi I, IHSG memerah memerah 0,24% di level 5,997.60. 
  • 13:20 WIB. Gerindra - Bisa saja SBY tak perlu turun kampanyekan Prabowo-Sandiaga.
  • 13:20 WIB. Gerindra - Jadwal kampanye SBY bisa dipercepat sebelum Maret 2019.
  • 13:19 WIB. Gerindra - Kampanye SBY di Maret 2019, bukan suatu keterlambatan.
  • 13:17 WIB. Sandiaga - Ibu-ibu Wonosobo ingatkan suaminya berhenti merokok.
  • 13:17 WIB. Sandiaga - Saya ingatkan agar warga Wonosobo rajin berolahraga.
  • 13:17 WIB. Sandiaga - Biaya hidup naik maka belanja bakal berkurang, dan asupan protein anak tak tercukupi.
  • 13:14 WIB. Dahnil Simanjuntak -  Kampanye Prabowo-Sandi bakal berdampak meningkatkan elektabilitas Demokrat.
  • 13:14 WIB. Dahnil Anzar Simanjuntak - Saya yakin ada strategi jitu SBY menangkan Prabowo-Sandi.
  • 13:14 WIB. Dahnil Anzar Simanjuntak - SBY adalah politisi paling sukses sampai hari ini.
  • 13:11 WIB. PA 212 - Sejak dulu tidak ada istilah 'saksi mahkota' seperti yang dituduhkan Kapitra.
  • 13:11 WIB. PA 212 - Pernyataan Kapitra soal Ma'ruf Amin sebagai 'saksi mahkota' dapat menyesatkan publik.
  • 13:09 WIB. Sandiaga - Saat ini saya lagi menyusun jadwal kampanye dengan SBY dan AHY.
  • 13:09 WIB. Sandiaga - Mudah-mudahan sinergi SBY akan baik dan momentumnya tepat.
  • 13:09 WIB. Sandiaga - SBY itu adalah ahli strategi.

BI Belum Pertimbangkan Naikkan Suku Bunga Acuan Kembali

Foto Berita BI Belum Pertimbangkan Naikkan Suku Bunga Acuan Kembali
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), Hari ini, Jumat (24/8/2018), nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menyentuh level Rp14.655 per dolar AS. Lalu apa BI akan kembali menaikkan suku bunga acuannya bulan depan?

Menanggapi hal itu, Kepala Divisi Asesmen Makroekonomi BI, Fadjar Majardi, mengatakan pelemahan tersebut lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Adanya sinyal kuat kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate bulan depan menjadi salah satu penyebab lemahnya mata uang Garuda dari sisi eskternal, sementara dari domestik yakni para importir yang memborong valuta asing (valas) dan berakibat pada terganggunya suplai dolar AS.

"Ke depan respons tetap melihat perkembangannya (global dan domestik). Sepanjang indikator melihat butuh kenaikan suku bunga, maka akan dilakukan. Itu tidak serta merta melihat FFR naik suku bunga BI akan naik juga. Jadi tidak one on one," ujar Fadjar di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (24/8/2018).

Dikatakannya perhitungan suku bunga ke depan secara technical ada aturan dan rumusnya termasuk cara merespons kebijakan domestik.

"Jadi, kombinasinya banyak termasuk sekarang sudah mulai memerhatikan Current Account Deficit (CAD). Ruang ke depan tidak bisa dibilang ada ruang atau tidak karena melihat perkembangan," jelas Fadjar.

Bulan ini BI telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin atau menjadi 5,5%. Tujuannya untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman.

"Belum tahu. Nanti lihat data yang ada. Sekarang kami belum tahu," jelasnya.

Adapun data yang akan dipantau BI sebelum memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan adalah imbal hasil atau yield di pasar keuangan serta kenaikan suku bunga acuan pada negara lain.

"Banyak melihat yield di pasar keuangan, negara lain lakukan apa, dan internal lakukan apa," ungkapnya. 

Tag: Bank Indonesia (BI)

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Kumairoh

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6012.350 56.614 616
2 Agriculture 1444.624 20.661 20
3 Mining 1863.510 10.282 47
4 Basic Industry and Chemicals 792.445 13.262 71
5 Miscellanous Industry 1418.243 2.734 45
6 Consumer Goods 2347.362 0.220 49
7 Cons., Property & Real Estate 420.337 3.422 72
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1092.429 22.357 71
9 Finance 1137.981 14.830 91
10 Trade & Service 810.548 3.800 150
No Code Prev Close Change %
1 POLA 135 228 93 68.89
2 SOSS 1,560 1,950 390 25.00
3 SURE 2,350 2,930 580 24.68
4 RUIS 230 282 52 22.61
5 ARTO 158 190 32 20.25
6 TRUK 126 151 25 19.84
7 NUSA 254 294 40 15.75
8 ISSP 79 91 12 15.19
9 APEX 1,520 1,720 200 13.16
10 HOME 107 118 11 10.28
No Code Prev Close Change %
1 YULE 190 131 -59 -31.05
2 YPAS 690 525 -165 -23.91
3 AKPI 900 780 -120 -13.33
4 SQMI 248 216 -32 -12.90
5 RELI 280 246 -34 -12.14
6 TAMU 2,700 2,400 -300 -11.11
7 TIRA 154 138 -16 -10.39
8 UNIT 282 254 -28 -9.93
9 IDPR 775 700 -75 -9.68
10 HDTX 197 178 -19 -9.64
No Code Prev Close Change %
1 ESTI 108 99 -9 -8.33
2 BBRI 3,410 3,490 80 2.35
3 TLKM 3,910 4,050 140 3.58
4 BBCA 24,175 24,825 650 2.69
5 HMSP 3,480 3,420 -60 -1.72
6 WSKT 1,500 1,530 30 2.00
7 SMGR 10,300 11,000 700 6.80
8 KPAS 585 540 -45 -7.69
9 ERAA 1,725 1,840 115 6.67
10 BBTN 2,300 2,400 100 4.35