Portal Berita Ekonomi Rabu, 19 Juni 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:02 WIB. IHSG - IHSG ditutup hiaku 1,31% di akhir sesi II.
  • 14:47 WIB. Uber - Uber pertahankan aplikasi Careem di Timur Tengah.
  • 14:45 WIB. Ganja - Mike Tyson berencana membangun resort ganja di kompleks seluas 407 hektare.
  • 14:38 WIB. Tokopedia - Tokopedia resmi akuisisi startup Bridgestory.
  • 14:22 WIB. Facebook - DPR AS minta Facebook tunda pengembangan uang kriptonya yang bernama Libra.
  • 12:52 WIB. Nissan - Perancis desak Renault dukung reformasi Nissan.
  • 12:36 WIB. Huawei - Huawei janjikan duit kembali jika ponselnya tak bisa gunakan WhatsApp cs.
  • 12:21 WIB. Xiaomi - Beli gedung di Beijing, Xiaomi mau pindah markas.
  • 12:00 WIB. IHSG - IHSG ditutup menguat 0,86% di akhir sesi I.
  • 11:47 WIB. Apple - iPhone 5G Apple diperkirakan baru meluncur tahun depan.
  • 11:28 WIB. Gaming - Pasar electronic gaming global naik 9,6% menjadi US$152,1 miliar di tahun 2019.
  • 11:08 WIB. Berlin - Jerman akam membeli 3 jet bombardier senilai US$268,51 juta.
  • 09:00 WIB. Washington - DPR AS minta Facebook menunda uang kriptonya.

Dolar AS Menguat atau Rupiah Melemah?

Dolar AS Menguat atau Rupiah Melemah? - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Belum selesai euforia positif pasca-Asian Games 2018 yang gegap gempita, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh berita ekonomi di mana nilai tukar rupiah tidak berdaya oleh kekuatan dolar Amerika Serikat. Akhirnya, dolar AS menembus angka Rp15.000. Terjadi pergunjingan di mana-mana termasuk di WA grup dan Telegram Grup serta media sosial tentang ke mana arah pergerakan ini?

Televisi, radio, koran, dan media online sibuk memberitakan hal ini. Ada yang menyatakan dolar AS menguat terus dan menyalahkan Amerika serta negara lain, dan ada yang menyatakan memang rupiahnya saja yang melemah. Pertanyaan orang awam adalah sebenarnya apa yang terjadi? Dolar AS yang menguat atau rupiah yang melemah?

Untuk menjawab secara fair kita harus melihat dari dua sisi, yaitu dolar AS dan rupiah Indonesia. Selain rumor dan persepsi, suatu mata uang dari suatu negara akan menguat apabila terdapat fundamental ekonomi yang bagus. Nah, fundamental ekonomi ini banyak sekali indikatornya.

Beberapa yang sering dipakai oleh pakar ekonomi antara lain adalah: GDP dari suatu negara, ekspor vs impor termasuk defisit neraca perdagangan dan defisit neraca pembayaran, inflasi, suku bunga, jumlah pengangguran, cadangan devisa, dan banyak indikator lain. Demikian juga sebaliknya, ketika indikator di atas memburuk atau jelek, biasanya mata uang negara tersebut melemah alias turun nilainya.

Nah, ketika dolar AS naik yang terjadi memang secara fundamental dari negara adidaya tersebut membaik. Presiden Trump dengan janji kampanyenya: Make America Great Again sudah mulai menunjukan kuku-nya. Belum lagi perang dagang antara AS dengan China membuat negeri Tirai Bambu harus membuat strategi ulang.

Kondisi global ekonomi yang "dianggap membaik" kemudian menimbulkan reaksi naiknya nilai tukar dolar AS dibandingkan dengan seluruh mata uang lain di dunia.

Kalau diperhatikan dari berita-berita dan data secara Internasional, mata uang rupiah Indonesia menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk melawan Amerika Serikat, meskipun ada yang membandingkan bahwa rupiah masih jauh lebih baik daripada Lira Turki, itu lain cerita. Nah, sampai di sini kita kemudian bertanya, ada apa?

Kalau membaca data-data ekonomi dan melihat kondisi pasar di mana ekonomi melemah, asing yang keluar dari bursa, kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan dan lain sebagainya, kemungkinan besar telah menyebabkan mata uang rupiah juga melemah.

Jadi dalam satu kejadian terjadi dua kutub yang saling tarik-menarik, satu ke atas (dolar AS) dan satu ke bawah (rupiah). Itulah sebabnya tidak heran kita melihat kenaikan yang sangat cepat dari dolar Amerika Serikat ke rupiah dibandingkan negara-negara lain di regional dan dunia.

Pertanyaannya adalah: lantas harus bagaimana menghadapi kondisi seperti ini? Jawabannya adalah seperti jawaban saya pada 1,5 tahun terakhir yaitu cash is the king. Strategi ini adalah strategi bertahan sambil bersiap bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (kalau investor jangka panjang justru malah diinginkan nih).

Apa saja itu? Hal-hal ini yang bisa dilakukan

1. Jangan buat utang baru;

2. Kurangi atau minimalkan pengeluaran yang bersifat konsumtif;

3. Simpan dana Anda di tempat yang sewaktu-waktu bisa ditarik tapi tahan terhadap inflasi seperti misalnya emas;

4. Perhatikan dana darurat Anda, penuhi jumlahnya, bila ada yang terpakai segera cicil kembali;

5. Perhatikan asuransi Anda, bila premi jatuh tempo segera bayar preminya secara tahunan, jangan bulanan;

6. Anda yang bermain saham agar berhati-hati, trading jangka pendek sekali jangan sampai "terkunci", jangan takut cut loss;

7. Anda yang investasi jangka panjang, teruskan dolar cost averaging Anda, tapi untuk dana baru fresh jangan dulu;

8. Hiduplah secara sederhana, jangan foya-foya;

9. Wait and see, lihat keadaan.

Seperti apa penjelasannya? Nanti akan saya bahas secara panjang lebar di tulisan sambungan berikutnya.

Tag: Rupiah, Dolar Amerika Serikat (AS)

Penulis: Aidil Akbar Madjid, Financial Advisor

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,824.23 3,785.66
British Pound GBP 1.00 18,022.16 17,842.30
China Yuan CNY 1.00 2,081.78 2,061.17
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,342.00 14,200.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,864.43 9,763.92
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,832.47 1,814.21
Dolar Singapura SGD 1.00 10,487.75 10,382.39
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,060.17 15,898.32
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,435.21 3,398.76
Yen Jepang JPY 100.00 13,219.65 13,085.15

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6257.330 66.805 635
2 Agriculture 1388.988 1.248 21
3 Mining 1588.662 -10.722 46
4 Basic Industry and Chemicals 739.579 -1.105 71
5 Miscellanous Industry 1295.411 16.430 47
6 Consumer Goods 2445.115 29.514 52
7 Cons., Property & Real Estate 483.431 15.801 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1172.946 11.538 74
9 Finance 1278.843 17.757 90
10 Trade & Service 802.333 2.985 158
No Code Prev Close Change %
1 BOLA 296 370 74 25.00
2 SMBR 785 980 195 24.84
3 DUTI 3,820 4,750 930 24.35
4 KONI 372 436 64 17.20
5 MKPI 13,600 15,925 2,325 17.10
6 HELI 167 195 28 16.77
7 MIDI 1,020 1,190 170 16.67
8 MNCN 975 1,130 155 15.90
9 BMTR 360 406 46 12.78
10 PICO 268 300 32 11.94
No Code Prev Close Change %
1 BLTZ 4,950 3,800 -1,150 -23.23
2 INPP 995 800 -195 -19.60
3 ARMY 268 220 -48 -17.91
4 FITT 173 143 -30 -17.34
5 NICK 278 236 -42 -15.11
6 SDMU 72 62 -10 -13.89
7 SOSS 430 378 -52 -12.09
8 SMRU 176 156 -20 -11.36
9 KBLV 410 364 -46 -11.22
10 BUVA 112 100 -12 -10.71
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 975 1,130 155 15.90
2 CCSI 250 246 -4 -1.60
3 BMTR 360 406 46 12.78
4 CENT 90 95 5 5.56
5 BBRI 4,200 4,260 60 1.43
6 TLKM 3,900 3,980 80 2.05
7 WEGE 314 332 18 5.73
8 BDMN 4,250 4,110 -140 -3.29
9 POLY 100 99 -1 -1.00
10 SMRU 176 156 -20 -11.36