Portal Berita Ekonomi Selasa, 13 November 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:41 WIB. Garuda - Garuda menjadi satu-satunya maskapai di Asia Tenggara yang masuk dalam 5 besar maskapai global.
  • 09:41 WIB. Divestasi - PT Semen Indonesia terima fasilitas pinjaman US$1,282 untuk akuisisi saham Holcim Indonesia.
  • 09:40 WIB. Divestasi - LafargeHolcim divestasikan 80,6% ke PT Holcim Indonesia senilai US$1,75 miliar.
  • 09:40 WIB. SMGR - Semen Indonesia telah mengakuisisi 80,6% saham Holcim Indonesia.
  • 09:40 WIB. IHSG - IHSG dibuka menguat 0,28% di perdagangan Senin pagi.
  • 09:40 WIB. Limbah - Kawasan Industri Suryacipta Karawang resmi gunakan tekonolgi pengolahan limbah modern berkapasitas 5.000 m3 per hari.
  • 09:17 WIB. Apple - iPhone 2019 bakal didukung jaringan 5G.
  • 09:15 WIB. Microsoft - Microsoft ingin akuisisi developer game Fallout.
  • 09:11 WIB. Samsung - Samsung siapkan 1 juta smartphone layar lipat tahun depan.
  • 09:11 WIB. Bukalapak - Bukalapak prediksi kantongi izin e-money tahun depan.
  • 09:10 WIB. LG - Gambar panel depan LG Q9 beredar di dunia maya.
  • 09:03 WIB. Bolt - Rudiantara ingatkan Bolt bisa setop operasi jika tak bayar frekuensi.
  • 09:00 WIB. Stan Lee - Stan Lee meninggal dunia, netizen pecinta Marvel berduka.
  • 08:56 WIB. Telekomunikasi - Pembajakan SDM marak terjadi di industri telekomunikasi.
  • 08:55 WIB. Siber - 51 negara dukung aturan keamanan dunia siber global.

Dolar AS Menguat atau Rupiah Melemah?

Foto Berita Dolar AS Menguat atau Rupiah Melemah?
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Belum selesai euforia positif pasca-Asian Games 2018 yang gegap gempita, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh berita ekonomi di mana nilai tukar rupiah tidak berdaya oleh kekuatan dolar Amerika Serikat. Akhirnya, dolar AS menembus angka Rp15.000. Terjadi pergunjingan di mana-mana termasuk di WA grup dan Telegram Grup serta media sosial tentang ke mana arah pergerakan ini?

Televisi, radio, koran, dan media online sibuk memberitakan hal ini. Ada yang menyatakan dolar AS menguat terus dan menyalahkan Amerika serta negara lain, dan ada yang menyatakan memang rupiahnya saja yang melemah. Pertanyaan orang awam adalah sebenarnya apa yang terjadi? Dolar AS yang menguat atau rupiah yang melemah?

Untuk menjawab secara fair kita harus melihat dari dua sisi, yaitu dolar AS dan rupiah Indonesia. Selain rumor dan persepsi, suatu mata uang dari suatu negara akan menguat apabila terdapat fundamental ekonomi yang bagus. Nah, fundamental ekonomi ini banyak sekali indikatornya.

Beberapa yang sering dipakai oleh pakar ekonomi antara lain adalah: GDP dari suatu negara, ekspor vs impor termasuk defisit neraca perdagangan dan defisit neraca pembayaran, inflasi, suku bunga, jumlah pengangguran, cadangan devisa, dan banyak indikator lain. Demikian juga sebaliknya, ketika indikator di atas memburuk atau jelek, biasanya mata uang negara tersebut melemah alias turun nilainya.

Nah, ketika dolar AS naik yang terjadi memang secara fundamental dari negara adidaya tersebut membaik. Presiden Trump dengan janji kampanyenya: Make America Great Again sudah mulai menunjukan kuku-nya. Belum lagi perang dagang antara AS dengan China membuat negeri Tirai Bambu harus membuat strategi ulang.

Kondisi global ekonomi yang "dianggap membaik" kemudian menimbulkan reaksi naiknya nilai tukar dolar AS dibandingkan dengan seluruh mata uang lain di dunia.

Kalau diperhatikan dari berita-berita dan data secara Internasional, mata uang rupiah Indonesia menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk melawan Amerika Serikat, meskipun ada yang membandingkan bahwa rupiah masih jauh lebih baik daripada Lira Turki, itu lain cerita. Nah, sampai di sini kita kemudian bertanya, ada apa?

Kalau membaca data-data ekonomi dan melihat kondisi pasar di mana ekonomi melemah, asing yang keluar dari bursa, kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan dan lain sebagainya, kemungkinan besar telah menyebabkan mata uang rupiah juga melemah.

Jadi dalam satu kejadian terjadi dua kutub yang saling tarik-menarik, satu ke atas (dolar AS) dan satu ke bawah (rupiah). Itulah sebabnya tidak heran kita melihat kenaikan yang sangat cepat dari dolar Amerika Serikat ke rupiah dibandingkan negara-negara lain di regional dan dunia.

Pertanyaannya adalah: lantas harus bagaimana menghadapi kondisi seperti ini? Jawabannya adalah seperti jawaban saya pada 1,5 tahun terakhir yaitu cash is the king. Strategi ini adalah strategi bertahan sambil bersiap bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (kalau investor jangka panjang justru malah diinginkan nih).

Apa saja itu? Hal-hal ini yang bisa dilakukan

1. Jangan buat utang baru;

2. Kurangi atau minimalkan pengeluaran yang bersifat konsumtif;

3. Simpan dana Anda di tempat yang sewaktu-waktu bisa ditarik tapi tahan terhadap inflasi seperti misalnya emas;

4. Perhatikan dana darurat Anda, penuhi jumlahnya, bila ada yang terpakai segera cicil kembali;

5. Perhatikan asuransi Anda, bila premi jatuh tempo segera bayar preminya secara tahunan, jangan bulanan;

6. Anda yang bermain saham agar berhati-hati, trading jangka pendek sekali jangan sampai "terkunci", jangan takut cut loss;

7. Anda yang investasi jangka panjang, teruskan dolar cost averaging Anda, tapi untuk dana baru fresh jangan dulu;

8. Hiduplah secara sederhana, jangan foya-foya;

9. Wait and see, lihat keadaan.

Seperti apa penjelasannya? Nanti akan saya bahas secara panjang lebar di tulisan sambungan berikutnya.

Tag: Rupiah, Dolar Amerika Serikat (AS)

Penulis: Aidil Akbar Madjid, Financial Advisor

Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,951.32 3,911.55
British Pound GBP 1.00 19,179.86 18,982.46
China Yuan CNY 1.00 2,133.25 2,111.95
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,821.00 14,673.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,724.48 10,614.45
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,891.86 1,872.89
Dolar Singapura SGD 1.00 10,751.54 10,642.63
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,790.71 16,617.17
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,542.30 3,504.42
Yen Jepang JPY 100.00 13,003.16 12,872.18

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5777.053 -97.101 615
2 Agriculture 1471.193 -20.031 20
3 Mining 1850.021 -9.803 47
4 Basic Industry and Chemicals 741.527 -8.068 71
5 Miscellanous Industry 1323.857 -43.137 45
6 Consumer Goods 2255.249 -57.850 49
7 Cons., Property & Real Estate 410.436 -6.394 72
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1055.398 -2.343 71
9 Finance 1087.300 -19.593 90
10 Trade & Service 790.700 -12.910 150
No Code Prev Close Change %
1 DIGI 1,400 1,750 350 25.00
2 SOSS 800 1,000 200 25.00
3 TCPI 6,300 7,550 1,250 19.84
4 SSTM 384 460 76 19.79
5 IBST 8,200 9,800 1,600 19.51
6 TAMU 2,300 2,700 400 17.39
7 DUCK 1,475 1,665 190 12.88
8 HELI 104 117 13 12.50
9 AKPI 810 900 90 11.11
10 SATU 124 137 13 10.48
No Code Prev Close Change %
1 PSDN 210 178 -32 -15.24
2 KBLV 452 402 -50 -11.06
3 LPPF 5,275 4,760 -515 -9.76
4 DPNS 332 300 -32 -9.64
5 ASJT 340 312 -28 -8.24
6 ABMM 2,200 2,020 -180 -8.18
7 TIRA 151 140 -11 -7.28
8 SSIA 472 438 -34 -7.20
9 PTPP 1,565 1,460 -105 -6.71
10 ARII 975 910 -65 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 HMSP 3,400 3,300 -100 -2.94
2 ESTI 94 96 2 2.13
3 UNVR 40,325 39,375 -950 -2.36
4 BBRI 3,340 3,280 -60 -1.80
5 PGAS 2,110 2,070 -40 -1.90
6 SATU 124 137 13 10.48
7 ADRO 1,580 1,510 -70 -4.43
8 TKIM 10,550 10,625 75 0.71
9 SRIL 360 360 0 0.00
10 UNTR 34,900 33,075 -1,825 -5.23