Portal Berita Ekonomi Sabtu, 15 Desember 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Rupiah Sentuh Level Terendah, Dipicu Gejolak Turki dan Argentina

Foto Berita Rupiah Sentuh Level Terendah, Dipicu Gejolak Turki dan Argentina
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hari ini melemah hingga ke level Rp14.840 per dollar AS. Chief Market Strategist ForexTime, Hussein Sayed, menyebut rupiah merosot ke level terendah terhadap Dolar sejak krisis keuangan Asia 1998 di tengah ketegangan dagang yang memburuk.

Hussein menjelaskan, aksi jual brutal Lira Turki dan Peso Argentina juga sangat berperan pada depresiasi drastis Rupiah. Gejolak di Turki dan Argentina memicu ketidakpastian, sehingga mata uang pasar berkembang dapat semakin melemah.

“Walaupun Bank Indonesia (BI) menyatakan telah mengintervensi pasar valas dan pasar obligasi, tekanan eksternal dalam bentuk ekspektasi kenaikan suku bunga AS dapat terus memperburuk situasi bagi Rupiah,” ujarnya Selasa (4/9/2018).

Menurutnya, BI mungkin terpaksa menaikkan suku bunga lagi guna berusaha menanggulangi depresiasi Rupiah.

“Kenaikan suku bunga mungkin dapat membantu Rupiah, namun juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tandasnya.

Menurutnya, pekan lalu, investor berharap bahwa perkembangan positif antara AS - Meksiko dapat meluas ke Kanada, Eropa, dan mungkin China. Optimisme ini terpaksa sirna ketika AS gagal mencapai kesepakatan dengan Kanada di hari Jumat. Presiden Donald Trump mengancam bahwa apabila kesepakatan yang adil tidak tercapai, Kanada akan dikeluarkan dan apabila Kongres mengintervensi, ia akan menghentikan NAFTA.

Menurutnya, Trump juga mungkin memperburuk perang dagang apabila ia memutuskan untuk menerapkan tarif terhadap $200 miliar barang China. Ini bisa saja terjadi saat periode komentar publik berakhir pada hari Kamis. Beijing menyatakan akan membalas dengan tarif terhadap $60 miliar barang AS.

“Jika ini terjadi, hampir 85% barang AS yang dikirim ke China akan terkena tarif. Sementara itu, separuh dari impor China yang totalnya $505 miliar akan terpengaruh,” tambahnya.

Sementara, Shanghai Composite dan CSI300 merosot lebih dari 1% di hari Senin, dan walaupun valuasi mulai terlihat relatif murah, investor mungkin terus menjual saham China karena ketidakpastian mengenai keberlanjutan perang dagang dan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi.  Ini mungkin saat yang tepat untuk investor yang ingin memasuki value investing jangka panjang. Pasar juga mungkin akan melihat penurunan pada saham AS saat trading dimulai di hari Selasa karena selera risiko berkurang.

Adapun, data hari Senin menunjukkan bahwa sektor manufaktur China tumbuh dengan laju paling lambat dalam 14 bulan di bulan Agustus. PMI Manufaktur Caixin/Markit melemah ke 50.6 bulan lalu, karena order ekspor merosot selama lima bulan berturut-turut. Meninjau indeks PMI yang mengalami kontraksi, kita perlu melihat langkah apa yang diambil pembuat kebijakan untuk mendorong pertumbuhan.

“Di Eropa, investor juga akan mencari bukti apakah ketegangan dagang akan menekan data PMI final yang sedikit menguat bulan lalu di Jerman dan Prancis.  PMI manufaktur Inggris akan menjadi sorotan utama investor, karena Pound merosot di bawah 1.3 terhadap Dolar,” pungkasnya.

Tag: Nilai Tukar Rupiah

Penulis: Annisa Nurfitriyani

Editor: Kumairoh

Foto: Antara/Wahyu Putro A

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6169.843 -7.877 621
2 Agriculture 1522.036 5.966 20
3 Mining 1764.925 -11.589 47
4 Basic Industry and Chemicals 841.598 -5.250 71
5 Miscellanous Industry 1418.274 -2.043 46
6 Consumer Goods 2529.665 13.782 49
7 Cons., Property & Real Estate 454.173 -0.929 73
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1056.334 -5.796 71
9 Finance 1173.614 -2.714 91
10 Trade & Service 791.592 0.061 153
No Code Prev Close Change %
1 ZONE 555 690 135 24.32
2 GLOB 182 226 44 24.18
3 PADI 655 810 155 23.66
4 YPAS 610 750 140 22.95
5 PNSE 935 1,100 165 17.65
6 KICI 260 300 40 15.38
7 RIMO 151 172 21 13.91
8 KINO 2,470 2,810 340 13.77
9 ETWA 72 79 7 9.72
10 PTSN 880 965 85 9.66
No Code Prev Close Change %
1 KONI 450 340 -110 -24.44
2 SQMI 418 316 -102 -24.40
3 SSTM 510 396 -114 -22.35
4 SOTS 545 444 -101 -18.53
5 MTSM 228 202 -26 -11.40
6 GDYR 2,140 1,900 -240 -11.21
7 META 244 220 -24 -9.84
8 TRAM 180 165 -15 -8.33
9 INCF 242 222 -20 -8.26
10 ASJT 380 350 -30 -7.89
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 360 352 -8 -2.22
2 TLKM 3,750 3,730 -20 -0.53
3 BBRI 3,680 3,680 0 0.00
4 KPAS 705 705 0 0.00
5 RIMO 151 172 21 13.91
6 TRAM 180 165 -15 -8.33
7 ADRO 1,280 1,285 5 0.39
8 BHIT 61 61 0 0.00
9 MERK 7,200 7,500 300 4.17
10 ASII 8,450 8,450 0 0.00