Portal Berita Ekonomi Senin, 17 Juni 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:19 WIB. London - Perusahaan yang listing di Inggris bisa jual saham di China mulai Senin (17/6).
  • 07:38 WIB. Hong Kong - Demonstran mengaku 2 juta orang, polisi: hanya 338 ribu.
  • 07:12 WIB. Huawei - Peluncuran ponsel lipat Huawei molor diduga imbas tekanan AS.
  • 06:50 WIB. NASA - NASA butuh Rp430 triliun untuk bawa kembali manusia ke Bulan.
  • 06:40 WIB. Jam - Startup asal Perancis buat chatbot bernama Jam yang bisa laporkan berita lewat chatting.
  • 06:31 WIB. Oppo - Hari ini seri Oppo Reno melenggang ke Indonesia.
  • 06:20 WIB. Holitech - Holitech Technology, pemasok Xiaomi, buka pabrik pertamanya di India.
  • 06:10 WIB. Apple - Apple segera rilis tujuh MacBook anyar.
  • 00:04 WIB. Jerusalem - Sara Netanyahu,  istri PM Israel, didenda karena penyalahgunaan uang negara.
  • 23:42 WIB. Samsung - Samsung akan mengejar jaringan mobile 6G dan system semiconductor.
  • 23:11 WIB. Aramco - Mohammed Bin Salman mengatakan bahwa rencana IPO Aramco sesuai jadwal.
  • 22:27 WIB. Opel - Otoritas Jerman memerintahkan menarik 210 ribu Opel yang tingkat emisinya lewat standar.
  • 22:04 WIB. Amerika Selatan - Minggu pagi listrik mati total di seantero Argentina dan Uruguay.
  • 21:46 WIB. Juventus - Maurizio Sarri resmi bergabung Juventus.
  • 21:31 WIB. Paris - Boeing minta pengurangan waktu dan scope untuk test fisik pesawat baru.

Fintech Bakal Beri Dampak Ekonomi Besar, Asal....

Fintech Bakal Beri Dampak Ekonomi Besar, Asal.... - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Berkembangnya teknologi finansial atau financial technology (fintech) diyakini harus diiringi dengan pengawasan yang kuat dan sehat. Ironisnya, sejauh ini hal tersebut belum dapat terwujud. Pengawasan fintech oleh regulator di Indonesia justru dinilai baru sebatas meregistrasi penyelengara fintech.

Regulasi yang masih belum terlalu mumpuni tersebut disayangkan karena seolah mengesampingkan potensi ekonomi dari bisnis fintech. Selain itu, seakan membiarkan fintech liar bermain di ruang gelap.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyarankan pemerintah memberikan kemudahan dan perlakuan khusus untuk industri fintech agar lebih berkembang. Ini juga agar fintech yang terdaftar semakin banyak, sehingga kegiatannya bisa terawasi lebih optimal.

"Ngurusin fintech itu kayak main layangan. Kalau kita terlalu ketat regulasinya, inovasinya enggak akan jelas. Kalau kita terlalu lurus, nanti ada efek pengawasan lemah. Jadi harus diperbaiki ke depannya," tuturnya  kepada wartawan, Selasa (28/8/218).

Bhima melihat harus ada perlakuan yang berbeda jika ingin mendukung fintech. Sebagai contoh, perlu ada relaksasi regulasi yang memudahkan penyelenggara fintech lending untuk mendapatkan nasabah baru. Misanya, dengan kemudahan regulasi tanda tangan digital.

Perlu juga kejelasan regulasi terkait kolaborasi antara perbankan dengan lembaga keuangan lain, seperti perbankan. Tidak lupa, perlu ada insentif perpajakan, khususnya bagi fintech yang bergerak di sektor pendanaan produktif yang bisa memberikan efek ekonomi lebih besar.

Sebagai pemain di industri baru ini, CEO sekaligus Co-Founder Koinworks, Benedicto Haryono berharap pemerintah bisa lebih memberi kemudahan bagi fintech, khususnya dalam pemerolehan izin.

Jangan sampai aturan dibuat terlalu ketat hingga sama seperti regulasi perbankan. Baiknya, Benedicto menyatakan, aturan soal fintech lebih ringan daripada sektor perbankan dan lebih mengarah ke hal-hal fundamental.

"Ini yang menurut saya bagusnya dari regulator fokus ke hal tersebut daripada menambah peraturan-peraturan baru. Fokus pada fundamental, basis, pengawasan," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Ajisatria Suleiman menambahkan, untuk memperkuat peran fintech, tidak terkecuali dalam perekonomian, diperlukan kebijakan yang mampu menekan biaya akusisi nasabah, meminimalisasi risiko penipuan, dan dapat konsumen beriktikad baik.

"Ke depannya, kami berharap risiko fraud dari nasabah palsu dan risiko gagal bayar dapat diminimalisasi dengan penguatan akses identitas berbasis biometrik dan juga akses ke layanan biro kredit," kata Aji.

Ia mengungkapkan, saat ini sudah ada pengaturan di OJK terkait e-Knowing Your Customer (e-KYC) dan informasi kredit. Namun, masih dibutuhkan implementasi di level teknis, terutama yang bersifat lintas kementerian. Contohnya dengan Kemendagri dan Kemenkominfo.

Berdasarkan kajian Indef bersama dengan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), perkembangan fintech di Indonesia mampu meningkatkan PDB sebesar Rp25,97 triliun, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, konsumsi rumah tangga mampu meningkat hingga Rp8,94 triliun.

"Ini sektor yang baru 5 tahun terakhir tumbuh, tapi impact terhadap ekonomi luar biasa besar," ucap Bhima.

Hasil kajian tersebut menyebutkan, pertumbuhan fintech tersebut mampu menyerap tenaga kerja. Bhima mengatakan, di sisi dunia usaha, kompensasi tenaga kerja, baik berbentuk gaji dan upah mampu meningkat sebesar Rp4,56 triliun, dengan sektor yang mengalami kenaikan adalah sektor perdagangan, keuangan, dan asuransi.

Menurutnya, ketiga sektor ini mempunyai peran langsung dalam pengembangan fintech.

"Selain itu, kehadiran fintech mampu menyumbang penyerapan tenaga kerja sebesar 215.433 orang yang tidak hanya dari sektor-sektor tersier, namun sektor primer seperti pertanian, juga mengalami penyerapan tenaga kerja yang cukup besar, 9.000 orang," ujar Bhima.

Ke depannya, dampak ekonomi dari fintech diyakininya akan makin besar. Terlihat dari cepatnya perkembangan fintech dari jumah penyaluran dana industri baru ini. Pada 2016, penyaluran dana fintech baru Rp200 miliar.

Kemudian, angkanya melejit menjadi Rp7,64 triliun pada Juni 2016. Karena itulah, kata Bhima, penting bagi pemerintah untuk terus mendukung industri fintech, mengingat dampak ekonominya yang tidak kecil.

"Semakin fintech lending didorong, efeknya ke konsumsi rumah tangga cukup meningkat," kata Bhima.

Gara-gara fintech, konsumsi rumah tangga, menurut Bhima, meningkat hingga Rp8,94 triliun. seperti diketahui, sejauh ini konsumsi rumah tangga masih merupakan salah satu pembentuk utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Badan Pusat Statisik (BPS) bahkan menyatakan, dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27% pada triwulan II-2018, sebanyak 2,76%-nya disumbang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Untuk diketahui, besarnya dampak dari fintech tersebut, sebenarnya belum semua terungkap. Pasalnya, kontribusi sebesar Rp25,97 triliun dari fintech hanya dihitung dari 66 fintech yang sudah terdaftar di OJK. Di sisi lain, masih banyak penyelenggara fintech lain yang berada di luar pengawasan OJK.

Tag: Industri Fintech

Penulis: Annisa Nurfitriyani

Editor: Rosmayanti

Foto: Fajar Sulaiman

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,833.29 3,794.69
British Pound GBP 1.00 18,221.58 18,037.64
China Yuan CNY 1.00 2,085.38 2,064.49
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,376.00 14,232.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,919.44 9,818.66
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,836.30 1,817.72
Dolar Singapura SGD 1.00 10,514.92 10,408.07
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,217.57 16,049.43
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,450.79 3,412.95
Yen Jepang JPY 100.00 13,273.01 13,136.42

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6250.265 -22.817 634
2 Agriculture 1381.568 2.869 21
3 Mining 1615.278 -7.605 47
4 Basic Industry and Chemicals 754.477 -6.774 71
5 Miscellanous Industry 1288.864 -12.078 46
6 Consumer Goods 2447.202 -13.399 52
7 Cons., Property & Real Estate 471.828 -7.072 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1172.323 -2.911 74
9 Finance 1268.081 -0.098 90
10 Trade & Service 809.462 0.526 157
No Code Prev Close Change %
1 SIMA 83 112 29 34.94
2 LUCK 1,200 1,500 300 25.00
3 KPAL 210 262 52 24.76
4 GOLD 402 496 94 23.38
5 SDRA 710 850 140 19.72
6 MAYA 6,250 7,475 1,225 19.60
7 KONI 284 338 54 19.01
8 ABMM 1,695 1,950 255 15.04
9 SKBM 412 464 52 12.62
10 APLN 171 191 20 11.70
No Code Prev Close Change %
1 FITT 290 230 -60 -20.69
2 MPMX 1,090 890 -200 -18.35
3 MKPI 16,500 13,500 -3,000 -18.18
4 HELI 202 167 -35 -17.33
5 MIDI 1,200 1,020 -180 -15.00
6 MEGA 5,950 5,100 -850 -14.29
7 DNAR 292 252 -40 -13.70
8 TALF 410 358 -52 -12.68
9 PYFA 193 170 -23 -11.92
10 RELI 216 191 -25 -11.57
No Code Prev Close Change %
1 SMBR 925 1,030 105 11.35
2 FITT 290 230 -60 -20.69
3 MNCN 1,235 1,300 65 5.26
4 JAYA 135 129 -6 -4.44
5 BTPS 2,950 3,080 130 4.41
6 BBRI 4,200 4,230 30 0.71
7 MPMX 1,090 890 -200 -18.35
8 CPIN 4,950 4,700 -250 -5.05
9 TLKM 3,990 3,990 0 0.00
10 BDMN 4,720 4,510 -210 -4.45